Agar kita mampu menjabarkan sikap
dan pandangan Gereja tentang keluhuran martabat manusia dan pada akhirnya mampu
bersyukur dengan membangun sikap menghargai keluhuran martabat hidup manusia.
“Segala sesuatu di dunia ini harus diarahkan kepada manusia
sebagai pusat dan puncaknya” (Gaudium et Spes art. 12).
Pengantar
Setiap orang adalah pribadi terhormat dan memiliki martabat yang luhur. Hal ini yang membedakan manusia dengan ciptaan lain, karena diciptakan menurut gambar dan rupa Sang Pencipta. Berfirmanlah Allah, “Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” (Kejadian 1:26). Manusia harus dihormati atas dasar keluhurannya sebagai citra Allah. Kesadaran ini memunculkan pertanyaan dalam diri kita, kalau manusia mempunyai martabat luhur sebagai citra Allah, mengapa masih banyak pelanggaran terhadap keluhuran martabat manusia? Apa yang bisa kita lakukan untuk memperjuangkan keluhuran martabat manusia?
Memahami keluhuran martabat manusia berdasarkan Kitab Suci
Gaudium et Spes art. 12 (Manusia diciptakan menurut gambar Allah)
Kaum beriman maupun tak beriman hampir sependapat, bahwa segala sesuatu di dunia ini harus diarahkan kepada manusia sebagai pusat dan puncaknya. Apakah manusia itu? Di masa silam dan sekarang pun ia mengemukakan banyak pandangan tentang dirinya, pendapat-pendapat yang beraneka pun juga bertentangan: seringkali ia menyanjung-nyanjung dirinya sebagai tolok ukur yang mutlak, atau merendahkan diri hingga putus asa; maka ia seraba bimbang dan gelisah. Gereja ikut merasakan kesulitan-kesulitan itu secara mendalam. Diterangi oleh Allah yang mewahyukan Diri, Gereja mampu menjawab kesukaran-kesukaran itu, untuk melukiskan keadaan manusia yang sesungguhnya, menjelaskan kelemahan-kelemahannya, sehingga serta merta martabat dan panggilannya dapat dikenali dengan cermat. Adapun kitab suci mengajarkan bahwa manusia diciptakan “menurut gambar Allah”; ia mampu mengenal dan mengasihi Penciptanya; oleh Allah manusia ditetapkan sebagai tuan atas semua makhluk di dunia ini[8], untuk menguasainya dan menggunakannya sambil meluhurkan Allah[9]. “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. Engkau menjadikannya berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya” (Mzm 8:5-7). Tetapi Allah tidak menciptakan manusia seoarng diri: sebab sejak awal mula “Ia menciptakan mereka pria dan wanita” (Kej 1;27). Rukun hidup mereka merupakan bentuk pertama persekutuan antar pribadi. Sebab dari kodratnya yang terdalam manusia bersifat sosial; dan tanpa berhubungan dengan sesama ia tidak dapat hidup atau mengembangkan bakat-pembawaannnya. Maka, seperti kita baca pula dalam Kitab suci, Allah melihat “segala sesuatu yang telah dibuat-Nya, dan itu semua amat baiklah adanya” (Kej 1:31).
Markus 10:46-52
46 Lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerikho. Dan ketika Yesus keluar dari Yerikho, bersama-sama dengan murid-murid-Nya dan orang banyak yang berbondong-bondong, ada seorang pengemis yang buta, bernama Bartimeus, anak Timeus, duduk di pinggir jalan. 47 Ketika didengarnya, bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru: “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” 48 Banyak orang menegornya supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: “Anak Daud, kasihanilah aku!” 49 Lalu Yesus berhenti dan berkata: “Panggillah dia!” Mereka memanggil orang buta itu dan berkata kepadanya: “Kuatkan hatimu, berdirilah, Ia memanggil engkau.” 50 Lalu ia menanggalkan jubahnya, ia segera berdiri dan pergi mendapatkan Yesus. 51 Tanya Yesus kepadanya: “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Jawab orang buta itu: “Rabuni, supaya aku dapat melihat!” 52 Lalu kata Yesus kepadanya: “Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!” Pada saat itu juga melihatlah ia, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.
Untuk Dipahami
- Dalam kehidupan masyarakat, masih dapat kita temukan berbagai pandangan tentang keluhuran martabat manusia, antara lain: Seseorang dihargai karena penampilannya, seseorang dihargai karena harta kekayaan yang dimilikinya.
- Seseorang dihargai karena jabatan atau kekuasaan yang dimilikinya. 2. Contoh perendahan martabat manusia:
- Perdangangan wanita dan anak-anak. Mereka diperlakukan seperti barang atau dijadikan obyek yang dapat diperjualbelikan sesuka hatinya.
- Perbudakan. Kaum buruh diperalat semata-mata untuk menarik keuntungan dan tidak diperlakukan sebagai pribadi yang bebas dan bertanggung jawab. Anakanak diperas tenaganya dengan imbalan yang sangat rendah, bahkan kesempatan untuk mengenyam pendidikan dilenyapkan.
- Sebagai remaja, terkadang kita juga melakukan berbagai bentuk perendahan martabat manusia, seperti merasa diri paling hebat, orang lain dianggap lebih rendah, merasa paling benar, paling pandai, orang lain dianggap bodoh atau tidak berkualitas, mengucilkan teman karena perbedaan keyakinan, status sosial, suku, dan sebagainya.
- Bagaimana seharusnya sikap kita sebagai seorang kriatiani? Iman kristiani mengakui, menghargai, dan menjunjung tinggi keluhuran martabat manusia. Manusia adalah citra Allah yang mempunyai kedudukan paling luhur di antara segala ciptaan Tuhan yang lainnya. Keluhuran manusia tidak hanya karena dibekali akal budi, hati nurani, dan kehendak bebas. Tetapi, “segala sesuatu di dunia diarahkan kepada manusia sebagai pusat dan puncaknya.” (Gaudium et Spes art 12).
- Setiap orang yang meluhurkan martabat dirinya sendiri dan sesamanya, sama artinya dengan meluhurkan Allah sendiri sebagai Penciptanya. (lih. Mzm. 8: 3-9).
- Semasa hidupnya di dunia, Yesus sendiri senantiasa menjunjung tinggi dan memperjuangkan keluhuran martabat manusia. Beberapa contoh sikap dan tindakan-Nya dalam menjunjung tinggi dan memperjuagkan keluhuran martabat manusia:
a. Yesus memanggil murid-murid-Nya dari kalangan anggota
masyarakat yang sederhana, bahkan cenderung penghasilannya tidak menentu atau
berkekurangan. Seperti Petrus dan Andreas, Yakobus dan Yohanes, mereka adalah
para nelayan, yang hidupnya bergantung pada hasil tangkapan ikan yang diperolehnya.
Mereka bukan dari golongan orang-orang kaya yang berkelimpahan dengan kemewahan
harta duniawi.
b. Yesus memanggil murid-murid-Nya dari golongan orang yang
dianggap para pendosa, yaitu Matius dan Zakheus. Mereka adalah para pemungut
cukai. Oleh masyarakat Yahudi, mereka dianggap sebagai penipu rakyat dengan
menaikkan obyek pajak. Sebagian diserahkan ke penjajah Romawi, sebagian
dinikmati dirinya sendiri. Maka mereka dianggap sebagai orang-orang berdosa
yang harus dijauhi.
c. Yesus dalam pengajarannya sangat memuji persembahan
seorang janda miskin yang memberikan persembahan, membela Maria Magdalena.
Tindakan Yesus ini menjadi teladan bagi setiap orang bahwa perempuan juga
memiliki martabat luhur yang setara dengan kaum laki-laki.
d. Yesus membiarkan anak-anak kecil datang kepada-Nya. Bagi
para murid, kehadiran anak-anak kecil dianggap sebagai pengganggu, tetapi Yesus
justru membiarkan mereka datang kepada-Nya.
e. Yesus membela mereka yang lemah dan tak berdaya.
Peristiwa penyembuhan Bartimeus mengajarkan kepada kita tentang sikap terhadap
mereka yang berbeda status sosialnya. Mereka yang lemah, miskin, tersingkir,
dan terabaikan adalah mereka yang membutuhkan perhatian dan pertolongan kita.
- Sebagai remaja kita dapat turut serta membela keluhuran martabat manusia dengan cara:
a. Bergaul dengan semua orang tanpa membedakan status
sosial, suku, agama, dan golongan,
b. Membantu mereka yang lemah, disingkirkan dalam pergaulan
dan miskin.
c. Menghargai orang lain dengan segala keberadaannya.
d. Dan sebagainya.
Berikut adalah 5 soal uraian , silahkan kerjakan:
Jelaskan makna manusia sebagai "citra Allah" berdasarkan Kitab Suci (Kejadian 1:26) dan kaitannya dengan keluhuran martabat setiap pribadi!
Analisis pandangan dokumen Gaudium et Spes artikel 12 mengenai kedudukan manusia di antara ciptaan Allah lainnya di dunia ini!
Berikan 3 contoh tindakan perendahan martabat manusia yang sering terjadi dalam kehidupan masyarakat modern, serta jelaskan alasan tindakan tersebut bertentangan dengan iman Kristiani!
Bagaimana kisah penyembuhan Bartimeus (Markus 10:46-52) menggambarkan sikap dan keteladanan Yesus dalam menjunjung tinggi serta membela martabat orang yang tersingkir?
Sebutkan dan jelaskan langkah-langkah konkret yang dapat dilakukan oleh seorang remaja dalam kehidupan sehari-hari untuk menghargai dan memperjuangkan keluhuran martabat sesamanya tanpa membeda-bedakan latar belakang!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar