Rabu, 26 Agustus 2026

Allah sebagai Sumber Keselamatan Sejati

 


Tujuan Pembelajaran:

Peserta didik mampu memahami ajaran Gereja bahwa Allah sumber keselamatan sejati dan berani memberi kesaksian tentang Allah yang menyelamatkan.

 Ayat yang perlu direnungkan : 

“Tidak ada Allah selain dari pada-Ku! Allah yang adil dan Juruselamat, tidak ada yang lain kecuali Aku!” (Yes. 45:21)

Keselamatan menjadi dambaan setiap orang. Keselamatan dapat diartikan terbebas dari bahaya, malapetaka, bencana, tidak mendapat gangguan, penyelamatan jiwa dari dosa dan kematian. Demikian berharga keselamatan dalam hidup setiap orang, maka setiap orang akan berusaha dengan segenap tenaga dan dengan berbagai cara untuk memperoleh keselamatan tersebut. Bagi kita orang beriman, kerinduan akan keselamatan bersumber kepada Allah yang telah memberikan kehidupan ini. Benarkah Allah menjadi sumber keselamatan bagi manusia? Bagaimana dengan kalian? Jika Allah menjadi sumber keselamatan, apakah hal itu tampak dalam perilaku kita sehari-hari? 

Setelah pembelajaran pada subbab pertama ini, kalian diharapkan sungguhsungguh mengimani Allah sebagai satu-satunya sumber keselamatan dalam hidup, sehingga kalian mampu bersyukur dan berani memberi kesaksian tentang Allah yang menyelamatkan. Kehadiran kalian dapat membawa suka cita dan berkat bagi sesama.

 

Memahami berbagai paham sumber keselamatan yang ada dalam masyarakat

  1. Seringkali ketika terdesak dan dalam keadaan putus asa, manusia lupa kepada siapa harus menyandarkan hidupnya. Tidak jarang manusia lebih memilih cara yang instan dan menyandarkan keselamatan diri pada kekayaan atau kemewahan duniawi.
  2. Orang seperti ini akan menghalalkan segala macam cara untuk mencapai tujuannya, termasuk bersekutu dengan kekuatan gaib yang dianggap bisa memberikan jaminan keselamatan. Begitu pula dengan orang yang memuja pengetahuan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
  3. Benarkah semua itu bisa dijadikan sandaran hidup dan jaminan keselamatan? Bagaimana dengan diri kita sebagai orang beriman? Kepada siapakah kita akan menyandarkan hidup kita? Mari kita memahami sumber keselamatan sejati berdasarkan Kitab Suci berikut ini!

Memahami Allah sebagai sumber keselamatan sejati

1.       Bacalah dan renungkanlah bacaan Kitab Suci dari Kisah Para Rasul 19:1-8,23- 29,32 dan Injil Lukas 15:11-32 berikut ini!

Kisah Para Rasul. 19:1-8,23-29,32

1 Ketika Apolos masih di Korintus, Paulus sudah menjelajah daerah-daerah pedalaman dan tiba di Efesus. Di situ didapatinya beberapa orang murid. 2 Katanya kepada mereka: “Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu menjadi percaya?” Akan tetapi mereka menjawab dia: “Belum, bahkan kami belum pernah mendengar, bahwa ada Roh Kudus.” 3 Lalu kata Paulus kepada mereka: “Kalau begitu dengan baptisan manakah kamu telah dibaptis?” Jawab mereka: “Dengan baptisan Yohanes.” 4 Kata Paulus: “Baptisan Yohanes adalah pembaptisan orang yang telah bertobat, dan ia berkata kepada orang banyak, bahwa mereka harus percaya kepada Dia yang datang kemudian dari padanya, yaitu Yesus.” 5 Ketika mereka mendengar hal itu, mereka memberi diri mereka dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. 6 Dan ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat. 7 Jumlah mereka adalah kira-kira dua belas orang. 8 Selama tiga bulan Paulus mengunjungi rumah ibadat di situ dan mengajar dengan berani. Oleh pemberitaannya ia berusaha meyakinkan mereka tentang Kerajaan Allah. 23 Kira-kira pada waktu itu timbul huru-hara besar mengenai Jalan Tuhan. 24 Sebab ada seorang bernama Demetrius, seorang tukang perak, yang membuat kuilkuilan dewi Artemis dari perak. Usahanya itu mendatangkan penghasilan yang tidak sedikit bagi tukang-tukangnya. 25 Ia mengumpulkan mereka bersama-sama dengan pekerja-pekerja lain dalam perusahaan itu dan berkata: “Saudara-saudara, kamu tahu, bahwa kemakmuran kita adalah hasil perusahaan ini! 26 Sekarang kamu sendiri melihat dan mendengar, bagaimana Paulus, bukan saja di Efesus, tetapi juga hampir di seluruh Asia telah membujuk dan menyesatkan banyak orang dengan mengatakan, bahwa apa yang dibuat oleh tangan manusia bukanlah dewa. 27 Dengan jalan demikian bukan saja perusahaan kita berada dalam bahaya untuk dihina orang, tetapi juga kuil Artemis, dewi besar itu, berada dalam bahaya akan kehilangan artinya. Dan Artemis sendiri, Artemis yang disembah oleh seluruh Asia dan seluruh dunia yang beradab, akan kehilangan kebesarannya.” 28 Mendengar itu meluaplah amarah mereka, lalu mereka berteriak-teriak, katanya: “Besarlah Artemis dewi orang Efesus!” 29 Seluruh kota menjadi kacau dan mereka ramai-ramai membanjiri gedung kesenian serta menyeret Gayus dan Aristarkhus, keduanya orang Makedonia dan teman seperjalanan Paulus. 32 Sementara itu orang yang berkumpul di dalam gedung itu berteriak-teriak; yang seorang mengatakan ini dan yang lain mengatakan itu, sebab kumpulan itu kacau-balau dan kebanyakan dari mereka tidak tahu untuk apa mereka berkumpul.

 Lukas 15:11-32

 11 Yesus berkata lagi: “Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki. 12 Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. 13 Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. 14 Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan ia pun mulai melarat. 15 Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. 16 Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun yang memberikannya kepadanya. 17 Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. 18 Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, 19 aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. 20 Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. 21 Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa. 22 Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. 23 Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. 24 Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria. 25 Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian. Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. 27 Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat. 28Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia. 29 Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabatsahabatku. 30 Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia. 31 Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. 32 Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.”

Pokok Penegasan:

  1. Demikian berharga keselamatan bagi hidup setiap orang sehingga mereka berusaha dengan segenap tenaga bahkan mungkin berbagai cara untuk memperoleh keselamatan dalam hidupnya. Mereka beranggapan bahwa keselamatan dapat diperoleh dari mana saja. Ada orang menyandarkan keselamatan hidup mereka pada kekuatan gaib, harta kekayaan, maupun kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai sumber keselamatan.
  2. Bagi orang beriman, Allah adalah satu-satunya sumber keselamatan sejati. Hal ini disampaikan oleh Allah sendiri dalam berbagai kesempatan peristiwa hidup manusia. Hal tersebut tampak dalam beberapa kutipan. “Aku, Akulah TUHAN dan tidak ada juruselamat selain dari pada-Ku. Akulah yang memberitahukan, menyelamatkan dan mengabarkan, dan bukannya allah asing yang ada di antaramu. Kamulah saksi-saksi-Ku,” demikianlah firman TUHAN, “dan Akulah Allah” (Yes. 43:11-12), “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia” (Yohanes 3:16-17). Bahkan ketika kita sudah berpaling dari Allah, karena tawaran kenikmatan duniawi, yang ternyata membawa kesengsaraan hidup. Allah tampil sebagai penyelamat dengan kerelaannya menerima kita Kembali ke dalam pangkuanNya (bdk. Luk. 15:11-32).
  3. Karya penyelamatan Allah tetap berlangsung hingga kini melalui pelayanpelayan-Nya yang telah dipilih dan ditetapkan oleh Putera-Nya, Yesus Kristus. Sampai saat ini, Yesus Kristus masih tetap berkarya menyelamatkan manusia, yaitu melalui Gereja-Nya yang terungkap dalam berbagai bidang pelayanan dan perayaan-perayaan sakramen.
  4. Bagi umat Kristiani, merayakan Perayaan Ekaristi dan perayaan sakramen yang lainnya merupakan sarana untuk menimba dan menerima rahmat pengudusan dari Allah sebagai sumber keselamatan.
  5. Selain menghayati Allah sebagai sumber keselamatan, kita pun harus menjadi sarana keselamatan bagi orang lain. Misalnya, dengan membantu teman yang kesulitan dalam memahami materi pelajaran, menerima orang lain tanpa memperhitungkan jasanya, penampilan, agama atau juga latar belakang status sosialnya, menyisihkan sebagian rejeki kita miliki untuk membantu mereka yang kekurangan, menjadi sahabat bagi mereka yang tersisihkan dalam pergaulan dan sebagainya.

Kerjakan 5 soal uraian ini:

  1. Jelaskan berbagai paham atau bentuk kecenderungan manusia di dalam masyarakat yang sering dijadikan sandaran hidup dan jaminan keselamatan palsu ketika berada dalam keadaan terdesak!
  1. Mengapa hanya Allah yang diimani sebagai satu-satunya sumber keselamatan sejati bagi umat beriman? Jelaskan dengan menyertakan dasar Kitab Sucinya!

  2. Berdasarkan perumpamaan Anak yang Hilang dalam Injil Lukas 15:11-32, bagaimana gambaran sikap Allah sebagai penyelamat ketika manusia telah jatuh ke dalam dosa dan berpaling dari-Nya?

  3. Bagaimana karya penyelamatan Allah yang diprakarsai oleh Yesus Kristus tetap berlangsung dan dirayakan oleh umat Kristiani pada masa kini?

  4. Sebutkan dan jelaskan tindakan nyata yang dapat kamu lakukan dalam kehidupan sehari-hari untuk menjadi sarana kesaksian dan membawa keselamatan/kebaikan bagi sesama!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sorotan

Pengantar

  Selamat Datang di Ruang Belajar Kita Salam damai dan sukacita dalam Kristus. 🙏 Halo teman-teman! Selamat datang di blog pembelajaran Pen...