Selasa, 25 Agustus 2026

Sakramen Perkawinan


Tujuan Pembelajaran

Peserta didik dapat memahami ajaran gereja tentang perkawinan sebagai sakramen dan berperan menciptakan keharmonisan keluarga sehingga mampu mensyukuri kehadiran orang tua di tengah-tengah keluarga.

Ayat yang perlu direnungkan: 

“Apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia” (Mrk. 10:9)

Hidup berkeluarga dalam ajaran iman Katolik adalah panggilan Allah. Hidup berkeluarga bukan sekedar keputusan dua pribadi yang ingin berkeluarga. Tuhan ikut campur tangan di dalamnya, yakni memanggil kedua insan, laki-laki dan perempuan, untuk bersatu dalam ikatan perkawinan hingga membentuk sebuah keluarga yang bernilai luhur. Panggilan untuk hidup dalam sebuah perkawinan sudah menjadi kodrat pria dan wanita, sebagaimana mereka diciptakan dari tangan Pencipta. Pria dan wanita diciptakan satu untuk yang lain, “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja” (Kej 2:18). “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging” (Kej 2:24).

 

Mendalami Makna Perkawinan dalam Kehidupan sehari-hari

Dalam proses hidup manusia sebelum sampai pada keputusan bebas untuk memasuki jenjang perkawinan, ada beberapa tahapan yang harus dilalui bersama orang lain, yaitu masa pergaulan, masa pacaran dan masa pertunangan. Mempertahankan hidup perkawinan tidaklah mudah seperti yang dibayangkan oleh mereka yang belum memasuki jenjang perkawinan. Dibutuhkan cinta tanpa syarat, pengorbanan, keterbukaaan untuk saling menerima diri, dan kesetiaan.


Memahami Perkawinan dalam Gereja Katolik

Bacalah kutipan teks Kitab Suci berikut ini: 

Kejadian 2:18-25

18TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” 19Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiaptiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu. 20 Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia. 21 Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. 22 Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. 23 Lalu berkatalah manusia itu: “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari lakilaki.” 24 Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. 25 Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.

Efesus 5:22-33

22 Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, 23 karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. 24 Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. 25 Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya 26 untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, 27 supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela. 28 Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. 29 Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, 30 karena kita adalah anggota tubuh-Nya. 31 Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. 32 Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat. 33 Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya

Matius 19:1-9

1 Setelah Yesus selesai dengan pengajaran-Nya itu, berangkatlah Ia dari Galilea dan tiba di daerah Yudea yang di seberang sungai Yordan. 2 Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan Ia pun menyembuhkan mereka di sana. 3 Maka datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: “Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?” 4 Jawab Yesus: “Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? 5 Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. 6 Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” 7 Kata mereka kepada-Nya: “Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?” 8 Kata Yesus kepada mereka: “Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. 9 Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah.”

 Pokok-pokok penegasan sebagai berikut:

  1. Kitab Kejadian 2:18-25 menegaskan bahwa sejak penciptaan manusia pertama, Allah telah meneguhkan keluhuran dari sebuah perkawinan. Allah telah menyatakan bahwa perkawinan merupakan penyatuan dua pribadi menjadi satu keutuhan yang tak terpisahkan.
  2. Keluhuran perkawinan dalam Gereja Katolik karena campur tangan Allah yang dikukuhkan dalam bentuk sakramen. Hubungan antara seorang perempuan dan seorang laki-laki yang diikat dalam perkawinan adalah hubungan yang bersifat pribadi yang didasarkan pada kasih.
  3. Perkawinan dalam Gereja Katolik disebut sebagai sakramen karena melambangkan hubungan antara Kristus dan Gereja-Nya (lih. Ef. 5:22-33).
  4. Sifat perkawinan Katolik pada hakikatnya adalah monogami dan tak terceraikan. Monogami artinya utuh tidak terbagi, satu laki-laki dan satu perempuan. Tak terceraikan artinya tetap, karena apa yang telah dipersatukan oleh Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia. (lih. Mat. 19:6; Mrk. 10:9). “Ciri-ciri hakiki perkawinan ialah kesatuan dan sifat tak dapat diputuskan, yang dalam perkawinan Kristiani memperoleh kekukuhan khusus atas dasar sakramen” (KHK Kan. 1056).
  5. Arah dan tujuan perkawinan Katolik adalah kesejahteraan suami istri sebagai pasangan, lalu keterbukaan terhadap keturunan atau kelahiran anak dan pendidikan anak. Jadi, tidak memiliki keturunan bukan menjadi alasan untuk perceraian karena adanya sifat perkawinan itu sendiri, yaitu monogami dan tak terceraikan.
  6. Dengan menghayati hidup perkawinan sebagai sakramen, maka keluarga Kristiani akan dijiwai dengan rahmat Allah, sehingga penuh dengan sukacita dalam menjalani hidup berkeluarga. 

Kerjakan 5 soal uraian ini:

  1. Jelaskan bagaimana ajaran iman Katolik memandang hidup berkeluarga sebagai sebuah panggilan Allah, serta hubungannya dengan penciptaan pria dan wanita berdasarkan Kitab Kejadian!

  1. Berdasarkan surat Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus (Ef. 5:22-33), mengapa perkawinan dalam Gereja Katolik disebut dan dihayati sebagai sebuah sakramen?

  2. Mengapa sifat perkawinan Katolik dinyatakan sebagai monogami dan tak terceraikan? Jelaskan makna dari kedua sifat tersebut beserta dasar Kitab Sucinya!

  3. Berdasarkan Injil Matius 19:1-9, bagaimana pandangan Yesus mengenai perceraian dan alasan ketegaran hati manusia pada zaman Musa?

  4. Sebutkan dan jelaskan arah serta tujuan utama dari perkawinan Katolik, serta mengapa tidak memiliki keturunan tidak dapat dijadikan alasan untuk bercerai!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sorotan

Pengantar

  Selamat Datang di Ruang Belajar Kita Salam damai dan sukacita dalam Kristus. 🙏 Halo teman-teman! Selamat datang di blog pembelajaran Pen...