Rabu, 26 Agustus 2026

Pengantar

 


Selamat Datang di Ruang Belajar Kita

Salam damai dan sukacita dalam Kristus. 🙏

Halo teman-teman! Selamat datang di blog pembelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti.

Blog ini dibuat sebagai ruang belajar bersama bagi peserta didik, guru, dan siapa saja yang ingin mengenal dan mendalami iman Katolik dengan cara yang lebih sederhana, menarik, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Di sini, kita tidak hanya akan menemukan materi pelajaran. Ada berbagai bahan belajar, refleksi iman, Kitab Suci, aktivitas dan tugas, doa, renungan, serta sumber-sumber lain yang dapat membantu kita belajar dan bertumbuh bersama.

Karena belajar agama bukan hanya tentang “tahu”, tetapi juga tentang bagaimana kita menghidupi apa yang kita percaya. Kita belajar mengenal Yesus, tetapi juga belajar menjadi seperti yang diajarkan-Nya: mampu mengasihi, mengampuni, peduli kepada sesama, menjaga ciptaan Tuhan, berani berbuat baik, dan menjadi terang bagi orang lain.

Bagi teman-teman peserta didik, jadikan blog ini sebagai teman belajar. Kalian boleh membaca, mencari materi, merenung, bertanya, berdiskusi, dan menemukan hal-hal baru tentang iman dan kehidupan.

Bagi para guru, semoga ruang sederhana ini dapat menjadi salah satu teman dalam menyiapkan dan mengembangkan pembelajaran yang bermakna, kontekstual, dan menyenangkan bagi peserta didik.

Blog ini tentu belum sempurna. Karena itu, mari kita menjadikannya sebagai ruang yang terus bertumbuh. Jika ada ide, masukan, atau hal-hal yang dapat dikembangkan, jangan ragu untuk menyampaikannya.

Pada akhirnya, semoga setiap kali kita membuka halaman blog ini, kita tidak hanya pulang membawa pengetahuan baru, tetapi juga membawa inspirasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Belajar iman, bertumbuh dalam kasih, dan mewujudkannya dalam kehidupan.

Selamat belajar, selamat berefleksi, dan selamat bertumbuh bersama.

Tuhan memberkati setiap langkah kita. ✝️

Guru Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti

Januarius Carvallo,S.Ag

Iman sebagai Tanggapan atas Karya Keselamatan Allah

 

Mengapa materi ini perlu dipelajari?

Agar kita mampu memahami makna hidup beriman sesuai ajaran Yesus dan mampu melakukan tindakan konkrit sebagai perwujudan iman sehingga kita mampu menunjukkan sikap taat dalam menjalankan kehidupan beriman.

 Ayat yang perlu direnungkan :

“Iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.” (Yak. 2:26)

Allah sebagai sumber keselamatan sejati selalu menawarkan kasih-Nya kepada manusia tanpa batas. Kasih Allah bersifat universal. Tidak hanya terbatas pada bangsa Israel. Kasih Allah diperuntukkan bagi semua orang dari berbagai suku bangsa. Kesadaran bahwa Allah senantiasa hadir, menyapa, membimbing, menghibur, dan menuntun, mendorong manusia untuk menanggapinya dengan penuh iman. Pengalaman ini mengandung dua segi yang berkaitan satu sama lain. Pertama, Allah senantiasa berkehendak menyelamatkan manusia. Allah menyatakan diriNya, menyapa manusia dengan berbagai cara. Kedua, manusia menanggapi karya keselamatan dan sapaan Allah dengan berbagai macam cara. Pernyataan dan sapaan Allah disebut wahyu, sedangkan tanggapan manusia atas karya keselamatan atau sapaan Allah disebut iman. Setelah selesai pembelajaran kalian diharapkan mampu menanggapi karya keselamatan Allah dengan beriman dan mampu mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Beriman Kristiani

 

Mengapa materi ini perlu dipelajari?

Agar kita mampu memahami Yesus Kristus sebagai tanda pewahyuan Allah yang paling agung, yang menjadi sumber dan kekhasan iman kristiani sehingga mendorong kita untuk bersyukur dan mewujudkan iman kita dalam hidup menggereja.

Ayat yang perlu direnungkan:

 “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun sudah mati” (Yoh. 11:25)

Iman adalah jawaban atas wahyu Allah, tanggapan atas tawaran karya keselamatan Allah, dan perjumpaan pribadi dengan Allah. Iman akan berkembang jika diwujudkan dalam perbuatan sehari-hari. Bagi seorang Kristiani, Yesus Kristus menjadi tanda agung pewahyuan Allah. Dalam dan melalui Yesus, Allah memperkenalkan diri secara sempurna. Dalam diri Yesus, Allah yang tidak kelihatan menjadi nyata. Janji Allah untuk menyelamatkan umat manusia terlaksana secara penuh dan nyata dalam diri Yesus. Yesus Kristus adalah ciri khas iman kristiani. Melalui pembelajaran ini, kalian diharapkan semakin sungguh-sungguh mengimani Tuhan Yesus sebagai tanda pewahyuan Allah paling agung, yang menjadi sumber dan ciri khas iman kristiani sehingga mampu bersyukur dan mewujudkan iman dalam hidup menggereja.

Memahami Ajaran Gereja tentang ciri khas iman kristiani

1.       Bacalah kutipan Kitab Suci dari Yohanes 14:6-10 dan dokumen Lumen Gentium art. 14 berikut ini!

Yohanes 14:6-10

6 Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. 7 Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.” 8 Kata Filipus kepada-Nya: “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.” 9 Kata Yesus kepadanya: “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. 10 Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya. 11 Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaanpekerjaan itu sendiri.

 Lumen Gentium art. 14

Maka terutama kepada umat beriman katoliklah Konsili suci mengarahkan perhatiannya. Berdasarkan Kitab suci dan Tradisi konsili mengajarkan, bahwa Gereja yang sedang mengembara ini perlu untuk keselamatan. Sebab hanya satulah Pengantara dan jalan keselamatan, yakni Kristus. Ia hadir bagi kita dalam tubuh-Nya, yakni Gereja. Dengan jelas-jelas menegaskan perlunya iman dan babtis (lih. Mrk 16:16; Yoh 3:5). Kristus sekaligus menegaskan perlunya Gereja, yang dimasuki orang-orang melalui babtis bagaikan pintunya. Maka dari itu andaikata ada orang, yang benar-benar tahu, bahwa Gereja katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan. Dimasukkan sepenuhnya kedalam sertifikat Gereja mereka, yang mempunyai Roh Kristus, menerima baik seluruh tata-susunan Gereja serta semua upaya keselamatan yang diadakan didalamnya, dan dalam himpunannya yang kelihatan digabunggkan dengan Kristus yang membimbingnya melalui Imam Agung dan para uskup, dengan ikatan-ikatan ini, yakni: pengakuan iman, sakramen-sakramen dan kepemimpinan gerejani serta persekutuan. Tetapi tidak diselamatkan orang, yang meskipun termasuk anggota Gereja namun tidak bertambah dalm cinta-kasih; jadi yang “dengan badan” memang berada dalam pangkuan Gereja, melainkan tidak “dengan hatinya”(26). Pun hendaklah semua Putera Gereja menyadari, bahwa mereka menikmati keadaan yang istimewa itu bukan karena jasa-jasa mereka sendiri, melainkan berkat rahmat Kristus yang istimewa pula. Dan bila mereka tidak menanggapi rahmat itu dengan pikiran, perkataan dan perbuatan, mereka bukan saja tidak diselamatkan, malahan akan diadili lebih keras.

 Pokok Penegasan:

  1. Bagi seorang kristiani, peristiwa pembaptisan merupakan pernyataan iman akan karya Allah yang menyelamatkan dan berpuncak dalam pribadi Yesus Kristus. Dialah Allah yang hadir di tengah-tengah kita, masuk dalam dimensi ruang dan waktu, merasakan suka duka manusia. Allah yang solider dengan kelemahan manusia.
  2.  Ciri khas iman Kristiani juga dinyatakan dalam Syahadat/Kredo atau pengakuan iman. Dalam Syahadat terungkap tentang iman akan Tri Tunggal Mahakudus. Inti pokok iman akan Allah Tri Tunggal adalah bahwa Allah (Bapa) menyelamatkan manusia dalam Kristus (Putera) oleh Roh Kudus. Ajaran mengenai Allah Tritunggal pertama-tama bukan berbicara tentang hidup Allah dalam diriNya sendiri, melainkan mengenai misteri Allah yang memberikan diri kepada manusia.
  3. Orang beriman kristiani adalah orang yang dalam keseharian hidupnya selalu dimotivasi dan diwarnai oleh iman kristianinya, bukan sekadar alasan yang cenderung bersifat lahiriah. Orang yang benar-benar beriman Kristiani adalah seorang yang religius, orang yang selalu menyandarkan hidupnya kepada karya Kristus yang menyelamatkan.
  4. Tiga aspek hidup beriman Kristiani:

  • Pengalaman iman: menyadari campur tangan Allah yang menyelamatkan dalam peristiwa hidup kita, yang berpuncak dalam diri Yesus kristus.
  • Penyerahan iman: menjawab dan menanggapi panggilan Allah, dengan menyerahkan diri kepada kehendak Allah, yang diwujudkan dalam hidup sehari-hari.
  • Pengetahuan iman: hal-hal mendasar yang harus dimengerti sebagai orang beriman sehingga mampu mempertanggungjawabkan imannya.

Cara mengungkapkan dan mewujudkan iman kristiani dalam hidup sehari-hari:

  • Mengikuti Perayaan Ekaristi pada hari minggu.
  • Mengaku dosa di hadapan imam.
  • Pantang dan puasa (matiraga).
  • Berdoa pribadi maupun doa bersama.
  • Ziarah.
  • Bela rasa pada yang menderita

Kerjakan 5 soal uraian ini:
  1. Mengapa Yesus Kristus disebut dan dihayati sebagai tanda pewahyuan Allah yang paling agung sekaligus menjadi sumber dan ciri khas iman Kristiani? Jelaskan berdasarkan Injil Yohanes 14:6-10!
  2. Berdasarkan dokumen Lumen Gentium art. 14, jelaskan peran Gereja Katolik sebagai sarana keselamatan serta apa konsekuensinya bagi anggota Gereja yang hanya terikat secara lahiriah ("dengan badan") tetapi tidak di dalam hati!

  3. Pengakuan iman Kristiani terungkap dalam Syahadat/Kredo mengenai Tri Tunggal Mahakudus. Jelaskan inti pokok ajaran iman akan Allah Tri Tunggal dalam relasinya dengan karya keselamatan manusia!

  4. Sebutkan dan jelaskan tiga aspek utama dalam kehidupan beriman Kristiani (Pengalaman iman, Penyerahan iman, dan Pengetahuan iman)!

  5. Tuliskan 5 contoh tindakan atau bentuk kegiatan konkret dalam kehidupan sehari-hari untuk mengungkapkan dan mewujudkan iman Kristiani, baik secara personal maupun bersama Gereja!

Iman dan Kebersamaan dalam Jemaat

 

Mengapa materi ini perlu dipelajari?

Agar kita mampu memahami peran jemaat setempat dalam pengembangan iman sehingga mampu bersyukur dan tergerak untuk berperan secara aktif dalam berbagai kegiatan pengembangan iman di lingkungan kita.

Gagasan Awal

Karya keselamatan Allah tidak berhenti dalam suatu masa tertentu tetapi terus berlangsung sampai akhir zaman. Beriman atau menanggapi karya keselamatan Allah juga harus terus-menerus dilakukan sampai akhir hayat kita. Menjaga dan mengembangkan kehidupan beriman tentu saja tidaklah mudah. Ada banyak tantangan dan godaan yang akan ditemui., apalagi pada saat ini, di tengah gencarnya perkembangan digital. Dalam mengembangkan iman, tidak bisa kita lakukan sendiri tanpa kehadiran dan peran orang lain, baik sebagai pribadi maupun sebagai komunitas umat beriman di lingkungannya. Melalui pembelajaran ini, diharapkan kalian semakin memahami peran jemaat dalam pengembangan iman sehingga memotivasi kalian untuk ikut terlibat secara aktif dalam berbagai kegiatan pengembangan iman di dalam keluarga, lingkungan, atau paroki kalian.

 

Menimba inspirasi dari cara hidup Jemaat Perdana dalam pengembangan iman

1.       Bacalah Kisah Para Rasul 2:41-47 dan Kisah Para Rasul 4:32-37 berikut ini:

Kisah Para Rasul 2:41-47

41 Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. 42 Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. 43 Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda. 44 Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, 45 dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. 46 Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati,47 sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.

 Kisah Para Rasul 4:32-37

32 Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorang pun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama. 33 Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpahlimpah. 34 Sebab tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa 35 dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya. 36 Demikian pula dengan Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus. 37 Ia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul.

 Pokok Penegasan:

  1. Tanaman akan tumbuh dengan subur dan menghasilkan buah yang berlimpah jika dirawat, dan dipupuk atau dipelihara dengan baik. Demikian juga halnya dengan iman, agar dapat menghasilkan buah-buah keselamatan, maka tanaman perlu dipupuk dan dikembangkan.
  2. Usaha mengembangkan iman tidaklah mudah, banyak tantangan yang harus dihadapi baik yang bersifat internal maupun eksternal.” “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala” (Mat. 10:6).
  3. Kehadiran sesama jemaat beriman, baik keluarga, jemaat di lingkungan atau Gereja setempat sangat dibutuhkan karena hidup beriman memiliki dua aspek, yaitu aspek personal dan aspek sosial.
  4. Peran keluarga atau orang tua sangat penting dalam pengembangan iman, karena dari merekalah anak-anak mengenal imannya. Demikian juga jemaat sekitar memiliki peran yang tidak bisa diabaikan dalam pengembangan iman seseorang.
  5. Hal ini sangat nyata dari cara hidup Gereja Perdana (Kis. 2:41-47; 4:32-37), yaitu:

  • Mereka bertekun dalam pengajaran para rasul dan dalam persekutuan.
  • Selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.
  • Mereka saling peduli dengan membagikan harta mereka kepada mereka yang membutuhkan sehingga tidak ada yang kekurangan.
  • Dengan sehati mereka berkumpul setiap hari di Bait Allah.

Cara hidup Gereja Perdana dapat menjadi inspirasi bagi kita untuk terlibat secara aktif dalam perayaan iman bersama, seperti:

  • Perayaan Ekaristi.
  • Berdoa bersama secara bergilir di lingkungan.
  • Peduli kepada orang lain terutama yang membutuhkan, melalui kolekte, APP, aksi Adven/aksi natal.
  • Pendalaman iman.
  • Pendalaman Kitab Suci dan sebagainya.
Kerjakan 5 soal uraian ini:

  1. Jelaskan perbedaan antara sekadar "percaya" di bibir saja dengan sikap "beriman" yang sungguh-sungguh berdasarkan perumpamaan/kisah atraksi penyeberangan tali!
  1. Berdasarkan Dokumen Konsili Vatikan II (Dei Verbum art. 5), jelaskan apa yang dimaksud dengan ketaatan iman (obsequium fidei) dan bagaimana manusia menyerahkan diri secara utuh kepada Allah!

  2. Mengapa Nabi Abraham disebut sebagai Bapa Orang Beriman? Jelaskan bukti ketaatan imannya berdasarkan surat Ibrani 11:1-3, 8-12!

  3. Jelaskan hubungan antara iman dan perbuatan berdasarkan surat Yakobus 2:14-26, serta mengapa iman tanpa perbuatan dinyatakan sebagai "iman yang mati"!

  4. Sebutkan dan jelaskan langkah-langkah atau tindakan konkret yang dapat kamu lakukan dalam kehidupan sehari-hari sebagai perwujudan nyata dari imanmu!

Maria Teladan Hidup Umat Beriman

 

Tujuan Pembelajaran

Peserta didik memahami kedudukan dan peran Maria dalam sejarah keselamatan sehingga mampu bersyukur dan meneladan ketaatan Maria dalam melaksanakan kehendak Allah.

 Ayat yang perlu direnungkan:

“Aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu” (Luk. 1:38).

Mengapa Bunda Maria mendapat kedudukan dan penghormatan yang istimewa dalam Gereja Katolik? Bagaimana penghormatan yang baik dan benar kepada Bunda Maria? Apa saja yang dapat dilakukan untuk menghormati Bunda Maria? Melalui pembelajaran pada subbab ini, kalian diharapkan mampu mengenal, mencintai, dan meneladani Bunda Maria. Ia hamba Tuhan yang mendengarkan dan melaksanakan Sabda Allah. Ia menjadi teladan dalam kerendahan hati dan ketaatan dalam hidup beriman. Semoga kalian dapat bercermin dari kerendahan hati dan ketaatan Bunda Maria dalam menanggapi kehendak Allah.

 Memahami keteladanan Bunda Maria dalam hidup beriman menurut Ajaran Gereja dan Kitab Suci

1.       Bacalah dokumen Konsili Vatikan II tentang Lumen Gentium art. 61 dan 62 dan Lukas 1:26-38 berikut ini!

Lumen Gentium art. 61 dan 62

Sehubungan dengan penjelmaan Sabda ilahi Santa Perawan sejak kekal telah ditetapkan untuk menjadi Bunda Allah. Berdasarkan rencana penyelenggaraan ilahi ia di dunia ini menjadi Bunda Penebus ilahi yang mulia, secara sangat istimewa mendampingi-Nya dengan murah hati, dan menjadi Hamba Tuhan yang rendah hati. Dengan mengandung Kristus, melahirkan-Nya, membesarkan-Nya, menghadapkan-Nya kepada Bapa di kenisah, serta dengan ikut menderita bengan Puteranya yang wafat di kayu salib, ia secara sungguh istimewa bekerja sama dengan karya juru selamat, dengan ketaatannya, iman, pengharapan serta cinta kasihnya yang berkobar, untuk membaharui hidup adikodrtai jiwa-jiwa. Oleh karena itu dalam tata rahmat ia menjadi Bunda kita. “Ada pun dalam tata rahmat itu peran Maria sebagai Bunda tiada hentinya terus berlangsung, sejak persetujuan yang dengan setia diberikannya pada saat Warta Gembira, dan yang tanpa ragu-ragu dipertahankan di bawah salib, hingga penyempurnaan kekal semua para terpilih. Sebab sesudah diangkat ke sorga ia tidak meninggalkan peran yang membawa keselamatan itu, melainkan dengan aneka perantaraannya ia terus-menerus memperolehkan bagi kita kurnia-kurnia yang menghantar kepada keselamatan kekal. Dengan cinta kasih keibuannya ia meperhatikan saudara-saudara Puteranya, yang masih dalam peziarahan dan menghadapi bahaya-bahaya serta kesukaran-kesukaran, sampai mereka mencapai tanah air yang penuh kebahagiaan. Oleh karena itu dalam gereja Santa Perawan disapa dengan gelar Pembela, Pembantu, Penolong, Perantara . Akan tetapi itu diartikan sedemikian rupa, sehingga tidak mengurangi pun tidak menambah martabat serta dayaguna Kristus satu-satunya Pengantara . Sebab tiada makhluk satu pun yang pernah dapat disejajarkan dengan Sabda yang menjelma dan Penebus kita.”

 Lukas 1:26-38

26 Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, 27 kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. 28 Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” 29 Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. 30 Kata malaikat itu kepadanya: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. 31 Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. 32 Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, 33 dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.” 34 Kata Maria kepada malaikat itu: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” 35 Jawab malaikat itu kepadanya: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. 36 Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. 37 Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” 38 Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia.

 

Pokok Penegasan:

Peran Bunda Maria dalam sejarah keselamatan secara singkat dapat dijelaskan sebagai berikut: 

  • Ketika menerima kabar yang disampaikan oleh Malaikat Gabriel, Bunda Maria memberikan persetujuan untuk menjadi Bunda Penebus Ilahi yang mulia. Bunda dari Sang Mesias yang dinantikan sejak perjanjian lama.
  •  Dengan ketaatan penuh, dia menjawab tugas perutusan yang diamanatkan kepadanya. “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”
  • Dalam ketaatannya, Bunda maria mengandung Kristus, melahirkan-Nya, membesarkan-Nya, menghadapkan-Nya kepada Bapa di kenisah, serta ikut menderita dengan Puteranya yang wafat di kayu salib. Ia secara sungguh istimewa bekerja sama dengan karya juru selamat, dengan ketaatannya, iman, pengharapan serta cinta kasihnya yang berkobar.

  1. Ketaatan total Bunda Maria pada kehendak Allah untuk terlibat dalam karya keselamatan Allah mendorong Gereja memberikan tempat istimewa kepadanya, dan gereja menghormati Bunda Maria secara khusus, dengan melakukan berbagai devosi, (sikap bakti atau kebaktian khusus) kepada Bunda Maria. Misalnya, bulan Mei dikhususkan untuk bulan Maria, bulan Oktober sebagai bulan rosario, doa Salam Maria, doa Rosario, Novena, Ziarah ke Gua Maria dan sebagainya.
  2. Devosi kepada Bunda Maria tidak sedikit pun dimaksudkan untuk mengurangi kedudukan Putera-Nya. Sebab devosi yang sehat dan benar membawa umat kepada iman akan Yesus Kristus yang semakin berakar kuat dan mendalam. Melalui devosi tersebut, umat ditolong meneladani Bunda Maria, untuk menjatuhkan pilihan bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat mereka satusatunya, sehingga imannya semakin bermutu dan berbuah.
  3. Devosi kepada Bunda Maria adalah bagian dari ungkapan cinta dan penghormatan kita kepada Ibunda Sang Juruselamat.
  4. Tiga tahap yang dapat kita lakukan dalam mencintai Bunda Maria. Pertama, mengenal atau mengetahui Maria. Kedua, mengagumi Maria. Ketiga, meneladani Maria. Cinta kita akan Maria tidak berhenti dengan rasa kagum. Kita ditarik untuk meneladan keutamaan- keutamaannya dalam kehidupan kita.
  5. Ketaatan iman yang sempurna yang ditunjukkan Bunda Maria harus menjadi teladan dan pedoman dalam kehidupan beriman kita sehari-hari. Kita harus meyakini bahwa peristiwa sehari-hari yang kita alami merupakan bagian dari rencana Allah yang berkehendak menyelamatkan semua orang disertai dengan sikap berserah diri kepada kehendak Allah.

 Kerjakan 2 soal uraian ini: 

  1. Jelaskan kedudukan dan peran Bunda Maria dalam karya keselamatan Allah berdasarkan dokumen Konsili Vatikan II (Lumen Gentium art. 61-62)!
  2. Berdasarkan perenungan Injil Lukas 1:26-38, bagaimana makna pernyataan ketaatan Bunda Maria: "Aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu" dalam merespons kehendak Allah?

  3. Mengapa Gereja Katolik memberikan penghormatan khusus (devosi) kepada Bunda Maria? Jelaskan pula mengapa devosi tersebut tidak mengurangi kedudukan Yesus Kristus sebagai satu-satunya Juruselamat!

  4. Sebutkan dan jelaskan tiga tahap yang dapat dilakukan oleh umat beriman dalam proses mencintai serta meneladani Bunda Maria!

  5. Bagaimana bentuk tindakan nyata yang dapat kamu lakukan dalam kehidupan sehari-hari untuk meneladani sifat kerendahan hati dan ketaatan iman Bunda Maria?

Allah sebagai Sumber Keselamatan Sejati

 


Tujuan Pembelajaran:

Peserta didik mampu memahami ajaran Gereja bahwa Allah sumber keselamatan sejati dan berani memberi kesaksian tentang Allah yang menyelamatkan.

 Ayat yang perlu direnungkan : 

“Tidak ada Allah selain dari pada-Ku! Allah yang adil dan Juruselamat, tidak ada yang lain kecuali Aku!” (Yes. 45:21)

Keselamatan menjadi dambaan setiap orang. Keselamatan dapat diartikan terbebas dari bahaya, malapetaka, bencana, tidak mendapat gangguan, penyelamatan jiwa dari dosa dan kematian. Demikian berharga keselamatan dalam hidup setiap orang, maka setiap orang akan berusaha dengan segenap tenaga dan dengan berbagai cara untuk memperoleh keselamatan tersebut. Bagi kita orang beriman, kerinduan akan keselamatan bersumber kepada Allah yang telah memberikan kehidupan ini. Benarkah Allah menjadi sumber keselamatan bagi manusia? Bagaimana dengan kalian? Jika Allah menjadi sumber keselamatan, apakah hal itu tampak dalam perilaku kita sehari-hari? 

Setelah pembelajaran pada subbab pertama ini, kalian diharapkan sungguhsungguh mengimani Allah sebagai satu-satunya sumber keselamatan dalam hidup, sehingga kalian mampu bersyukur dan berani memberi kesaksian tentang Allah yang menyelamatkan. Kehadiran kalian dapat membawa suka cita dan berkat bagi sesama.

 

Memahami berbagai paham sumber keselamatan yang ada dalam masyarakat

  1. Seringkali ketika terdesak dan dalam keadaan putus asa, manusia lupa kepada siapa harus menyandarkan hidupnya. Tidak jarang manusia lebih memilih cara yang instan dan menyandarkan keselamatan diri pada kekayaan atau kemewahan duniawi.
  2. Orang seperti ini akan menghalalkan segala macam cara untuk mencapai tujuannya, termasuk bersekutu dengan kekuatan gaib yang dianggap bisa memberikan jaminan keselamatan. Begitu pula dengan orang yang memuja pengetahuan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
  3. Benarkah semua itu bisa dijadikan sandaran hidup dan jaminan keselamatan? Bagaimana dengan diri kita sebagai orang beriman? Kepada siapakah kita akan menyandarkan hidup kita? Mari kita memahami sumber keselamatan sejati berdasarkan Kitab Suci berikut ini!

Memahami Allah sebagai sumber keselamatan sejati

1.       Bacalah dan renungkanlah bacaan Kitab Suci dari Kisah Para Rasul 19:1-8,23- 29,32 dan Injil Lukas 15:11-32 berikut ini!

Kisah Para Rasul. 19:1-8,23-29,32

1 Ketika Apolos masih di Korintus, Paulus sudah menjelajah daerah-daerah pedalaman dan tiba di Efesus. Di situ didapatinya beberapa orang murid. 2 Katanya kepada mereka: “Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu menjadi percaya?” Akan tetapi mereka menjawab dia: “Belum, bahkan kami belum pernah mendengar, bahwa ada Roh Kudus.” 3 Lalu kata Paulus kepada mereka: “Kalau begitu dengan baptisan manakah kamu telah dibaptis?” Jawab mereka: “Dengan baptisan Yohanes.” 4 Kata Paulus: “Baptisan Yohanes adalah pembaptisan orang yang telah bertobat, dan ia berkata kepada orang banyak, bahwa mereka harus percaya kepada Dia yang datang kemudian dari padanya, yaitu Yesus.” 5 Ketika mereka mendengar hal itu, mereka memberi diri mereka dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. 6 Dan ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat. 7 Jumlah mereka adalah kira-kira dua belas orang. 8 Selama tiga bulan Paulus mengunjungi rumah ibadat di situ dan mengajar dengan berani. Oleh pemberitaannya ia berusaha meyakinkan mereka tentang Kerajaan Allah. 23 Kira-kira pada waktu itu timbul huru-hara besar mengenai Jalan Tuhan. 24 Sebab ada seorang bernama Demetrius, seorang tukang perak, yang membuat kuilkuilan dewi Artemis dari perak. Usahanya itu mendatangkan penghasilan yang tidak sedikit bagi tukang-tukangnya. 25 Ia mengumpulkan mereka bersama-sama dengan pekerja-pekerja lain dalam perusahaan itu dan berkata: “Saudara-saudara, kamu tahu, bahwa kemakmuran kita adalah hasil perusahaan ini! 26 Sekarang kamu sendiri melihat dan mendengar, bagaimana Paulus, bukan saja di Efesus, tetapi juga hampir di seluruh Asia telah membujuk dan menyesatkan banyak orang dengan mengatakan, bahwa apa yang dibuat oleh tangan manusia bukanlah dewa. 27 Dengan jalan demikian bukan saja perusahaan kita berada dalam bahaya untuk dihina orang, tetapi juga kuil Artemis, dewi besar itu, berada dalam bahaya akan kehilangan artinya. Dan Artemis sendiri, Artemis yang disembah oleh seluruh Asia dan seluruh dunia yang beradab, akan kehilangan kebesarannya.” 28 Mendengar itu meluaplah amarah mereka, lalu mereka berteriak-teriak, katanya: “Besarlah Artemis dewi orang Efesus!” 29 Seluruh kota menjadi kacau dan mereka ramai-ramai membanjiri gedung kesenian serta menyeret Gayus dan Aristarkhus, keduanya orang Makedonia dan teman seperjalanan Paulus. 32 Sementara itu orang yang berkumpul di dalam gedung itu berteriak-teriak; yang seorang mengatakan ini dan yang lain mengatakan itu, sebab kumpulan itu kacau-balau dan kebanyakan dari mereka tidak tahu untuk apa mereka berkumpul.

 Lukas 15:11-32

 11 Yesus berkata lagi: “Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki. 12 Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. 13 Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. 14 Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan ia pun mulai melarat. 15 Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. 16 Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun yang memberikannya kepadanya. 17 Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. 18 Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, 19 aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. 20 Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. 21 Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa. 22 Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. 23 Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. 24 Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria. 25 Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian. Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. 27 Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat. 28Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia. 29 Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabatsahabatku. 30 Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia. 31 Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. 32 Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.”

Pokok Penegasan:

  1. Demikian berharga keselamatan bagi hidup setiap orang sehingga mereka berusaha dengan segenap tenaga bahkan mungkin berbagai cara untuk memperoleh keselamatan dalam hidupnya. Mereka beranggapan bahwa keselamatan dapat diperoleh dari mana saja. Ada orang menyandarkan keselamatan hidup mereka pada kekuatan gaib, harta kekayaan, maupun kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai sumber keselamatan.
  2. Bagi orang beriman, Allah adalah satu-satunya sumber keselamatan sejati. Hal ini disampaikan oleh Allah sendiri dalam berbagai kesempatan peristiwa hidup manusia. Hal tersebut tampak dalam beberapa kutipan. “Aku, Akulah TUHAN dan tidak ada juruselamat selain dari pada-Ku. Akulah yang memberitahukan, menyelamatkan dan mengabarkan, dan bukannya allah asing yang ada di antaramu. Kamulah saksi-saksi-Ku,” demikianlah firman TUHAN, “dan Akulah Allah” (Yes. 43:11-12), “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia” (Yohanes 3:16-17). Bahkan ketika kita sudah berpaling dari Allah, karena tawaran kenikmatan duniawi, yang ternyata membawa kesengsaraan hidup. Allah tampil sebagai penyelamat dengan kerelaannya menerima kita Kembali ke dalam pangkuanNya (bdk. Luk. 15:11-32).
  3. Karya penyelamatan Allah tetap berlangsung hingga kini melalui pelayanpelayan-Nya yang telah dipilih dan ditetapkan oleh Putera-Nya, Yesus Kristus. Sampai saat ini, Yesus Kristus masih tetap berkarya menyelamatkan manusia, yaitu melalui Gereja-Nya yang terungkap dalam berbagai bidang pelayanan dan perayaan-perayaan sakramen.
  4. Bagi umat Kristiani, merayakan Perayaan Ekaristi dan perayaan sakramen yang lainnya merupakan sarana untuk menimba dan menerima rahmat pengudusan dari Allah sebagai sumber keselamatan.
  5. Selain menghayati Allah sebagai sumber keselamatan, kita pun harus menjadi sarana keselamatan bagi orang lain. Misalnya, dengan membantu teman yang kesulitan dalam memahami materi pelajaran, menerima orang lain tanpa memperhitungkan jasanya, penampilan, agama atau juga latar belakang status sosialnya, menyisihkan sebagian rejeki kita miliki untuk membantu mereka yang kekurangan, menjadi sahabat bagi mereka yang tersisihkan dalam pergaulan dan sebagainya.

Kerjakan 5 soal uraian ini:

  1. Jelaskan berbagai paham atau bentuk kecenderungan manusia di dalam masyarakat yang sering dijadikan sandaran hidup dan jaminan keselamatan palsu ketika berada dalam keadaan terdesak!
  1. Mengapa hanya Allah yang diimani sebagai satu-satunya sumber keselamatan sejati bagi umat beriman? Jelaskan dengan menyertakan dasar Kitab Sucinya!

  2. Berdasarkan perumpamaan Anak yang Hilang dalam Injil Lukas 15:11-32, bagaimana gambaran sikap Allah sebagai penyelamat ketika manusia telah jatuh ke dalam dosa dan berpaling dari-Nya?

  3. Bagaimana karya penyelamatan Allah yang diprakarsai oleh Yesus Kristus tetap berlangsung dan dirayakan oleh umat Kristiani pada masa kini?

  4. Sebutkan dan jelaskan tindakan nyata yang dapat kamu lakukan dalam kehidupan sehari-hari untuk menjadi sarana kesaksian dan membawa keselamatan/kebaikan bagi sesama!

Selasa, 25 Agustus 2026

Membangun Masa Depan


Sekarang kalian berada di jenjang akhir Pendidikan SMP. Peserta didik kelas IX semestinya sudah mengetahui dan memiliki cita-cita atau harapan masa depan yang akan dicapai dan sudah mulai merencanakan kelanjutan pendidikannya di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA/ SMK) sesuai dengan minat, bakat, dan cita-cita di masa yang akan datang. Bab ini, kalian diajak untuk memahami tentang pentingnya citacita dalam membangun masa depan.

Tujuan Pembelajaran:

Peserta didik dapat memahami pentingnya cita-cita dalam perjuangan membangun masa depan sehingga mendorong peserta didik untuk bersikap lebih bertanggung jawab dan bekerja keras dalam mewujudkannya.

  Ayat yang perlu direnungkan:

“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.” (Kol. 3:17)


Mendalami ajaran Gereja dalam meraih cita-cita

1.       Bacalah kutipan Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Filipi 3:13-15 berikut ini!

“13 Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, 14 dan berlarilari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. 15 Karena itu marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu.”

Pokok-pokok penegasan sebagai berikut:

  1. Cita-cita adalah keinginan atau kehendak yang selalu ada dalam pikiran dan menjadikan seseorang berusaha untuk mewujudkannya.
  2. Cita-cita sangat penting dalam upaya membangun masa depan yang lebih baik, karena dengan memiliki cita-cita, seseorang tidak akan mudah kehilangan arah dan tidak mudah larut dalam godaan karena memiliki arah yang jelas terhadap tujuan hidupnya.
  3. Dalam usaha meraih cita-cita untuk membangun masa depan, diperlukan tekad yang kuat, kerja keras atau belajar dengan sungguh-sungguh, pantang menyerah, keberanian untuk bangkit dari kegagalan, dan kemampuan menjalin kerja sama dengan orang lain, serta melibatkan Tuhan dalam setiap perjuangan kita.
  4. Hal-hal yang harus kita pertimbangkan dalam merencanakan masa depan adalah:

  • Mengukur kemampuan.
  • Bersikap realistis.
  • Selalu siap untuk berubah.
  • Siap untuk bekerja keras dan tidak mudah putus asa.

5. Santo Paulus mengajak kita untuk menyadari bahwa kita bebas untuk menentukan cita-cita kita masing-masing. Tetapi, kebebasan itu harus kita lakukan sesuai dengan kehendak Allah, denga ganjaran mahkota kemuliaan, yaitu panggilan sorgawi dalam Kristus Yesus.


Kerjakan 5 soal uraian ini:

  1. Mengapa keberadaan cita-cita sangat penting bagi seorang peserta didik dalam upaya membangun masa depan yang lebih baik?
  2. Berdasarkan perenungan surat Kolose 3:17, bagaimana seharusnya seorang Kristiani bersikap dan bertindak dalam setiap usaha meraih cita-citanya?

  3. Sebutkan dan jelaskan hal-hal yang perlu dipertimbangkan dan disiapkan oleh seseorang dalam merencanakan masa depannya!

  4. Jelaskan pesan Santo Paulus dalam surat Filipi 3:13-15 mengenai sikap mental yang harus dimiliki dalam mengarahkan diri menuju tujuan masa depan!

  5. Bagaimana hubungan antara kebebasan manusia dalam menentukan cita-cita dengan kehendak Allah berdasarkan ajaran Gereja Katolik?

Sakramen Imamat

 

Tujuan Pembelajaran

Peserta didik mampu memahami makna Sakramen Imamat dan mampu menyusun doa untuk mendukung kehidupan para imam sehingga peserta didik mampu mensyukuri kehadiran para imam serta berperan aktif mendukung tugas-tugas mereka.

Ajaran Gereja yang perlu direnungkan:

Tahbisan memberi kuasa kepada para imam, agar bertindak sebagai wakil Kristus. (KGK 1581)

    Hidup dalam lembaga perkawinan atau berkeluarga pada umumnya lebih dipilih oleh banyak orang, meskipun dalam Gereja Katolik hidup berkeluarga bukanlah satusatunya panggilan hidup. Masih ada panggilan hidup yang lainnya, yaitu panggilan hidup selibat. Pada zaman modern seperti sekarang ini, pilihan untuk menjadi seorang bruder, suster, dan imam cenderung sangat sulit dipahami. Tetapi kenyataannya, masih ada orang-orang yang menjalani panggilan Tuhan untuk hidup selibat, entah sebagai bruder, suster, atau imam. Panggilan hidup selibat merupakan panggilan hidup yang khas. Mereka memberikan hidup dan dirinya secara total kepada kepada Tuhan untuk menjadi partner-Nya dalam mewartakan Kerajaan Allah. Panggilan khusus untuk hidup selibat sebagai imam dalam Gereja Katolik dimeteraikan dalam Sakramen Imamat.

Memahami Sakramen Tahbisan

1.       Bacalah kutipan Kitab Suci dan dokumen Katekismus Gereja Katolik berikut ini!

1 Korintus 11:23-26

23 Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti 24 dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!” 25 Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!” 26 Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang

Yohanes 20:19-23

19 Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah muridmurid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: “Damai sejahtera bagi kamu!” 20 Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan. 21 Maka kata Yesus sekali lagi: “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” 22 Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus. 23 Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.”

Katekismus Gereja Katolik 1548 dan 1581

“Kristus sendiri hadir dalam pelayanan gerejani dari imam yang ditahbiskan dalam Gereja-Nya sebagai Kepala Tubuh-Nya, Gembala kawanan-Nya, Imam Agung kurban penebusan, dan Guru kebenaran. Gereja menyatakan ini dengan berkata bahwa seorang imam, berkat Sakramen Tahbisan, bertindak “atas nama Kristus, Kepala.” (KGK 1548). Dan “Oleh rahmat khusus dari Roh Kudus Sakramen ini membuat penerima serupa dengan Kristus, supaya ia sebagai alat Kristus melayani Gereja-Nya. Tahbisan memberi kuasa kepadanya, agar bertindak sebagai wakil Kristus, Kepala, dalam ketiga fungsi-Nya sebagai Imam, Nabi, dan Raja.” (KGK 1581).

 Pokok-pokok penegasan sebagai berikut:

  1. Panggilan hidup selibat merupakan panggilan hidup yang khas. Mereka memberikan hidup dan dirinya secara total kepada kepada Tuhan untuk menjadi partner-Nya dalam mewartakan kerajaan Allah. Panggilan khusus untuk hidup selibat sebagai imam dalam Gereja Katolik dimeteraikan dalam Sakramen Imamat.
  2. Sakramen Imamat mengenal tiga tingkatan yaitu:

  • Tahbisan Episkopat, yaitu tahbisan Uskup. Tahbisan Uskup ini merupakan Sakramen Imamat tertinggi dari keseluruhan pelayanan imamat. Uskup dipilih oleh pemimpin tertinggi Gereja, yaitu Paus.
  • Tahbisan Presbiterat, yaitu tahbisan untuk para Imam. Melalui tahbisannya, para imam melaksanakan tugas penuh pelayanan sebagai imam, nabi, dan raja. Para imam, walaupun mereka tidak menerima puncak imamat, dalam melaksanakan kuasa imamat, mereka bertanggung jawab kepada Uskup dan pimpinan ordo atau kongregasi (imam dari ordo atau kongregasi). Para imam Tarekat berkarya sesuai dengan visi misi serikat atau ordo yang mereka pilih dan dapat memimpin sebuah paroki yang memiliki jumlah umat tertentu.
  • Tahbisan Diakonat yaitu tahbisan untuk Diakon. Sebelum menjadi imam, calon imam ditahbiskan menjadi Diakon. Pada tingkat hirarki yang lebih rendah terdapat para Diakon yang ditumpangi tangan bukan untuk imamat melainkan untuk pelayanan. Para Diakon diharapkan dapat beradaptasi dengan pelayananan sebagai imam, nabi, dan raja sebelum mereka ditahbiskan menjadi imam.

3. Hanya Uskup yang berkuasa menerimakan sakramen tahbisan dengan menumpangkan tangan dan mengucapkan doa-doa khusus sesuai tahbisan yang diberikan.

4. Syarat-syarat yang harus dipenuhi menjadi seorang imam, sebagai berikut:

  • Seorang pria normal yang telah menerima Sakramen Inisiasi.
  • Belum dan tidak akan beristri seumur hidup (bersedia hidup selibat).
  • Memiliki motivasi yang kuat menjadi imam.
  • Menyelesaikan pendidikan khusus di seminari menengah dan seminari tinggi.
  • Sehat secara jasmani dan rohani.

5. Imam dari suatu ordo atau kongregasi biasanya mengucapkan tiga kaul, yaitu kaul ketaatan, kaul kemiskinan dan kaul kemurnian (selibat). Imam Diosesan (Imam Projo) tidak mengucapkan ketiga kaul tersebut, tetapi mereka mengucapkan janji hidup selibat, sederhana dan taat kepada Uskupnya.

6. Para imam memiliki tugas pokok ikut ambil bagian dalam tugas Kristus sebagai raja (memimpin), nabi (mengajar), dan imam (menguduskan).

Kerjakan 5 soal uraian ini:

  1. Jelaskan makna panggilan hidup selibat dalam Gereja Katolik serta hubungannya dengan Sakramen Imamat!
  2. Sebutkan dan jelaskan 3 tingkatan dalam Sakramen Imamat beserta peran atau tugas pokok masing-masing tingkatan tersebut!

  3. Berdasarkan Kitab Suci (1 Korintus 11:23-26 dan Yohanes 20:19-23) serta Katekismus Gereja Katolik, apakah dasar utama dan makna seorang imam bertindak "atas nama Kristus, Kepala"?

  4. Tuliskan syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang untuk dapat menerima Sakramen Tahbisan/Imamat!

  5. Jelaskan perbedaan antara Imam Diosesan (Projo) dan Imam Tarekat (Ordo/Kongregasi) ditinjau dari janji atau kaul yang mereka ucapkan serta lingkup pelayanannya!

Sakramen Perkawinan


Tujuan Pembelajaran

Peserta didik dapat memahami ajaran gereja tentang perkawinan sebagai sakramen dan berperan menciptakan keharmonisan keluarga sehingga mampu mensyukuri kehadiran orang tua di tengah-tengah keluarga.

Ayat yang perlu direnungkan: 

“Apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia” (Mrk. 10:9)

Hidup berkeluarga dalam ajaran iman Katolik adalah panggilan Allah. Hidup berkeluarga bukan sekedar keputusan dua pribadi yang ingin berkeluarga. Tuhan ikut campur tangan di dalamnya, yakni memanggil kedua insan, laki-laki dan perempuan, untuk bersatu dalam ikatan perkawinan hingga membentuk sebuah keluarga yang bernilai luhur. Panggilan untuk hidup dalam sebuah perkawinan sudah menjadi kodrat pria dan wanita, sebagaimana mereka diciptakan dari tangan Pencipta. Pria dan wanita diciptakan satu untuk yang lain, “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja” (Kej 2:18). “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging” (Kej 2:24).

 

Mendalami Makna Perkawinan dalam Kehidupan sehari-hari

Dalam proses hidup manusia sebelum sampai pada keputusan bebas untuk memasuki jenjang perkawinan, ada beberapa tahapan yang harus dilalui bersama orang lain, yaitu masa pergaulan, masa pacaran dan masa pertunangan. Mempertahankan hidup perkawinan tidaklah mudah seperti yang dibayangkan oleh mereka yang belum memasuki jenjang perkawinan. Dibutuhkan cinta tanpa syarat, pengorbanan, keterbukaaan untuk saling menerima diri, dan kesetiaan.


Memahami Perkawinan dalam Gereja Katolik

Bacalah kutipan teks Kitab Suci berikut ini: 

Kejadian 2:18-25

18TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” 19Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiaptiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu. 20 Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia. 21 Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. 22 Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. 23 Lalu berkatalah manusia itu: “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari lakilaki.” 24 Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. 25 Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.

Efesus 5:22-33

22 Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, 23 karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. 24 Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. 25 Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya 26 untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, 27 supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela. 28 Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. 29 Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, 30 karena kita adalah anggota tubuh-Nya. 31 Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. 32 Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat. 33 Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya

Matius 19:1-9

1 Setelah Yesus selesai dengan pengajaran-Nya itu, berangkatlah Ia dari Galilea dan tiba di daerah Yudea yang di seberang sungai Yordan. 2 Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan Ia pun menyembuhkan mereka di sana. 3 Maka datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: “Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?” 4 Jawab Yesus: “Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? 5 Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. 6 Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” 7 Kata mereka kepada-Nya: “Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?” 8 Kata Yesus kepada mereka: “Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. 9 Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah.”

 Pokok-pokok penegasan sebagai berikut:

  1. Kitab Kejadian 2:18-25 menegaskan bahwa sejak penciptaan manusia pertama, Allah telah meneguhkan keluhuran dari sebuah perkawinan. Allah telah menyatakan bahwa perkawinan merupakan penyatuan dua pribadi menjadi satu keutuhan yang tak terpisahkan.
  2. Keluhuran perkawinan dalam Gereja Katolik karena campur tangan Allah yang dikukuhkan dalam bentuk sakramen. Hubungan antara seorang perempuan dan seorang laki-laki yang diikat dalam perkawinan adalah hubungan yang bersifat pribadi yang didasarkan pada kasih.
  3. Perkawinan dalam Gereja Katolik disebut sebagai sakramen karena melambangkan hubungan antara Kristus dan Gereja-Nya (lih. Ef. 5:22-33).
  4. Sifat perkawinan Katolik pada hakikatnya adalah monogami dan tak terceraikan. Monogami artinya utuh tidak terbagi, satu laki-laki dan satu perempuan. Tak terceraikan artinya tetap, karena apa yang telah dipersatukan oleh Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia. (lih. Mat. 19:6; Mrk. 10:9). “Ciri-ciri hakiki perkawinan ialah kesatuan dan sifat tak dapat diputuskan, yang dalam perkawinan Kristiani memperoleh kekukuhan khusus atas dasar sakramen” (KHK Kan. 1056).
  5. Arah dan tujuan perkawinan Katolik adalah kesejahteraan suami istri sebagai pasangan, lalu keterbukaan terhadap keturunan atau kelahiran anak dan pendidikan anak. Jadi, tidak memiliki keturunan bukan menjadi alasan untuk perceraian karena adanya sifat perkawinan itu sendiri, yaitu monogami dan tak terceraikan.
  6. Dengan menghayati hidup perkawinan sebagai sakramen, maka keluarga Kristiani akan dijiwai dengan rahmat Allah, sehingga penuh dengan sukacita dalam menjalani hidup berkeluarga. 

Kerjakan 5 soal uraian ini:

  1. Jelaskan bagaimana ajaran iman Katolik memandang hidup berkeluarga sebagai sebuah panggilan Allah, serta hubungannya dengan penciptaan pria dan wanita berdasarkan Kitab Kejadian!

  1. Berdasarkan surat Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus (Ef. 5:22-33), mengapa perkawinan dalam Gereja Katolik disebut dan dihayati sebagai sebuah sakramen?

  2. Mengapa sifat perkawinan Katolik dinyatakan sebagai monogami dan tak terceraikan? Jelaskan makna dari kedua sifat tersebut beserta dasar Kitab Sucinya!

  3. Berdasarkan Injil Matius 19:1-9, bagaimana pandangan Yesus mengenai perceraian dan alasan ketegaran hati manusia pada zaman Musa?

  4. Sebutkan dan jelaskan arah serta tujuan utama dari perkawinan Katolik, serta mengapa tidak memiliki keturunan tidak dapat dijadikan alasan untuk bercerai!


Sorotan

Pengantar

   Selamat Datang di Ruang Belajar Kita Salam damai dan sukacita dalam Kristus. 🙏 Halo teman-teman! Selamat datang di blog pembelajaran Pe...