Rabu, 26 Agustus 2026

Iman sebagai Tanggapan atas Karya Keselamatan Allah

 

Tujuan Pembelajaran

Peserta didik mampu memahami makna hidup beriman sesuai ajaran Yesus dan mampu melakukan tindakan konkrit sebagai perwujudan imannya sehingga mampu menunjukkan sikap taat dalam menjalankan kehidupan beriman.

 Ayat yang perlu direnungkan :

“Iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.” (Yak. 2:26)

Allah sebagai sumber keselamatan sejati selalu menawarkan kasih-Nya kepada manusia tanpa batas. Kasih Allah bersifat universal. Tidak hanya terbatas pada bangsa Israel. Kasih Allah diperuntukkan bagi semua orang dari berbagai suku bangsa. Kesadaran bahwa Allah senantiasa hadir, menyapa, membimbing, menghibur, dan menuntun, mendorong manusia untuk menanggapinya dengan penuh iman. Pengalaman ini mengandung dua segi yang berkaitan satu sama lain. Pertama, Allah senantiasa berkehendak menyelamatkan manusia. Allah menyatakan diriNya, menyapa manusia dengan berbagai cara. Kedua, manusia menanggapi karya keselamatan dan sapaan Allah dengan berbagai macam cara. Pernyataan dan sapaan Allah disebut wahyu, sedangkan tanggapan manusia atas karya keselamatan atau sapaan Allah disebut iman. Setelah selesai pembelajaran kalian diharapkan mampu menanggapi karya keselamatan Allah dengan beriman dan mampu mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari.

 Memahami makna beriman dalam hidup sehari-hari

  1.  Begitu banyak orang menyaksikan atraksi yang dilakukan oleh James merasa takjub dan kagum terhadap hal yang hampir mustahil dilakukan. Ketika James bertanya, ”Apakah Anda percaya kalau saya mampu melakukan hal itu dengan mata tertutup?” Mereka serentak menjawab “Ya saya percaya.” Tetapi ketika James bertanya lebih lanjut: “Adakah yang bersedia melakukan untuk saya?” Tak seorang pun yang berani untuk melakukannya. Jawaban “percaya” dari mereka, ternyata hanya tinggal diam di lidah saja.
  2. Percaya seharusnya menuntut seseorang berani melakukan apa yang dipercayai. Seperti yang dilakukan oleh anak kecil itu, dia mau melakukan karena dia sangat yakin bahwa James tidak akan mencelakainya.
  3. Sama halnya dengan beriman kepada Allah. Kita berpasrah diri kepada-Nya, membiarkan Allah menggendong kita, apa pun yang terjadi. Sikap seperti ini muncul karena didasari sikap percaya bahwa Allah pasti akan memberikan yang terbaik bagi hidupnya. Hal ini membuang keraguan, memunculkan sikap berserah diri secara total mengikuti kehendak Dia yang akan menggendong kita dalam menyeberangi lautan kehidupan ini.

 

Memahami Ajaran Gereja tentang beriman

1.       Bacalah Dokumen Konsili Vatikan II tentang Dei Verbum art. 5 dan Kitab Suci dari Ibrani 11:1-3, 8-12 dan Yakobus 2: 14-26.

Dei Verbum art. 5

Kepada Allah yang menyampaikan wahyu manusia wajib menyatakan “ketaatan iman”. Demikianlah manusia dengan bebas menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah, dengan mempersembahkan “kepatuhan akalbudi serta kehendak yang sepenuhnya kepada Allah yang mewahyukan”, dan dengan secara sukarela menerima sebagai kebenaran wahyu yang dikurniakan oleh Nya. Supaya orang dapat beriman seperti itu, diperlukan rahmat Allah yang mendahului serta menolong, pun juga bantuan batin Roh Kudus, yang menggerakkan hati dan membalikkannya kepada Allah, membuka mata budi, dan menimbulkan “pada semua orang rasa manis dalam menyetujui dan mempercayai kebenaran”. Supaya semakin mendalamlah pengertian akan wahyu, Roh Kudus itu juga senantiasa menyempurnakan iman melalui kurnia-kurnia-Nya

 Ibrani. 11:1-3, 8-12 “

1 Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. 2 Sebab oleh imanlah telah diberikan kesaksian kepada nenek moyang kita. 3 Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat. 8 Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui. 9 Karena iman ia diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing dan di situ ia tinggal di kemah dengan Ishak dan Yakub, yang turut menjadi ahli waris janji yang satu itu. 10 Sebab ia menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah. 11 Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia. 12 Itulah sebabnya, maka dari satu orang, malahan orang yang telah mati pucuk, terpancar keturunan besar, seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, yang tidak terhitung banyaknya.

 Yakobus 2: 14-26

14 Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? 15 Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, 16 dan seorang dari antara kamu berkata: “Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!”, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? 17 Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. 18 Tetapi mungkin ada orang berkata: “Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan”, aku akan menjawab dia: “Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.” 19 Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar. 20 Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong? 21 Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah? 22 Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna. 23 Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: “Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Karena itu Abraham disebut: “Sahabat Allah.” 24 Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman. 25 Dan bukankah demikian juga Rahab, pelacur itu, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia menyembunyikan orangorang yang disuruh itu di dalam rumahnya, lalu menolong mereka lolos melalui jalan yang lain? 26 Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.

 Pokok Penegasan:

  1. Allah senantiasa hadir menyapa, membimbing, menghibur, menuntun, dan mendorong manusia untuk menanggapi dengan penuh iman. Iman berarti tanggapan manusia atas tawaran kasih Allah yang menyelamatkan. Tanggapan tersebut diwujudkan dengan penyerahan diri secara total kepada Allah yang menyatakan diri tidak karena terpaksa, tetapi dengan sukarela. Dalam iman, manusia menyadari dan mengakui bahwa Allah yang tak terbatas berkenan memasuki hidup manusia yang serba terbatas, menyapa dan memanggilnya. Iman berarti juga jawaban atas panggilan Allah, penyerahan pribadi kepada Allah yang menjumpai manusia secara pribadi juga. Dalam iman manusia menyerahkan diri kepada Sang Pemberi hidup, kepada Allah sebagai asal dan sumber keselamatan.
  2. Beriman kepada Allah harus tampak dalam kata-kata dan perbuatan. Maka orang disebut sungguh -sungguh beriman kalau mampu mewujudkan imannya dalam kehidupan sehari-hari. “Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah?” (Yak. 2:21). Bukan berarti perbuatan lebih penting dan iman menjadi tidak penting. “Karena iman bekerja sama dengan perbuatan. Dan oleh karena perbuatan iman menjadi sempurna.” (Yak. 2:22).
  3. Makna hidup beriman adalah:

  • Beriman tidak hanya sekadar tahu atau sekadar percaya, tetapi berani melakukan apa yang diketahui dan dipercayai.
  • Dengan kata lain, beriman kepada Allah, berarti menyerahkan diri secara total kepada Allah.
  • Penyerahan diri secara total itu muncul berdasarkan keyakinan bahwa Allah pasti akan memberikan dan melakukan yang terbaik bagi manusia. Yang dikehendaki Allah semata-mata kebahagiaan dan keselamatan manusia.
  • Sikap penyerahan diri secara total tersebut memungkinkan manusia tidak tawarmenawar apalagi memaksakan kehendak sendiri, tidak ragu-ragu.

Banyak cara yang dapat kita lakukan untuk mewujudkan iman dalam kehidupan sehari-hari, misalnya:

  • Berdoa dan mendaraskan pujian kepada Tuhan.
  • Merayakan Perayaan Ekaristi.
  • Membaca Kitab Suci.
  • Pantang dan puasa.
  • Berbela rasa pada yang miskin dan menderita.
  • Terlibat aktif dalam kegiatan Gereja.
  • Terlibat aktif dalam berbagai kegiatan di masyarakat.
Kerjakan 5 soal uraian ini:

  1. Jelaskan perbedaan antara sekadar "percaya" di lidah/bibir saja dengan sikap "beriman" yang sungguh-sungguh berdasarkan perumpamaan/kisah pemuda dan atraksi penyeberangan tali!

  2. Berdasarkan Dokumen Konsili Vatikan II (Dei Verbum art. 5), jelaskan apa yang dimaksud dengan ketaatan iman (obsequium fidei) dan peran Roh Kudus dalam membantu manusia mencapai iman tersebut!

  3. Mengapa Bapa Abraham dijadikan teladan ketaatan iman dalam Kitab Suci? Jelaskan bukti-bukti ketaatan imannya berdasarkan surat Ibrani 11:1-3, 8-12!

  4. Berdasarkan surat Yakobus 2:14-26, jelaskan hubungan antara iman dan perbuatan, serta mengapa iman tanpa perbuatan dinyatakan sebagai "iman yang mati"!

  5. Sebutkan dan jelaskan langkah-langkah atau bentuk tindakan konkret yang dapat kamu lakukan dalam kehidupan sehari-hari sebagai perwujudan nyata dari imanmu kepada Allah!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sorotan

Pengantar

  Selamat Datang di Ruang Belajar Kita Salam damai dan sukacita dalam Kristus. 🙏 Halo teman-teman! Selamat datang di blog pembelajaran Pen...