Rabu, 26 Agustus 2026

Pengantar

 


Selamat Datang di Ruang Belajar Kita

Salam damai dan sukacita dalam Kristus. 🙏

Halo teman-teman! Selamat datang di blog pembelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti.

Blog ini dibuat sebagai ruang belajar bersama bagi peserta didik, guru, dan siapa saja yang ingin mengenal dan mendalami iman Katolik dengan cara yang lebih sederhana, menarik, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Di sini, kita tidak hanya akan menemukan materi pelajaran. Ada berbagai bahan belajar, refleksi iman, Kitab Suci, aktivitas dan tugas, doa, renungan, serta sumber-sumber lain yang dapat membantu kita belajar dan bertumbuh bersama.

Karena belajar agama bukan hanya tentang “tahu”, tetapi juga tentang bagaimana kita menghidupi apa yang kita percaya. Kita belajar mengenal Yesus, tetapi juga belajar menjadi seperti yang diajarkan-Nya: mampu mengasihi, mengampuni, peduli kepada sesama, menjaga ciptaan Tuhan, berani berbuat baik, dan menjadi terang bagi orang lain.

Bagi teman-teman peserta didik, jadikan blog ini sebagai teman belajar. Kalian boleh membaca, mencari materi, merenung, bertanya, berdiskusi, dan menemukan hal-hal baru tentang iman dan kehidupan.

Bagi para guru, semoga ruang sederhana ini dapat menjadi salah satu teman dalam menyiapkan dan mengembangkan pembelajaran yang bermakna, kontekstual, dan menyenangkan bagi peserta didik.

Blog ini tentu belum sempurna. Karena itu, mari kita menjadikannya sebagai ruang yang terus bertumbuh. Jika ada ide, masukan, atau hal-hal yang dapat dikembangkan, jangan ragu untuk menyampaikannya.

Pada akhirnya, semoga setiap kali kita membuka halaman blog ini, kita tidak hanya pulang membawa pengetahuan baru, tetapi juga membawa inspirasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Belajar iman, bertumbuh dalam kasih, dan mewujudkannya dalam kehidupan.

Selamat belajar, selamat berefleksi, dan selamat bertumbuh bersama.

Tuhan memberkati setiap langkah kita. ✝️

Guru Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti

Januarius Carvallo,S.Ag

Iman sebagai Tanggapan atas Karya Keselamatan Allah

 

Tujuan Pembelajaran

Peserta didik mampu memahami makna hidup beriman sesuai ajaran Yesus dan mampu melakukan tindakan konkrit sebagai perwujudan imannya sehingga mampu menunjukkan sikap taat dalam menjalankan kehidupan beriman.

 Ayat yang perlu direnungkan :

“Iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.” (Yak. 2:26)

Allah sebagai sumber keselamatan sejati selalu menawarkan kasih-Nya kepada manusia tanpa batas. Kasih Allah bersifat universal. Tidak hanya terbatas pada bangsa Israel. Kasih Allah diperuntukkan bagi semua orang dari berbagai suku bangsa. Kesadaran bahwa Allah senantiasa hadir, menyapa, membimbing, menghibur, dan menuntun, mendorong manusia untuk menanggapinya dengan penuh iman. Pengalaman ini mengandung dua segi yang berkaitan satu sama lain. Pertama, Allah senantiasa berkehendak menyelamatkan manusia. Allah menyatakan diriNya, menyapa manusia dengan berbagai cara. Kedua, manusia menanggapi karya keselamatan dan sapaan Allah dengan berbagai macam cara. Pernyataan dan sapaan Allah disebut wahyu, sedangkan tanggapan manusia atas karya keselamatan atau sapaan Allah disebut iman. Setelah selesai pembelajaran kalian diharapkan mampu menanggapi karya keselamatan Allah dengan beriman dan mampu mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari.

 Memahami makna beriman dalam hidup sehari-hari

  1.  Begitu banyak orang menyaksikan atraksi yang dilakukan oleh James merasa takjub dan kagum terhadap hal yang hampir mustahil dilakukan. Ketika James bertanya, ”Apakah Anda percaya kalau saya mampu melakukan hal itu dengan mata tertutup?” Mereka serentak menjawab “Ya saya percaya.” Tetapi ketika James bertanya lebih lanjut: “Adakah yang bersedia melakukan untuk saya?” Tak seorang pun yang berani untuk melakukannya. Jawaban “percaya” dari mereka, ternyata hanya tinggal diam di lidah saja.
  2. Percaya seharusnya menuntut seseorang berani melakukan apa yang dipercayai. Seperti yang dilakukan oleh anak kecil itu, dia mau melakukan karena dia sangat yakin bahwa James tidak akan mencelakainya.
  3. Sama halnya dengan beriman kepada Allah. Kita berpasrah diri kepada-Nya, membiarkan Allah menggendong kita, apa pun yang terjadi. Sikap seperti ini muncul karena didasari sikap percaya bahwa Allah pasti akan memberikan yang terbaik bagi hidupnya. Hal ini membuang keraguan, memunculkan sikap berserah diri secara total mengikuti kehendak Dia yang akan menggendong kita dalam menyeberangi lautan kehidupan ini.

 

Memahami Ajaran Gereja tentang beriman

1.       Bacalah Dokumen Konsili Vatikan II tentang Dei Verbum art. 5 dan Kitab Suci dari Ibrani 11:1-3, 8-12 dan Yakobus 2: 14-26.

Dei Verbum art. 5

Kepada Allah yang menyampaikan wahyu manusia wajib menyatakan “ketaatan iman”. Demikianlah manusia dengan bebas menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah, dengan mempersembahkan “kepatuhan akalbudi serta kehendak yang sepenuhnya kepada Allah yang mewahyukan”, dan dengan secara sukarela menerima sebagai kebenaran wahyu yang dikurniakan oleh Nya. Supaya orang dapat beriman seperti itu, diperlukan rahmat Allah yang mendahului serta menolong, pun juga bantuan batin Roh Kudus, yang menggerakkan hati dan membalikkannya kepada Allah, membuka mata budi, dan menimbulkan “pada semua orang rasa manis dalam menyetujui dan mempercayai kebenaran”. Supaya semakin mendalamlah pengertian akan wahyu, Roh Kudus itu juga senantiasa menyempurnakan iman melalui kurnia-kurnia-Nya

 Ibrani. 11:1-3, 8-12 “

1 Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. 2 Sebab oleh imanlah telah diberikan kesaksian kepada nenek moyang kita. 3 Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat. 8 Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui. 9 Karena iman ia diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing dan di situ ia tinggal di kemah dengan Ishak dan Yakub, yang turut menjadi ahli waris janji yang satu itu. 10 Sebab ia menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah. 11 Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia. 12 Itulah sebabnya, maka dari satu orang, malahan orang yang telah mati pucuk, terpancar keturunan besar, seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, yang tidak terhitung banyaknya.

 Yakobus 2: 14-26

14 Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? 15 Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, 16 dan seorang dari antara kamu berkata: “Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!”, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? 17 Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. 18 Tetapi mungkin ada orang berkata: “Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan”, aku akan menjawab dia: “Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.” 19 Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar. 20 Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong? 21 Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah? 22 Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna. 23 Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: “Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Karena itu Abraham disebut: “Sahabat Allah.” 24 Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman. 25 Dan bukankah demikian juga Rahab, pelacur itu, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia menyembunyikan orangorang yang disuruh itu di dalam rumahnya, lalu menolong mereka lolos melalui jalan yang lain? 26 Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.

 Pokok Penegasan:

  1. Allah senantiasa hadir menyapa, membimbing, menghibur, menuntun, dan mendorong manusia untuk menanggapi dengan penuh iman. Iman berarti tanggapan manusia atas tawaran kasih Allah yang menyelamatkan. Tanggapan tersebut diwujudkan dengan penyerahan diri secara total kepada Allah yang menyatakan diri tidak karena terpaksa, tetapi dengan sukarela. Dalam iman, manusia menyadari dan mengakui bahwa Allah yang tak terbatas berkenan memasuki hidup manusia yang serba terbatas, menyapa dan memanggilnya. Iman berarti juga jawaban atas panggilan Allah, penyerahan pribadi kepada Allah yang menjumpai manusia secara pribadi juga. Dalam iman manusia menyerahkan diri kepada Sang Pemberi hidup, kepada Allah sebagai asal dan sumber keselamatan.
  2. Beriman kepada Allah harus tampak dalam kata-kata dan perbuatan. Maka orang disebut sungguh -sungguh beriman kalau mampu mewujudkan imannya dalam kehidupan sehari-hari. “Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah?” (Yak. 2:21). Bukan berarti perbuatan lebih penting dan iman menjadi tidak penting. “Karena iman bekerja sama dengan perbuatan. Dan oleh karena perbuatan iman menjadi sempurna.” (Yak. 2:22).
  3. Makna hidup beriman adalah:

  • Beriman tidak hanya sekadar tahu atau sekadar percaya, tetapi berani melakukan apa yang diketahui dan dipercayai.
  • Dengan kata lain, beriman kepada Allah, berarti menyerahkan diri secara total kepada Allah.
  • Penyerahan diri secara total itu muncul berdasarkan keyakinan bahwa Allah pasti akan memberikan dan melakukan yang terbaik bagi manusia. Yang dikehendaki Allah semata-mata kebahagiaan dan keselamatan manusia.
  • Sikap penyerahan diri secara total tersebut memungkinkan manusia tidak tawarmenawar apalagi memaksakan kehendak sendiri, tidak ragu-ragu.

Banyak cara yang dapat kita lakukan untuk mewujudkan iman dalam kehidupan sehari-hari, misalnya:

  • Berdoa dan mendaraskan pujian kepada Tuhan.
  • Merayakan Perayaan Ekaristi.
  • Membaca Kitab Suci.
  • Pantang dan puasa.
  • Berbela rasa pada yang miskin dan menderita.
  • Terlibat aktif dalam kegiatan Gereja.
  • Terlibat aktif dalam berbagai kegiatan di masyarakat.
Kerjakan 5 soal uraian ini:

  1. Jelaskan perbedaan antara sekadar "percaya" di lidah/bibir saja dengan sikap "beriman" yang sungguh-sungguh berdasarkan perumpamaan/kisah pemuda dan atraksi penyeberangan tali!

  2. Berdasarkan Dokumen Konsili Vatikan II (Dei Verbum art. 5), jelaskan apa yang dimaksud dengan ketaatan iman (obsequium fidei) dan peran Roh Kudus dalam membantu manusia mencapai iman tersebut!

  3. Mengapa Bapa Abraham dijadikan teladan ketaatan iman dalam Kitab Suci? Jelaskan bukti-bukti ketaatan imannya berdasarkan surat Ibrani 11:1-3, 8-12!

  4. Berdasarkan surat Yakobus 2:14-26, jelaskan hubungan antara iman dan perbuatan, serta mengapa iman tanpa perbuatan dinyatakan sebagai "iman yang mati"!

  5. Sebutkan dan jelaskan langkah-langkah atau bentuk tindakan konkret yang dapat kamu lakukan dalam kehidupan sehari-hari sebagai perwujudan nyata dari imanmu kepada Allah!

Beriman Kristiani

 

Tujuan Pembelajaran

Peserta didik mampu memahami Yesus Kristus sebagai tanda pewahyuan Allah yang paling agung, yang menjadi sumber dan kekhasan iman kristiani sehingga mendorong mereka untuk bersyukur dan mewujudkan imannya dalam hidup menggereja.

Ayat yang perlu direnungkan:

 “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun sudah mati” (Yoh. 11:25)

Iman adalah jawaban atas wahyu Allah, tanggapan atas tawaran karya keselamatan Allah, dan perjumpaan pribadi dengan Allah. Iman akan berkembang jika diwujudkan dalam perbuatan sehari-hari. Bagi seorang Kristiani, Yesus Kristus menjadi tanda agung pewahyuan Allah. Dalam dan melalui Yesus, Allah memperkenalkan diri secara sempurna. Dalam diri Yesus, Allah yang tidak kelihatan menjadi nyata. Janji Allah untuk menyelamatkan umat manusia terlaksana secara penuh dan nyata dalam diri Yesus. Yesus Kristus adalah ciri khas iman kristiani. Melalui pembelajaran ini, kalian diharapkan semakin sungguh-sungguh mengimani Tuhan Yesus sebagai tanda pewahyuan Allah paling agung, yang menjadi sumber dan ciri khas iman kristiani sehingga mampu bersyukur dan mewujudkan iman dalam hidup menggereja.

Memahami Ajaran Gereja tentang ciri khas iman kristiani

1.       Bacalah kutipan Kitab Suci dari Yohanes 14:6-10 dan dokumen Lumen Gentium art. 14 berikut ini!

Yohanes 14:6-10

6 Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku. 7 Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.” 8 Kata Filipus kepada-Nya: “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.” 9 Kata Yesus kepadanya: “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. 10 Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya. 11 Percayalah kepada-Ku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaanpekerjaan itu sendiri.

 Lumen Gentium art. 14

Maka terutama kepada umat beriman katoliklah Konsili suci mengarahkan perhatiannya. Berdasarkan Kitab suci dan Tradisi konsili mengajarkan, bahwa Gereja yang sedang mengembara ini perlu untuk keselamatan. Sebab hanya satulah Pengantara dan jalan keselamatan, yakni Kristus. Ia hadir bagi kita dalam tubuh-Nya, yakni Gereja. Dengan jelas-jelas menegaskan perlunya iman dan babtis (lih. Mrk 16:16; Yoh 3:5). Kristus sekaligus menegaskan perlunya Gereja, yang dimasuki orang-orang melalui babtis bagaikan pintunya. Maka dari itu andaikata ada orang, yang benar-benar tahu, bahwa Gereja katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan. Dimasukkan sepenuhnya kedalam sertifikat Gereja mereka, yang mempunyai Roh Kristus, menerima baik seluruh tata-susunan Gereja serta semua upaya keselamatan yang diadakan didalamnya, dan dalam himpunannya yang kelihatan digabunggkan dengan Kristus yang membimbingnya melalui Imam Agung dan para uskup, dengan ikatan-ikatan ini, yakni: pengakuan iman, sakramen-sakramen dan kepemimpinan gerejani serta persekutuan. Tetapi tidak diselamatkan orang, yang meskipun termasuk anggota Gereja namun tidak bertambah dalm cinta-kasih; jadi yang “dengan badan” memang berada dalam pangkuan Gereja, melainkan tidak “dengan hatinya”(26). Pun hendaklah semua Putera Gereja menyadari, bahwa mereka menikmati keadaan yang istimewa itu bukan karena jasa-jasa mereka sendiri, melainkan berkat rahmat Kristus yang istimewa pula. Dan bila mereka tidak menanggapi rahmat itu dengan pikiran, perkataan dan perbuatan, mereka bukan saja tidak diselamatkan, malahan akan diadili lebih keras.

 Pokok Penegasan:

  1. Bagi seorang kristiani, peristiwa pembaptisan merupakan pernyataan iman akan karya Allah yang menyelamatkan dan berpuncak dalam pribadi Yesus Kristus. Dialah Allah yang hadir di tengah-tengah kita, masuk dalam dimensi ruang dan waktu, merasakan suka duka manusia. Allah yang solider dengan kelemahan manusia.
  2.  Ciri khas iman Kristiani juga dinyatakan dalam Syahadat/Kredo atau pengakuan iman. Dalam Syahadat terungkap tentang iman akan Tri Tunggal Mahakudus. Inti pokok iman akan Allah Tri Tunggal adalah bahwa Allah (Bapa) menyelamatkan manusia dalam Kristus (Putera) oleh Roh Kudus. Ajaran mengenai Allah Tritunggal pertama-tama bukan berbicara tentang hidup Allah dalam diriNya sendiri, melainkan mengenai misteri Allah yang memberikan diri kepada manusia.
  3. Orang beriman kristiani adalah orang yang dalam keseharian hidupnya selalu dimotivasi dan diwarnai oleh iman kristianinya, bukan sekadar alasan yang cenderung bersifat lahiriah. Orang yang benar-benar beriman Kristiani adalah seorang yang religius, orang yang selalu menyandarkan hidupnya kepada karya Kristus yang menyelamatkan.
  4. Tiga aspek hidup beriman Kristiani:

  • Pengalaman iman: menyadari campur tangan Allah yang menyelamatkan dalam peristiwa hidup kita, yang berpuncak dalam diri Yesus kristus.
  • Penyerahan iman: menjawab dan menanggapi panggilan Allah, dengan menyerahkan diri kepada kehendak Allah, yang diwujudkan dalam hidup sehari-hari.
  • Pengetahuan iman: hal-hal mendasar yang harus dimengerti sebagai orang beriman sehingga mampu mempertanggungjawabkan imannya.

Cara mengungkapkan dan mewujudkan iman kristiani dalam hidup sehari-hari:

  • Mengikuti Perayaan Ekaristi pada hari minggu.
  • Mengaku dosa di hadapan imam.
  • Pantang dan puasa (matiraga).
  • Berdoa pribadi maupun doa bersama.
  • Ziarah.
  • Bela rasa pada yang menderita

Kerjakan 5 soal uraian ini:
  1. Mengapa Yesus Kristus disebut dan dihayati sebagai tanda pewahyuan Allah yang paling agung sekaligus menjadi sumber dan ciri khas iman Kristiani? Jelaskan berdasarkan Injil Yohanes 14:6-10!
  2. Berdasarkan dokumen Lumen Gentium art. 14, jelaskan peran Gereja Katolik sebagai sarana keselamatan serta apa konsekuensinya bagi anggota Gereja yang hanya terikat secara lahiriah ("dengan badan") tetapi tidak di dalam hati!

  3. Pengakuan iman Kristiani terungkap dalam Syahadat/Kredo mengenai Tri Tunggal Mahakudus. Jelaskan inti pokok ajaran iman akan Allah Tri Tunggal dalam relasinya dengan karya keselamatan manusia!

  4. Sebutkan dan jelaskan tiga aspek utama dalam kehidupan beriman Kristiani (Pengalaman iman, Penyerahan iman, dan Pengetahuan iman)!

  5. Tuliskan 5 contoh tindakan atau bentuk kegiatan konkret dalam kehidupan sehari-hari untuk mengungkapkan dan mewujudkan iman Kristiani, baik secara personal maupun bersama Gereja!

Iman dan Kebersamaan dalam Jemaat

 

Tujuan Pembelajaran

Peserta didik mampu memahami peran jemaat setempat dalam pengembangan iman sehingga mampu bersyukur dan tergerak untuk berperan secara aktif dalam berbagai kegiatan pengembangan iman di lingkungannya.

Karya keselamatan Allah tidak berhenti dalam suatu masa tertentu tetapi terus berlangsung sampai akhir zaman. Beriman atau menanggapi karya keselamatan Allah juga harus terus-menerus dilakukan sampai akhir hayat kita. Menjaga dan mengembangkan kehidupan beriman tentu saja tidaklah mudah. Ada banyak tantangan dan godaan yang akan ditemui., apalagi pada saat ini, di tengah gencarnya perkembangan digital. Dalam mengembangkan iman, tidak bisa kita lakukan sendiri tanpa kehadiran dan peran orang lain, baik sebagai pribadi maupun sebagai komunitas umat beriman di lingkungannya. Melalui pembelajaran ini, diharapkan kalian semakin memahami peran jemaat dalam pengembangan iman sehingga memotivasi kalian untuk ikut terlibat secara aktif dalam berbagai kegiatan pengembangan iman di dalam keluarga, lingkungan, atau paroki kalian.

 

Menimba inspirasi dari cara hidup Jemaat Perdana dalam pengembangan iman

1.       Bacalah Kisah Para Rasul 2:41-47 dan Kisah Para Rasul 4:32-37 berikut ini:

Kisah Para Rasul 2:41-47

41 Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. 42 Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. 43 Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda. 44 Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, 45 dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. 46 Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati,47 sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.

 Kisah Para Rasul 4:32-37

  1. 32 Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorang pun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama. 33 Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpahlimpah. 34 Sebab tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa 35 dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya. 36 Demikian pula dengan Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus. 37 Ia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul.

 Pokok Penegasan:

  1. Tanaman akan tumbuh dengan subur dan menghasilkan buah yang berlimpah jika dirawat, dan dipupuk atau dipelihara dengan baik. Demikian juga halnya dengan iman, agar dapat menghasilkan buah-buah keselamatan, maka tanaman perlu dipupuk dan dikembangkan.
  2. Usaha mengembangkan iman tidaklah mudah, banyak tantangan yang harus dihadapi baik yang bersifat internal maupun eksternal.” “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala” (Mat. 10:6).
  3. Kehadiran sesama jemaat beriman, baik keluarga, jemaat di lingkungan atau Gereja setempat sangat dibutuhkan karena hidup beriman memiliki dua aspek, yaitu aspek personal dan aspek sosial.
  4. Peran keluarga atau orang tua sangat penting dalam pengembangan iman, karena dari merekalah anak-anak mengenal imannya. Demikian juga jemaat sekitar memiliki peran yang tidak bisa diabaikan dalam pengembangan iman seseorang.
  5. Hal ini sangat nyata dari cara hidup Gereja Perdana (Kis. 2:41-47; 4:32-37), yaitu:

  • Mereka bertekun dalam pengajaran para rasul dan dalam persekutuan.
  • Selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.
  • Mereka saling peduli dengan membagikan harta mereka kepada mereka yang membutuhkan sehingga tidak ada yang kekurangan.
  • Dengan sehati mereka berkumpul setiap hari di Bait Allah.

Cara hidup Gereja Perdana dapat menjadi inspirasi bagi kita untuk terlibat secara aktif dalam perayaan iman bersama, seperti:

  • Perayaan Ekaristi.
  • Berdoa bersama secara bergilir di lingkungan.
  • Peduli kepada orang lain terutama yang membutuhkan, melalui kolekte, APP, aksi Adven/aksi natal.
  • Pendalaman iman.
  • Pendalaman Kitab Suci dan sebagainya.
Kerjakan 5 soal uraian ini:

  1. Jelaskan perbedaan antara sekadar "percaya" di bibir saja dengan sikap "beriman" yang sungguh-sungguh berdasarkan perumpamaan/kisah atraksi penyeberangan tali!
  1. Berdasarkan Dokumen Konsili Vatikan II (Dei Verbum art. 5), jelaskan apa yang dimaksud dengan ketaatan iman (obsequium fidei) dan bagaimana manusia menyerahkan diri secara utuh kepada Allah!

  2. Mengapa Nabi Abraham disebut sebagai Bapa Orang Beriman? Jelaskan bukti ketaatan imannya berdasarkan surat Ibrani 11:1-3, 8-12!

  3. Jelaskan hubungan antara iman dan perbuatan berdasarkan surat Yakobus 2:14-26, serta mengapa iman tanpa perbuatan dinyatakan sebagai "iman yang mati"!

  4. Sebutkan dan jelaskan langkah-langkah atau tindakan konkret yang dapat kamu lakukan dalam kehidupan sehari-hari sebagai perwujudan nyata dari imanmu!

Maria Teladan Hidup Umat Beriman

 

Tujuan Pembelajaran

Peserta didik memahami kedudukan dan peran Maria dalam sejarah keselamatan sehingga mampu bersyukur dan meneladan ketaatan Maria dalam melaksanakan kehendak Allah.

 Ayat yang perlu direnungkan:

“Aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu” (Luk. 1:38).

Mengapa Bunda Maria mendapat kedudukan dan penghormatan yang istimewa dalam Gereja Katolik? Bagaimana penghormatan yang baik dan benar kepada Bunda Maria? Apa saja yang dapat dilakukan untuk menghormati Bunda Maria? Melalui pembelajaran pada subbab ini, kalian diharapkan mampu mengenal, mencintai, dan meneladani Bunda Maria. Ia hamba Tuhan yang mendengarkan dan melaksanakan Sabda Allah. Ia menjadi teladan dalam kerendahan hati dan ketaatan dalam hidup beriman. Semoga kalian dapat bercermin dari kerendahan hati dan ketaatan Bunda Maria dalam menanggapi kehendak Allah.

 Memahami keteladanan Bunda Maria dalam hidup beriman menurut Ajaran Gereja dan Kitab Suci

1.       Bacalah dokumen Konsili Vatikan II tentang Lumen Gentium art. 61 dan 62 dan Lukas 1:26-38 berikut ini!

Lumen Gentium art. 61 dan 62

Sehubungan dengan penjelmaan Sabda ilahi Santa Perawan sejak kekal telah ditetapkan untuk menjadi Bunda Allah. Berdasarkan rencana penyelenggaraan ilahi ia di dunia ini menjadi Bunda Penebus ilahi yang mulia, secara sangat istimewa mendampingi-Nya dengan murah hati, dan menjadi Hamba Tuhan yang rendah hati. Dengan mengandung Kristus, melahirkan-Nya, membesarkan-Nya, menghadapkan-Nya kepada Bapa di kenisah, serta dengan ikut menderita bengan Puteranya yang wafat di kayu salib, ia secara sungguh istimewa bekerja sama dengan karya juru selamat, dengan ketaatannya, iman, pengharapan serta cinta kasihnya yang berkobar, untuk membaharui hidup adikodrtai jiwa-jiwa. Oleh karena itu dalam tata rahmat ia menjadi Bunda kita. “Ada pun dalam tata rahmat itu peran Maria sebagai Bunda tiada hentinya terus berlangsung, sejak persetujuan yang dengan setia diberikannya pada saat Warta Gembira, dan yang tanpa ragu-ragu dipertahankan di bawah salib, hingga penyempurnaan kekal semua para terpilih. Sebab sesudah diangkat ke sorga ia tidak meninggalkan peran yang membawa keselamatan itu, melainkan dengan aneka perantaraannya ia terus-menerus memperolehkan bagi kita kurnia-kurnia yang menghantar kepada keselamatan kekal. Dengan cinta kasih keibuannya ia meperhatikan saudara-saudara Puteranya, yang masih dalam peziarahan dan menghadapi bahaya-bahaya serta kesukaran-kesukaran, sampai mereka mencapai tanah air yang penuh kebahagiaan. Oleh karena itu dalam gereja Santa Perawan disapa dengan gelar Pembela, Pembantu, Penolong, Perantara . Akan tetapi itu diartikan sedemikian rupa, sehingga tidak mengurangi pun tidak menambah martabat serta dayaguna Kristus satu-satunya Pengantara . Sebab tiada makhluk satu pun yang pernah dapat disejajarkan dengan Sabda yang menjelma dan Penebus kita.”

 Lukas 1:26-38

26 Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, 27 kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. 28 Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” 29 Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. 30 Kata malaikat itu kepadanya: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. 31 Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. 32 Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, 33 dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.” 34 Kata Maria kepada malaikat itu: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” 35 Jawab malaikat itu kepadanya: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. 36 Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. 37 Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” 38 Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia.

 

Pokok Penegasan:

Peran Bunda Maria dalam sejarah keselamatan secara singkat dapat dijelaskan sebagai berikut: 

  • Ketika menerima kabar yang disampaikan oleh Malaikat Gabriel, Bunda Maria memberikan persetujuan untuk menjadi Bunda Penebus Ilahi yang mulia. Bunda dari Sang Mesias yang dinantikan sejak perjanjian lama.
  •  Dengan ketaatan penuh, dia menjawab tugas perutusan yang diamanatkan kepadanya. “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”
  • Dalam ketaatannya, Bunda maria mengandung Kristus, melahirkan-Nya, membesarkan-Nya, menghadapkan-Nya kepada Bapa di kenisah, serta ikut menderita dengan Puteranya yang wafat di kayu salib. Ia secara sungguh istimewa bekerja sama dengan karya juru selamat, dengan ketaatannya, iman, pengharapan serta cinta kasihnya yang berkobar.

  1. Ketaatan total Bunda Maria pada kehendak Allah untuk terlibat dalam karya keselamatan Allah mendorong Gereja memberikan tempat istimewa kepadanya, dan gereja menghormati Bunda Maria secara khusus, dengan melakukan berbagai devosi, (sikap bakti atau kebaktian khusus) kepada Bunda Maria. Misalnya, bulan Mei dikhususkan untuk bulan Maria, bulan Oktober sebagai bulan rosario, doa Salam Maria, doa Rosario, Novena, Ziarah ke Gua Maria dan sebagainya.
  2. Devosi kepada Bunda Maria tidak sedikit pun dimaksudkan untuk mengurangi kedudukan Putera-Nya. Sebab devosi yang sehat dan benar membawa umat kepada iman akan Yesus Kristus yang semakin berakar kuat dan mendalam. Melalui devosi tersebut, umat ditolong meneladani Bunda Maria, untuk menjatuhkan pilihan bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat mereka satusatunya, sehingga imannya semakin bermutu dan berbuah.
  3. Devosi kepada Bunda Maria adalah bagian dari ungkapan cinta dan penghormatan kita kepada Ibunda Sang Juruselamat.
  4. Tiga tahap yang dapat kita lakukan dalam mencintai Bunda Maria. Pertama, mengenal atau mengetahui Maria. Kedua, mengagumi Maria. Ketiga, meneladani Maria. Cinta kita akan Maria tidak berhenti dengan rasa kagum. Kita ditarik untuk meneladan keutamaan- keutamaannya dalam kehidupan kita.
  5. Ketaatan iman yang sempurna yang ditunjukkan Bunda Maria harus menjadi teladan dan pedoman dalam kehidupan beriman kita sehari-hari. Kita harus meyakini bahwa peristiwa sehari-hari yang kita alami merupakan bagian dari rencana Allah yang berkehendak menyelamatkan semua orang disertai dengan sikap berserah diri kepada kehendak Allah.

 Kerjakan 2 soal uraian ini: 

  1. Jelaskan kedudukan dan peran Bunda Maria dalam karya keselamatan Allah berdasarkan dokumen Konsili Vatikan II (Lumen Gentium art. 61-62)!
  2. Berdasarkan perenungan Injil Lukas 1:26-38, bagaimana makna pernyataan ketaatan Bunda Maria: "Aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu" dalam merespons kehendak Allah?

  3. Mengapa Gereja Katolik memberikan penghormatan khusus (devosi) kepada Bunda Maria? Jelaskan pula mengapa devosi tersebut tidak mengurangi kedudukan Yesus Kristus sebagai satu-satunya Juruselamat!

  4. Sebutkan dan jelaskan tiga tahap yang dapat dilakukan oleh umat beriman dalam proses mencintai serta meneladani Bunda Maria!

  5. Bagaimana bentuk tindakan nyata yang dapat kamu lakukan dalam kehidupan sehari-hari untuk meneladani sifat kerendahan hati dan ketaatan iman Bunda Maria?

Allah sebagai Sumber Keselamatan Sejati

 


Tujuan Pembelajaran:

Peserta didik mampu memahami ajaran Gereja bahwa Allah sumber keselamatan sejati dan berani memberi kesaksian tentang Allah yang menyelamatkan.

 Ayat yang perlu direnungkan : 

“Tidak ada Allah selain dari pada-Ku! Allah yang adil dan Juruselamat, tidak ada yang lain kecuali Aku!” (Yes. 45:21)

Keselamatan menjadi dambaan setiap orang. Keselamatan dapat diartikan terbebas dari bahaya, malapetaka, bencana, tidak mendapat gangguan, penyelamatan jiwa dari dosa dan kematian. Demikian berharga keselamatan dalam hidup setiap orang, maka setiap orang akan berusaha dengan segenap tenaga dan dengan berbagai cara untuk memperoleh keselamatan tersebut. Bagi kita orang beriman, kerinduan akan keselamatan bersumber kepada Allah yang telah memberikan kehidupan ini. Benarkah Allah menjadi sumber keselamatan bagi manusia? Bagaimana dengan kalian? Jika Allah menjadi sumber keselamatan, apakah hal itu tampak dalam perilaku kita sehari-hari? 

Setelah pembelajaran pada subbab pertama ini, kalian diharapkan sungguhsungguh mengimani Allah sebagai satu-satunya sumber keselamatan dalam hidup, sehingga kalian mampu bersyukur dan berani memberi kesaksian tentang Allah yang menyelamatkan. Kehadiran kalian dapat membawa suka cita dan berkat bagi sesama.

 

Memahami berbagai paham sumber keselamatan yang ada dalam masyarakat

  1. Seringkali ketika terdesak dan dalam keadaan putus asa, manusia lupa kepada siapa harus menyandarkan hidupnya. Tidak jarang manusia lebih memilih cara yang instan dan menyandarkan keselamatan diri pada kekayaan atau kemewahan duniawi.
  2. Orang seperti ini akan menghalalkan segala macam cara untuk mencapai tujuannya, termasuk bersekutu dengan kekuatan gaib yang dianggap bisa memberikan jaminan keselamatan. Begitu pula dengan orang yang memuja pengetahuan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
  3. Benarkah semua itu bisa dijadikan sandaran hidup dan jaminan keselamatan? Bagaimana dengan diri kita sebagai orang beriman? Kepada siapakah kita akan menyandarkan hidup kita? Mari kita memahami sumber keselamatan sejati berdasarkan Kitab Suci berikut ini!

Memahami Allah sebagai sumber keselamatan sejati

1.       Bacalah dan renungkanlah bacaan Kitab Suci dari Kisah Para Rasul 19:1-8,23- 29,32 dan Injil Lukas 15:11-32 berikut ini!

Kisah Para Rasul. 19:1-8,23-29,32

1 Ketika Apolos masih di Korintus, Paulus sudah menjelajah daerah-daerah pedalaman dan tiba di Efesus. Di situ didapatinya beberapa orang murid. 2 Katanya kepada mereka: “Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu menjadi percaya?” Akan tetapi mereka menjawab dia: “Belum, bahkan kami belum pernah mendengar, bahwa ada Roh Kudus.” 3 Lalu kata Paulus kepada mereka: “Kalau begitu dengan baptisan manakah kamu telah dibaptis?” Jawab mereka: “Dengan baptisan Yohanes.” 4 Kata Paulus: “Baptisan Yohanes adalah pembaptisan orang yang telah bertobat, dan ia berkata kepada orang banyak, bahwa mereka harus percaya kepada Dia yang datang kemudian dari padanya, yaitu Yesus.” 5 Ketika mereka mendengar hal itu, mereka memberi diri mereka dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. 6 Dan ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat. 7 Jumlah mereka adalah kira-kira dua belas orang. 8 Selama tiga bulan Paulus mengunjungi rumah ibadat di situ dan mengajar dengan berani. Oleh pemberitaannya ia berusaha meyakinkan mereka tentang Kerajaan Allah. 23 Kira-kira pada waktu itu timbul huru-hara besar mengenai Jalan Tuhan. 24 Sebab ada seorang bernama Demetrius, seorang tukang perak, yang membuat kuilkuilan dewi Artemis dari perak. Usahanya itu mendatangkan penghasilan yang tidak sedikit bagi tukang-tukangnya. 25 Ia mengumpulkan mereka bersama-sama dengan pekerja-pekerja lain dalam perusahaan itu dan berkata: “Saudara-saudara, kamu tahu, bahwa kemakmuran kita adalah hasil perusahaan ini! 26 Sekarang kamu sendiri melihat dan mendengar, bagaimana Paulus, bukan saja di Efesus, tetapi juga hampir di seluruh Asia telah membujuk dan menyesatkan banyak orang dengan mengatakan, bahwa apa yang dibuat oleh tangan manusia bukanlah dewa. 27 Dengan jalan demikian bukan saja perusahaan kita berada dalam bahaya untuk dihina orang, tetapi juga kuil Artemis, dewi besar itu, berada dalam bahaya akan kehilangan artinya. Dan Artemis sendiri, Artemis yang disembah oleh seluruh Asia dan seluruh dunia yang beradab, akan kehilangan kebesarannya.” 28 Mendengar itu meluaplah amarah mereka, lalu mereka berteriak-teriak, katanya: “Besarlah Artemis dewi orang Efesus!” 29 Seluruh kota menjadi kacau dan mereka ramai-ramai membanjiri gedung kesenian serta menyeret Gayus dan Aristarkhus, keduanya orang Makedonia dan teman seperjalanan Paulus. 32 Sementara itu orang yang berkumpul di dalam gedung itu berteriak-teriak; yang seorang mengatakan ini dan yang lain mengatakan itu, sebab kumpulan itu kacau-balau dan kebanyakan dari mereka tidak tahu untuk apa mereka berkumpul.

 Lukas 15:11-32

 11 Yesus berkata lagi: “Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki. 12 Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. 13 Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. 14 Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan ia pun mulai melarat. 15 Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. 16 Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun yang memberikannya kepadanya. 17 Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. 18 Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, 19 aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. 20 Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. 21 Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa. 22 Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. 23 Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. 24 Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria. 25 Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruling dan nyanyian tari-tarian. Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. 27 Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatnya kembali dengan sehat. 28Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia. 29 Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabatsahabatku. 30 Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia. 31 Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. 32 Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.”

Pokok Penegasan:

  1. Demikian berharga keselamatan bagi hidup setiap orang sehingga mereka berusaha dengan segenap tenaga bahkan mungkin berbagai cara untuk memperoleh keselamatan dalam hidupnya. Mereka beranggapan bahwa keselamatan dapat diperoleh dari mana saja. Ada orang menyandarkan keselamatan hidup mereka pada kekuatan gaib, harta kekayaan, maupun kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai sumber keselamatan.
  2. Bagi orang beriman, Allah adalah satu-satunya sumber keselamatan sejati. Hal ini disampaikan oleh Allah sendiri dalam berbagai kesempatan peristiwa hidup manusia. Hal tersebut tampak dalam beberapa kutipan. “Aku, Akulah TUHAN dan tidak ada juruselamat selain dari pada-Ku. Akulah yang memberitahukan, menyelamatkan dan mengabarkan, dan bukannya allah asing yang ada di antaramu. Kamulah saksi-saksi-Ku,” demikianlah firman TUHAN, “dan Akulah Allah” (Yes. 43:11-12), “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia” (Yohanes 3:16-17). Bahkan ketika kita sudah berpaling dari Allah, karena tawaran kenikmatan duniawi, yang ternyata membawa kesengsaraan hidup. Allah tampil sebagai penyelamat dengan kerelaannya menerima kita Kembali ke dalam pangkuanNya (bdk. Luk. 15:11-32).
  3. Karya penyelamatan Allah tetap berlangsung hingga kini melalui pelayanpelayan-Nya yang telah dipilih dan ditetapkan oleh Putera-Nya, Yesus Kristus. Sampai saat ini, Yesus Kristus masih tetap berkarya menyelamatkan manusia, yaitu melalui Gereja-Nya yang terungkap dalam berbagai bidang pelayanan dan perayaan-perayaan sakramen.
  4. Bagi umat Kristiani, merayakan Perayaan Ekaristi dan perayaan sakramen yang lainnya merupakan sarana untuk menimba dan menerima rahmat pengudusan dari Allah sebagai sumber keselamatan.
  5. Selain menghayati Allah sebagai sumber keselamatan, kita pun harus menjadi sarana keselamatan bagi orang lain. Misalnya, dengan membantu teman yang kesulitan dalam memahami materi pelajaran, menerima orang lain tanpa memperhitungkan jasanya, penampilan, agama atau juga latar belakang status sosialnya, menyisihkan sebagian rejeki kita miliki untuk membantu mereka yang kekurangan, menjadi sahabat bagi mereka yang tersisihkan dalam pergaulan dan sebagainya.

Kerjakan 5 soal uraian ini:

  1. Jelaskan berbagai paham atau bentuk kecenderungan manusia di dalam masyarakat yang sering dijadikan sandaran hidup dan jaminan keselamatan palsu ketika berada dalam keadaan terdesak!
  1. Mengapa hanya Allah yang diimani sebagai satu-satunya sumber keselamatan sejati bagi umat beriman? Jelaskan dengan menyertakan dasar Kitab Sucinya!

  2. Berdasarkan perumpamaan Anak yang Hilang dalam Injil Lukas 15:11-32, bagaimana gambaran sikap Allah sebagai penyelamat ketika manusia telah jatuh ke dalam dosa dan berpaling dari-Nya?

  3. Bagaimana karya penyelamatan Allah yang diprakarsai oleh Yesus Kristus tetap berlangsung dan dirayakan oleh umat Kristiani pada masa kini?

  4. Sebutkan dan jelaskan tindakan nyata yang dapat kamu lakukan dalam kehidupan sehari-hari untuk menjadi sarana kesaksian dan membawa keselamatan/kebaikan bagi sesama!

Selasa, 25 Agustus 2026

Membangun Masa Depan


Sekarang kalian berada di jenjang akhir Pendidikan SMP. Peserta didik kelas IX semestinya sudah mengetahui dan memiliki cita-cita atau harapan masa depan yang akan dicapai dan sudah mulai merencanakan kelanjutan pendidikannya di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA/ SMK) sesuai dengan minat, bakat, dan cita-cita di masa yang akan datang. Bab ini, kalian diajak untuk memahami tentang pentingnya citacita dalam membangun masa depan.

Tujuan Pembelajaran:

Peserta didik dapat memahami pentingnya cita-cita dalam perjuangan membangun masa depan sehingga mendorong peserta didik untuk bersikap lebih bertanggung jawab dan bekerja keras dalam mewujudkannya.

  Ayat yang perlu direnungkan:

“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.” (Kol. 3:17)


Mendalami ajaran Gereja dalam meraih cita-cita

1.       Bacalah kutipan Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Filipi 3:13-15 berikut ini!

“13 Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, 14 dan berlarilari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus. 15 Karena itu marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu.”

Pokok-pokok penegasan sebagai berikut:

  1. Cita-cita adalah keinginan atau kehendak yang selalu ada dalam pikiran dan menjadikan seseorang berusaha untuk mewujudkannya.
  2. Cita-cita sangat penting dalam upaya membangun masa depan yang lebih baik, karena dengan memiliki cita-cita, seseorang tidak akan mudah kehilangan arah dan tidak mudah larut dalam godaan karena memiliki arah yang jelas terhadap tujuan hidupnya.
  3. Dalam usaha meraih cita-cita untuk membangun masa depan, diperlukan tekad yang kuat, kerja keras atau belajar dengan sungguh-sungguh, pantang menyerah, keberanian untuk bangkit dari kegagalan, dan kemampuan menjalin kerja sama dengan orang lain, serta melibatkan Tuhan dalam setiap perjuangan kita.
  4. Hal-hal yang harus kita pertimbangkan dalam merencanakan masa depan adalah:

  • Mengukur kemampuan.
  • Bersikap realistis.
  • Selalu siap untuk berubah.
  • Siap untuk bekerja keras dan tidak mudah putus asa.

5. Santo Paulus mengajak kita untuk menyadari bahwa kita bebas untuk menentukan cita-cita kita masing-masing. Tetapi, kebebasan itu harus kita lakukan sesuai dengan kehendak Allah, denga ganjaran mahkota kemuliaan, yaitu panggilan sorgawi dalam Kristus Yesus.


Kerjakan 5 soal uraian ini:

  1. Mengapa keberadaan cita-cita sangat penting bagi seorang peserta didik dalam upaya membangun masa depan yang lebih baik?
  2. Berdasarkan perenungan surat Kolose 3:17, bagaimana seharusnya seorang Kristiani bersikap dan bertindak dalam setiap usaha meraih cita-citanya?

  3. Sebutkan dan jelaskan hal-hal yang perlu dipertimbangkan dan disiapkan oleh seseorang dalam merencanakan masa depannya!

  4. Jelaskan pesan Santo Paulus dalam surat Filipi 3:13-15 mengenai sikap mental yang harus dimiliki dalam mengarahkan diri menuju tujuan masa depan!

  5. Bagaimana hubungan antara kebebasan manusia dalam menentukan cita-cita dengan kehendak Allah berdasarkan ajaran Gereja Katolik?

Sorotan

Pengantar

  Selamat Datang di Ruang Belajar Kita Salam damai dan sukacita dalam Kristus. 🙏 Halo teman-teman! Selamat datang di blog pembelajaran Pen...