Agar kita mampu menjabarkan sikap dan pandangan Gereja atas berbagai keprihatinan tentang keutuhan alam ciptaan sehingga mampu bersyukur dan tergerak melakukan upaya menjaga keutuhan ciptaan.
Kalimat yang perlu direnungkan
“Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena Saudari kami, Ibu
Pertiwi, yang memelihara dan mengasuh kami, dan menumbuhkan aneka ragam
buah-buahan, beserta bunga warna-warni dan rumput-rumputan.” (Ensiklik Laudato
Si)
Pengantar
Kisah penciptaan menjelaskan bahwa pada mulanya, Allah menciptakan alam semesta. Setelah itu, Allah menciptakan manusia. Ini menunjukkan betapa besar kasih Allah kepada manusia karena Allah telah menyediakan tempat dan sarana yang dibutuhkan manusia untuk kelangsungan hidupnya. Alam menjadi tempat bagi manusia untuk hidup sekaligus menyediakan sarana bagi manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal ini juga mengisyaratkan kepada kita bahwa alam menjadi bagian yang tak terpisahkan bagi hidup manusia. Kelangsungan hidup manusia sepenuhnya tergantung kepada alam. Alam menjadi rumah bersama bagi seluruh ciptaan, termasuk manusia. Santo Fransiskus dari Assisi mengingatkan kita bahwa rumah kita bersama adalah seperti seorang saudari yang berbagi hidup dengan kita, dan seperti seorang ibu rupawan yang menyambut kita dengan tangan terbuka. “Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena Saudari kami, Ibu Pertiwi, yang memelihara dan mengasuh kami, dan menumbuhkan aneka ragam buah-buahan, beserta bunga warna-warni dan rumput-rumputan”. (Ensiklik Laudato Si art. 1). Saudari ini sekarang menjerit karena segala kerusakan yang telah kita timpakan padanya. Karena penyalahgunaan kita yang tidak bertanggung jawab atas kekayaan yang telah diletakkan Allah di dalamnya. Melihat kondisi seperti ini, apakah kalian akan berdiam diri? Tidak merasa terpanggil untuk ikut berperan dalam usaha kelestarian alam?
Memahami sikap dan pandangan Gereja terkait tugas manusia
dalam membangun persahabatan dengan alam
Penegasan kita bahwa manusia adalah gambar Allah, tidak boleh membuat kita lupa bahwa setiap makhluk memiliki fungsi sendiri dan tidak ada satu pun yang berlebihan. Seluruh alam semesta materiil adalah bahasa cinta Allah, kasih sayang-Nya yang tak terbatas bagi kita. Tanah, air, gunung, semuanya ibarat belaian Allah. Sejarah persahabatan kita masing-masing dengan Allah selalu terkait dengan tempat-tempat tertentu yang mendapat makna yang sangat pribadi; kita semua ingat tempat-tempat dengan kenangan yang penuh berkat bagi kita. Orang yang telah dibesarkan di wilayah pegunungan, atau yang sewaktu masih anak duduk minum di pinggir kali, atau bermain di lapangan desanya, ketika kembali ke tempat-tempat itu, ia merasa dipanggil untuk menemukan kembali identitasnya sendiri. (Laudato Si 84) Allah telah menulis sebuah buku yang indah “yang huruf-huruf-nya adalah banyaknya makhluk yang ada di alam semesta.” Para uskup Kanada dengan tepat menggarisbawahi bahwa tiada makhluk yang dikecualikan dari penyataan diri Allah itu: “Dari pemandangan paling luas sampai ke bentuk kehidupan terkecil, alam adalah sumber ketakjuban dan kekaguman yang terus-menerus; itu sekaligus adalah wahyu ilahi yang terus-menerus.” Para uskup Jepang, dari pihak mereka, mengingatkan kita akan sesuatu yang sangat menarik: “Mendengarkan setiap makhluk menyanyikan himne keberadaannya adalah hidup dengan suka-cita dalam kasih Allah dan dalam pengharapan.” Menatap karya ciptaan itu memungkinkan kita untuk menemukan dalam segala hal suatu ajaran yang ingin disampaikan Allah pada kita, karena bagi orang beriman, menatap dunia ciptaan adalah mendengarkan suatu pesan, mendengarkan suatu suara yang paradoksal dan hening.” Kita dapat mengatakan bahwa “di samping wahyu yang sesungguhnya, yang terkandung dalam Kitab Suci, ada pula penyataan ilahi dalam sinar matahari dan dalam jatuh-nya malam.” Dengan memperhatikan penyataan ini, kita belajar untuk melihat diri kita sendiri dalam hubungan kita dengan semua makhluk lain: “Saya mengungkapkan diri dalam mengungkapkan dunia; saya menemukan kesucian saya sendiri ketika saya berusaha mengartikan kesucian dunia.” (Laudato Si 85)
Kejadian 1:26-31
26Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” 27Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakanNya mereka. 28Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” 29Berfirmanlah Allah: “Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu. 30Tetapi kepada segala binatang di bumi dan segala burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang bernyawa, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya.” Dan jadilah demikian. 31Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam.
Untuk Dipahami
- Alam bagi manusia tidak hanya sekedar tempat tinggal atau tempat untuk melangsungkan kehidupannya. Alam menyediakan sarana dan kebutuhan manusia dalam menjaga keberlangsungan hidupnya. Hidup manusia sangat tergantung dengan alam.
- Mengingat betapa pentingnya alam bagi hidup manusia, seharusnya manusia menjaga hubungan yang harmonis dengan alam. Tetapi kenyataannya, masih banyak perilaku manusia yang menyebabkan alam menjadi rusak, misalnya:
- Penebangan hutan yang tidak terkendali untuk kepentingan industri perkayuan, perluasan perkebunan industri, dan permukiman penduduk. Hal ini menyebabkan hutan menjadi gundul, akibatnya oksigen menjadi berkurang, timbulnya bencana alam seperti banjir dan tanah longsor.
- Penebangan hutan mangrove yang terus menerus dapat merusak ekosistem pantai dan dapat menyebabkan punahnya flora fauna serta kehidupan masyarakat sekitar. Hutan mangrove dapat menjadi sumber penghidupan sekaligus melindungi masyarakat sekitar dari ancaman bencana tsunami. Kelebatan hutan mangrove dapat berfungsi sebagai pemecah gelombang.
- Pencemaran sungai akibat pembuangan sampah rumah tangga dan limbah pabrik. Sungai yang terkontaminasi limbah kimia dari pabrik dapat mengancam punahnya ekosistem sungai dan sekitarnya. Air sungai yang tercemar bahan kimia tidak lagi bisa dimanfaatkan oleh warga sekitar karena dapat mengancam kesehatan mereka.
- Pemakaian obat-obatan kimia dalam bidang pertanian untuk menggenjot produktivitas justru dapat merusak kesuburan tanah dalam jangka panjang. 3. Hal itu terjadi karena kita telah melupakan bahwa kita sendiri berasal dari debu tanah (Kejadian 2: 7). Tubuh kita sendiri tersusun dari unsur-unsur yang sama dari bumi, dan udara memberi kita nafas, serta airnya menghidupkan dan menyegarkan kita.
- Seharusnya manusia dan alam dapat hidup berdampingan, harmonis dan saling membutuhkan. Manusia harus membangun persahabatan dengan alam. Kita bisa belajar banyak dari Santo Fransiskus dari Asisi, yang setia kepada Alkitab. Ia mengajak kita untuk memandang alam sebagai sebuah kitab yang sangat indah. Di dalamnya Allah berbicara kepada kita dan memberi kita sekilas pandangan tentang keindahan dan kebaikan-Nya yang tanpa batas. “Dari kebesaran dan keindahan benda-benda ciptaan, tampaklah gambaran tentang Khalik mereka” (Kebijaksanaan 13: 5). Manusia harus bersatu dengan alam dan memandang alam dengan penuh rasa syukur akan kebaikan Sang Pencipta dan menjadikan alam sebagai sarana untuk memuji Allah.
- Manusia adalah gambar Allah. Kita tidak boleh lupa bahwa setiap makhluk memiliki fungsi sendiri dan tidak ada satu pun yang lebih unggul dari yang lain. Seluruh materiil alam semesta adalah bahasa cinta Allah dan merupakan wujud kasih sayang-Nya yang tak terbatas bagi kita. Tanah, air, gunung, semuanya ibarat belaian Allah. Sejarah persahabatan kita masing-masing dengan Allah selalu terkait dengan tempat-tempat tertentu yang mendapat makna sangat pribadi.
- Beberapa contoh hal berikut ini dapat kita lakukan sebagai remaja untuk ikut terlibat aktif dalam usaha menjaga dan memelihara alam lingkungan:
a. Berusaha untuk meletakkan sampah pada tempat yang telah
disediakan.
b. Mengurangi penggunaan plastik.
c. Mengusahakan penghijauan di sekitar rumah dan lingkungan sekolah tempat kita menuntut ilmu.
d. Menghemat penggunaan air.
e. Ikut dalam gerakan cinta lingkungan hidup.
f. Menghemat penggunaan listrik dan bahan bakar kendaraan
bermotor.
Soal Uraian:
Jelaskan mengapa materi tentang "Membangun Persahabatan dengan Alam" perlu dipelajari, terutama dalam kaitannya dengan pandangan Gereja?
Uraikan mengapa alam dianggap sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia menurut teks pengantar di atas!
Dalam Ensiklik Laudato Si Artikel 84, disebutkan bahwa "tanah, air, gunung, semuanya ibarat belaian Allah." Jelaskan makna pernyataan tersebut dalam konteks hubungan manusia dengan alam!
Berdasarkan teks "Untuk Dipahami," sebutkan dan jelaskan empat perilaku manusia yang dapat menyebabkan kerusakan alam serta dampak negatifnya!
Sebagai seorang remaja, langkah konkret apa saja yang dapat Anda lakukan untuk ikut terlibat aktif dalam usaha menjaga dan memelihara alam lingkungan? Berikan minimal lima contoh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar