Jumat, 04 September 2026

Pengantar

  


Selamat Datang di Ruang Belajar Kita

Salam damai dan sukacita dalam Kristus. 🙏

Halo teman-teman! Selamat datang di blog pembelajaran Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti.

Blog ini dibuat sebagai ruang belajar bersama bagi peserta didik, guru, dan siapa saja yang ingin mengenal dan mendalami iman Katolik dengan cara yang lebih sederhana, menarik, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Di sini, kita tidak hanya akan menemukan materi pelajaran. Ada berbagai bahan belajar, refleksi iman, Kitab Suci, aktivitas dan tugas, doa, renungan, serta sumber-sumber lain yang dapat membantu kita belajar dan bertumbuh bersama.

Karena belajar agama bukan hanya tentang “tahu”, tetapi juga tentang bagaimana kita menghidupi apa yang kita percaya. Kita belajar mengenal Yesus, tetapi juga belajar menjadi seperti yang diajarkan-Nya: mampu mengasihi, mengampuni, peduli kepada sesama, menjaga ciptaan Tuhan, berani berbuat baik, dan menjadi terang bagi orang lain.

Bagi teman-teman peserta didik, jadikan blog ini sebagai teman belajar. Kalian boleh membaca, mencari materi, merenung, bertanya, berdiskusi, dan menemukan hal-hal baru tentang iman dan kehidupan.

Bagi para guru, semoga ruang sederhana ini dapat menjadi salah satu teman dalam menyiapkan dan mengembangkan pembelajaran yang bermakna, kontekstual, dan menyenangkan bagi peserta didik.

Blog ini tentu belum sempurna. Karena itu, mari kita menjadikannya sebagai ruang yang terus bertumbuh. Jika ada ide, masukan, atau hal-hal yang dapat dikembangkan, jangan ragu untuk menyampaikannya.

Pada akhirnya, semoga setiap kali kita membuka halaman blog ini, kita tidak hanya pulang membawa pengetahuan baru, tetapi juga membawa inspirasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Belajar iman, bertumbuh dalam kasih, dan mewujudkannya dalam kehidupan.

Selamat belajar, selamat berefleksi, dan selamat bertumbuh bersama.

Tuhan memberkati setiap langkah kita. ✝️

Guru Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti

Januarius Carvallo,S.Ag

Kamis, 03 September 2026

Kebersamaan itu Indah

 

Tujuan Pembelajaran

Peserta didik mampu memahami ajaran Gereja tentang pentingnya membangun persaudaraan dengan penganut agama dan kepercayaan lain dan mampu bersyukur dengan membangun persaudaraan sejati dengan penganut agama dan kepercayaan lain dalam hidup sehari-hari.

 

Ayat yang harus direnungkan

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel.” (Mat. 8:10).

 

Indonesia adalah negara yang terdiri dari beraneka ragam suku, budaya, bahasa, agama, dan kepercayaan. Dalam hal kehidupan beragama dan kepercayaan, kita mengenal enam agama yang ada di Indonesia, yaitu Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu dan aliran kepercayaan. Pada kenyataannya, penduduk Indonesia secara mayoritas menganut agama Islam. Dengan kondisi semacam ini, ketika tinggal di daerah tertentu, sangat mungkin, kita akan memiliki tetangga yang berbeda agama dan kepercayaan dengan kita. Kebanyakan umat Katolik tinggal di lingkungan seperti hal itu, kecuali mereka tinggal di daerah-daerah tertentu yang mayoritasnya beragama Katolik. Demikian pun di lingkungan sekolah. Kebanyakan dari siswa Katolik mengalami keberagaman ini. Pluralitas di negara yang kita cintai merupakan kenyataan yang harus disyukuri sebagai karya Tuhan, bukan untuk disesali. Pluralitas merupakan sesuatu yang dikehendaki oleh Tuhan sendiri. Dialah yang menciptakan bumi dan isinya termasuk manusia. Dialah asal mula kehidupan dan tujuan hidup setiap orang yang beragama. Tuhan menghendaki semua manusia memperoleh keselamatan. Kita harus percaya bahwa Tuhan yang kita sembah juga hadir dalam karya kebaikan tetangga kita, dalam kesalehan hidupnya, kebijaksanaannya, kepedulian dan perjuangan hidupnya. Kita tidak pantas menghalangi dan memberi sekat-sekat terhadap karya kebaikan Tuhan dengan segala keterbatasan akal budi kita. Seakanakan Tuhan yang mahakuasa itu adalah milik kita sendiri. Seakan-akan karya kebaikan Tuhan itu hanya untuk kelompok tertentu saja. Sikap seperti inilah yang harus kita hindari dalam menjalin hidup bersama dengan tetangga, teman sekolah, dan siapa pun yang kita jumpai.

 

Memahami indahnya kebersamaan dalam perbedaan melalui pengalaman hidup sehari-hari

 Matius 8:5-13

5 Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya: 6 ”Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita.” 7 Yesus berkata kepadanya: “Aku akan datang menyembuhkannya.” 8 Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. 9 Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.” 10 Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikutiNya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel. 11 Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga,12sedangkan anakanak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.” 13Lalu Yesus berkata kepada perwira itu: “Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya.” Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya.

 

Yohanes 4:1-10 1

Ketika Tuhan Yesus mengetahui, bahwa orang-orang Farisi telah mendengar, bahwa Ia memperoleh dan membaptis murid lebih banyak dari pada Yohanes 2 meskipun Yesus sendiri tidak membaptis, melainkan murid-murid-Nya, 3 Ia pun meninggalkan Yudea dan kembali lagi ke Galilea. 4 Ia harus melintasi daerah Samaria.5 Maka sampailah Ia ke sebuah kota di Samaria, yang bernama Sikhar dekat tanah yang diberikan Yakub dahulu kepada anaknya, Yusuf. 6 Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas. 7 Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya: “Berilah Aku minum.” 8 Sebab murid-murid-Nya telah pergi ke kota membeli makanan. 9 Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: “Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?” (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.) 10Jawab Yesus kepadanya: “Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.”

 

Untuk Dipahami

  • Keberagaman agama dan kepercayaan yang ada dalam masyarakat di sekitar kita harus dihayati secara benar. Hal ini memungkinkan tumbuhnya rasa solidaritas yang tinggi antarsesama umat beragama dan kepercayaan. Mereka akan saling bahu membahu dalam mengatasi setiap masalah atau kesulitan, tidak lagi mempersoalkan agama atau kepercayaan seseorang. Mereka akan merasa terpanggil berbela rasa meskipun yang mengalami kesulitan, masalah, bencana atau musibah adalah pemeluk agama dan kepercayaan yang berbeda. Mereka akan menganggap sebagai saudara meskipun beragama dan kepercayaan lain.
  • Perbedaan agama dan kepercayaan jangan sampai dijadikan penghalang bagi seseorang untuk melakukan perbuatan kasih. Kebiasaan untuk saling menghargai dan menerima perbedaan telah hidup di tengah-tengah masyarakat sejak zaman dahulu. Beberapa contoh kebiasaan yang ada dalam masyarakat tersebut misalnya:

a. Saat hari raya agama tertentu, anggota masyarakat saling berkunjung satu sama lain dan memberikan ucapan selamat.

b. Di beberapa tempat bisa disaksikan tempat ibadah seperti Masjid, Gereja dan Vihara dibangun saling berdekatan. Pada hari-hari raya tertentu ketika jumlah umat yang beribadah melebihi kapasitas, mereka saling meminjamkan lahan parkir bagi penganut agama lain.

c. Setiap Perayaan Natal, bisa disaksikan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Nahdlatul Ulama dikerahkan untuk menjaga gereja untuk membantu umat kristiani merayakan Perayaan Natal. Demikian juga di wilayah Indonesia Timur yang mayoritas beragama Katolik atau Kristen, mereka ikut berpartisipasi dalam memberikan rasa aman dan nyaman bagi saudara yang muslim untuk merayakan Idul Fitri.

  • Yesus sendiri telah memberikan teladan kepada kita tentang keberagaman. Ia tidak membatasi diri dalam karya pelayanan-Nya hanya kepada orang-orang Israel saja. Yesus bersedia menyembuhkan hamba Perwira Romawi yang memiliki latar belakang budaya, suku bangsa dan agama yang berbeda dengan Yesus (Mat. 8:5-11). Yesus berbicara dengan perempuan Samaria, yang oleh orang Yahudi dianggap bangsa kafir (Yoh. 4:7-42), Yesus mau menyembuhkan anak perempuan asing dari Siro-Fenesia Yunani, yang berlatar belakang suku bangsa budaya dan keyakinan yang sangat berbeda dengan bangsa Yahudi (Mrk. 7:24-30).
  • Kita bersama tinggal dalam satu atap rumah besar yang bernama Indonesia. Kebersamaan sebagai sebuah keluarga tersebut tercermin dalam suasana hidup berdampingan, saling menghormati, berani berdialog, penuh keterbukaan yang jujur, silaturahmi terus menerus, bekerja sama dalam menegakkan kebenaran dan aksi nyata dalam membela yang lemah.
  • Sebagai remaja, hal yang dapat dilakukan untuk menciptakan hidup harmonis dengan orang lain yang berbeda agama maupun kepercayaan, misalnya bersedia bergaul dengan semua orang tanpa memandang latar belakang mereka dan bersedia membantu yang memerlukan bantuan apa pun agamanya.
  • Kita adalah saudara dan saudari bagi yang lain. Jika kita merasa ada yang berbeda, mari kita mencari segala yang dapat menyatukan. Kita adalah Indonesia. Indonesia adalah rumah kita bersama. Kita Pancasila, kita Bhineka, Kita Indonesia.

kerjakan 5 soal uraian ini:

  1. Jelaskan mengapa keberagaman suku, budaya, dan agama di Indonesia harus disyukuri sebagai karya Tuhan, bukan untuk disesali!

  2. Sebutkan dan jelaskan 2 contoh konkret bentuk toleransi serta tradisi saling menghargai antarpemeluk agama yang ada di tengah masyarakat Indonesia!

  3. Bagaimana Yesus memberikan teladan dalam menyikapi perbedaan latar belakang suku, budaya, dan agama? Berikan contoh peristiwa dari Kitab Suci!

  4. Berdasarkan perikop Matius 8:5-13, hal apa yang membuat Yesus heran dan memuji perwira Romawi tersebut? Apa pelajaran yang dapat kita petik terkait sikap terhadap orang yang berbeda keyakinan?

  5. Sebagai seorang remaja, aksi nyata apa saja yang dapat kamu lakukan dalam kehidupan sehari-hari untuk menjaga keharmonisan dan persaudaraan sejati dengan teman yang berbeda agama?



Sikap Gereja Katolik terhadap Agama dan Kepercayaan

 

Tujuan Pembelajaran

Peserta didik mampu memahami sikap Gereja Katolik terhadap agama dan kepercayaan lain dan menuliskan refleksi tentang usaha menciptakan kerukunan umat beragama sehingga mampu bersyukur dengan bersikap toleran terhadap pemeluk agama dan kepercayaan lain.

 

Ajaran Gereja yang harus direnungkan

“Sebab semua bangsa merupakan satu masyarakat, mempunyai satu asal, sebab Allah menghendaki segenap umat manusia mendiami seluruh muka bumi.” (Nostra Aetate Art. 1)

 

Hidup bersama dengan orang-orang yang memiliki ideologi, pandangan, pendapat, paham, budaya, agama, dan kepercayaan yang sama jauh lebih mudah dari pada ketika kita harus hidup berdampingan dengan mereka yang memiliki latar belakang yang berbeda, khususnya dalam hal agama dan kepercayaan. Perbedaan ini, kalau tidak disikapi secara arif dan bijaksana akan membawa dampak negatif yang dapat mengancam kedamaian hidup bersama. Konflik yang dipicu oleh sentimen agama dan kepercayaan mengakibatkan berbagai macam korban material maupun imaterial, termasuk anak-anak yang tidak berdosa akan kehilangan kesempatan mengembangkan diri. Tidak jarang konflik tersebut menelan korban jiwa dan merugikan kedua belah pihak yang sedang bertikai. Hidup dalam masyarakat yang pluralis memang menuntut setiap orang untuk bersikap terbuka terhadap mereka yang berbeda. Saling menjaga, saling menghargai, dan menerima perbedaan menjadi kunci keberhasilan dalam mengatasi perbedaan yang ada.

 

Memahami sikap Gereja terhadap agama dan kepercayaan berdasarkan ajaran Gereja

Unitatis Redintegratio Art. 1

Mendukung PEMULIHAN KESATUAN antara segenap umat kristen merupakan salah satu maksud utama Konsili Ekumenis Vatikan II. Sebab yang didirikan oleh Kristus Tuhan ialah Gereja yang satu dan tunggal. Sedangkan banyak persekutuan Kristen membawakan diri sebagai pusaka warisan Yesus Kristus yang sejati bagi umat manusia. Mereka semua mengaku sebagai murid-murid Tuhan, tetapi berbeda-beda pandangan dan menempuh jalan yang berlain-lainan pula, seolah-olah Kristus sendiri terbagi-bagi[1]. Jelaslah perpecahan itu terang-terangan berlawanan dengan kehendak Kristus, dan menjadi batu sandungan bagi dunia, serta merugikan perutusan suci, yakni mewartakan Injil kepada semua makhluk.(Art 1 alinea 1). Maka, sambil mempertimbangkan itu semua dengan hati gembira, konsili suci ini, karena sudah menguraikan ajaran tentang Gereja, terdorong oleh keinginan untuk memulihkan kesatuan antara semua murid Kristus, bermaksud menyajikan kepada segenap umat katolik bantuan-bantuan, upaya-upaya dan cara-cara, untuk menolong mereka menanggapi panggilan serta rahmat ilahi itu. (Art 1 alinea 3).

 

Unitatis Redintegratio Art. 4

Sekarang ini, atas dorongan rahmat Roh Kudus, di cukup banyak daerah berlangsunglah banyak usaha berupa doa, pewartaan dan kegiatan, untuk menuju ke arah kepenuhan kesatuan yang dikehendaki oleh Yesus Kristus. Maka Konsili suci mengundang segenap umat katolik, untuk mengenali tanda-tanda zaman, dan secara aktif berperanserta dalam kegiatan ekumenis. Yang dimaksudkan dengan “Gerakan Ekumenis” ialah: kegiatan-kegiatan dan usahausaha, yang – menanggapi bermacam-macam kebutuhan Gereja dan berbagai situasi – diadakan dan ditujukan untuk mendukung kesatuan umat kristen; misalnya: pertama, semua daya-upaya untuk menghindari kata-kata, penilaian-penilaian serta tindakantindakan, yang ditinjau dari sudut keadilan dan kebenaran tidak cocok dengan situasi saudara-saudari yang terpisah, dan karena itu mempersukar hubungan-hubungan dengan mereka; kemudian, dalam pertemuan-pertemuan umat kristen dari berbagai Gereja atau Jemaat, yang diselenggarakan dalam suasana religius, “dialog” antara para pakar yang kayainformasi, yang memberi ruang kepada masing-masing peserta untuk secara lebih mendalam menguraikan ajaran persekutuannya, dan dengan jelas menyajikan corak-cirinya. Sebab melalui dialog itu semua peserta memperoleh pengertian yang lebih cermat tentang ajaran dan perihidup kedua persekutuan, serta penghargaan yang lebih sesuai dengan kenyataan. Begitu pula persekutuan-persekutuan itu menggalang kerja sama yang lebih luas lingkupnya dalam aneka usaha demi kesejahteraan umum menurut tuntutan setiap suara hati kristen; dan bila mungkin mereka bertemu dalam doa sehati sejiwa. Akhirnya mereka semua mengadakan pemeriksaan batin tentang kesetiaan mereka terhadap kehendak Kristus mengenai Gereja, dan sebagaimana harusnya menjalankan dengan tekun usaha pembaharuan dan perombakan.

Nostra Aetate Art. 2

…Agama-agama lain, yang terdapat diseluruh dunia, dengan pelbagai cara berusaha menanggapi kegelisahan hati manusia, dengan menunjukkan berbagai jalan, yakni ajaran-ajaran serta kaidah-kaidah hidup maupun upacara-upacara suci. Gereja katolik tidak menolak apapun, yang dalam agama-agama itu serab benar dan suci. Dengan sikap hormat yang tulus Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran, yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannya sendiri, Tetapi tidak jarang toh memantulkan sinar kebenaran, yang menerangi semua orang. Namun Gereja tiada hentinya mewartakan dan wajib mewartakan Kristus, yakni “jalan, kebenartan dan hidup” (Yoh 14:6); dalam Dia manusia menemukan kepenuhan hidup keagamaan, dalam Dia pula Allah mendamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya. Maka Gereja mendorong para puteranya, supaya dengan bijaksana dan penuh kasih, melalui dialog dan kerja sama dengan para penganut agama-agama lain, sambil memberi kesaksian tentang iman serta perihidup kristiani, mengakui, memelihara dan mengembangkan harta-kekayaan rohani dan moral serta nilainilai sosio-budaya, yang terdapat pada mereka.

Untuk dipahami:

  • Gereja Katolik, melalui Konsili Vatikan II membuka diri terhadap permasalahan yang dihadapi oleh umat manusia dan berusaha menjawab tantangan zaman serta dapat menerapkan iman Katolik dalam kehidupan sehari-hari, termasuk bagaimana Gereja Katolik mengambil sikap atas perbedaan agama dan kepercayaan yang ada.
  • Dekrit Unitatis Redentegratio menegaskan tentang sikap Gereja Katolik terhadap saudara seiman yang berbeda gereja. Gereja Katolik merangkul mereka dengan sikap penuh hormat dan kasih. Gereja Katolik mengundang semua umat Katolik berperan aktif dalam gerakan ekumenis, gerakan memulihkan kesatuan umat kristen dengan berusaha mengatasi hambatan-hambatan yang ada.
  • Kegiatan-kegiatan dan usaha-usaha dalam menanggapi bermacam-macam kebutuhan gereja dan berbagai situasi diadakan dan ditujukan untuk mendukung kesatuan umat kristen, antara lain:

a. Semua daya upaya untuk menghindari kata-kata, penilaian-penilaian, serta tindakan-tindakan, yang ditinjau dari sudut keadilan dan kebenaran tidak cocok dengan situasi saudara-saudari yang terpisah, dan karena itu mempersulit hubungan-hubungan dengan mereka.

b. Pertemuan-pertemuan umat kristen dari berbagai gereja atau jemaat, yang diselenggarakan dalam suasana religius.

c. Dialog antara para pakar yang kaya informasi, yang memberi ruang kepada masing-masing peserta untuk secara lebih mendalam menguraikan ajaran persekutuannya, dan dengan jelas menyajikan corak-cirinya. Sebab melalui dialog itu, semua peserta memperoleh pengertian yang lebih cermat tentang ajaran dan nasihat kedua persekutuan, serta penghargaan yang lebih sesuai dengan kenyataan.

d. Menggalang kerja sama yang lebih luas lingkupnya dalam aneka usaha demi kesejahteraan umum menurut tuntutan setiap suara hati kristen.

e. Dan bila mungkin mereka bertemu dalam doa sehati sejiwa.

  • Bila umat Katolik melaksanakan dengan bijaksana dan sabar di bawah pengawasan para gembala, gerakan itu akan membantu terwujudnya nilai-nilai keadilan dan kebenaran, kerukunan dan kerja sama, semangat persaudaraan dan persatuan.
  • Dalam dokumen Dekrit Nostra Aetate tertuang sikap Gereja terhadap agama dan kepercayaan lain yang bukan Kristen.

a. Konsili Suci memandang bahwa “Sebab semua bangsa merupakan satu masyarakat, mempunyai satu asal, sebab Allah menghendaki segenap umat manusia mendiami seluruh muka bumi. Semua juga mempunyai satu tujuan terakhir, yakni Allah yang penyelenggaraan-Nya, bukti-bukti kebaikan-Nya dan rencana penyelamatan-Nya meliputi semua orang.

b. Gereja Katolik menghargai umat beragama dan berkepercayaan lain yang ada di seluruh dunia dengan sikap tulus dan hormat, mendukung terciptanya persaudaraan sejati. Melatih diri dengan sikap yang tulus untuk saling memahami dan bersama-sama membela serta mengembangkan keadilan sosial bagi semua orang, menegakkan perdamaian dan memperjuangkan kebebasan.

c. Gereja tidak menolak apa pun yang benar dan suci dalam agama dan kepercayaan lain. Menghargai cara bertindak, cara hidup, kaidah, dan ajarannya meskipun dalam banyak hal berbeda dengan iman Katolik, tetapi juga memancarkan kebaikan Allah. Gereja mendorong kepada umatnya untuk menjalin kerja sama dengan mereka dalam mengatasi berbagai macam permasalahan yang dihadapi manusia dan dunia dewasa ini, sambil mewartakan iman kristiani.

d. Gereja mengecam setiap dikriminasi antara orang-orang atau penganiayaan berdasarkan keturunan atau warna kulit, kondisi hidup atau agama, sebagai berlawanan dengan semangat Kristus. Gereja meminta setiap umat Kristiani untuk memelihara cara hidup yang baik, hidup damai dengan semua orang sehingga mereka sungguh-sungguh menjadi putera Bapa di surga.


 Kerjakan 5 soal uraian ini: 

  1. Jelaskan latar belakang dan tujuan utama diadakannya Konsili Vatikan II terkait Dekrit Unitatis Redintegratio Art. 1 dalam hubungannya dengan kesatuan umat Kristen!

  2. Mengapa hidup bersama dalam masyarakat yang pluralis/beragam menuntut sikap terbuka dari setiap individu? Jelaskan pula dampak negatif yang dapat terjadi jika perbedaan agama tidak disikapi secara bijaksana!

  3. Berdasarkan dokumen Unitatis Redintegratio Art. 4, sebutkan dan jelaskan 3 bentuk kegiatan atau usaha nyata yang termasuk dalam "Gerakan Ekumenis" untuk mendukung kesatuan umat Kristen!

  4. Bagaimana sikap Gereja Katolik terhadap kebenaran dan nilai-nilai yang ada di dalam agama-agama non-Kristen berdasarkan dokumen Nostra Aetate Art. 2?

  5. Dokumen Nostra Aetate secara tegas mengecam segala bentuk diskriminasi dan penganiayaan. Jelaskan alasan Gereja mengecam tindakan tersebut dan apa yang diharapkan dari setiap umat Kristiani dalam menjaga perdamaian di tengah masyarakat!

Membangun Persahabatan dengan Alam

 



Mengapa materi ini perlu dipelajari?

Agar kita mampu menjabarkan sikap dan pandangan Gereja atas berbagai keprihatinan tentang keutuhan alam ciptaan sehingga mampu bersyukur dan tergerak melakukan upaya menjaga keutuhan ciptaan.

 

Kalimat yang perlu direnungkan

“Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena Saudari kami, Ibu Pertiwi, yang memelihara dan mengasuh kami, dan menumbuhkan aneka ragam buah-buahan, beserta bunga warna-warni dan rumput-rumputan.” (Ensiklik Laudato Si)

 

Pengantar

Kisah penciptaan menjelaskan bahwa pada mulanya, Allah menciptakan alam semesta. Setelah itu, Allah menciptakan manusia. Ini menunjukkan betapa besar kasih Allah kepada manusia karena Allah telah menyediakan tempat dan sarana yang dibutuhkan manusia untuk kelangsungan hidupnya. Alam menjadi tempat bagi manusia untuk hidup sekaligus menyediakan sarana bagi manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Hal ini juga mengisyaratkan kepada kita bahwa alam menjadi bagian yang tak terpisahkan bagi hidup manusia. Kelangsungan hidup manusia sepenuhnya tergantung kepada alam. Alam menjadi rumah bersama bagi seluruh ciptaan, termasuk manusia. Santo Fransiskus dari Assisi mengingatkan kita bahwa rumah kita bersama adalah seperti seorang saudari yang berbagi hidup dengan kita, dan seperti seorang ibu rupawan yang menyambut kita dengan tangan terbuka. “Terpujilah Engkau, Tuhanku, karena Saudari kami, Ibu Pertiwi, yang memelihara dan mengasuh kami, dan menumbuhkan aneka ragam buah-buahan, beserta bunga warna-warni dan rumput-rumputan”. (Ensiklik Laudato Si art. 1). Saudari ini sekarang menjerit karena segala kerusakan yang telah kita timpakan padanya. Karena penyalahgunaan kita yang tidak bertanggung jawab atas kekayaan yang telah diletakkan Allah di dalamnya. Melihat kondisi seperti ini, apakah kalian akan berdiam diri? Tidak merasa terpanggil untuk ikut berperan dalam usaha kelestarian alam?

 

Memahami sikap dan pandangan Gereja terkait tugas manusia dalam membangun persahabatan dengan alam

 Laudato Si Art. 84 dan 85

Penegasan kita bahwa manusia adalah gambar Allah, tidak boleh membuat kita lupa bahwa setiap makhluk memiliki fungsi sendiri dan tidak ada satu pun yang berlebihan. Seluruh alam semesta materiil adalah bahasa cinta Allah, kasih sayang-Nya yang tak terbatas bagi kita. Tanah, air, gunung, semuanya ibarat belaian Allah. Sejarah persahabatan kita masing-masing dengan Allah selalu terkait dengan tempat-tempat tertentu yang mendapat makna yang sangat pribadi; kita semua ingat tempat-tempat dengan kenangan yang penuh berkat bagi kita. Orang yang telah dibesarkan di wilayah pegunungan, atau yang sewaktu masih anak duduk minum di pinggir kali, atau bermain di lapangan desanya, ketika kembali ke tempat-tempat itu, ia merasa dipanggil untuk menemukan kembali identitasnya sendiri. (Laudato Si 84) Allah telah menulis sebuah buku yang indah “yang huruf-huruf-nya adalah banyaknya makhluk yang ada di alam semesta.” Para uskup Kanada dengan tepat menggarisbawahi bahwa tiada makhluk yang dikecualikan dari penyataan diri Allah itu: “Dari pemandangan paling luas sampai ke bentuk kehidupan terkecil, alam adalah sumber ketakjuban dan kekaguman yang terus-menerus; itu sekaligus adalah wahyu ilahi yang terus-menerus.” Para uskup Jepang, dari pihak mereka, mengingatkan kita akan sesuatu yang sangat menarik: “Mendengarkan setiap makhluk menyanyikan himne keberadaannya adalah hidup dengan suka-cita dalam kasih Allah dan dalam pengharapan.” Menatap karya ciptaan itu memungkinkan kita untuk menemukan dalam segala hal suatu ajaran yang ingin disampaikan Allah pada kita, karena bagi orang beriman, menatap dunia ciptaan adalah mendengarkan suatu pesan, mendengarkan suatu suara yang paradoksal dan hening.” Kita dapat mengatakan bahwa “di samping wahyu yang sesungguhnya, yang terkandung dalam Kitab Suci, ada pula penyataan ilahi dalam sinar matahari dan dalam jatuh-nya malam.” Dengan memperhatikan penyataan ini, kita belajar untuk melihat diri kita sendiri dalam hubungan kita dengan semua makhluk lain: “Saya mengungkapkan diri dalam mengungkapkan dunia; saya menemukan kesucian saya sendiri ketika saya berusaha mengartikan kesucian dunia.” (Laudato Si 85)

 

Kejadian 1:26-31

26Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” 27Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakanNya mereka. 28Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” 29Berfirmanlah Allah: “Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu. 30Tetapi kepada segala binatang di bumi dan segala burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang bernyawa, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya.” Dan jadilah demikian. 31Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam.

 

Untuk Dipahami

  • Alam bagi manusia tidak hanya sekedar tempat tinggal atau tempat untuk melangsungkan kehidupannya. Alam menyediakan sarana dan kebutuhan manusia dalam menjaga keberlangsungan hidupnya. Hidup manusia sangat tergantung dengan alam.
  • Mengingat betapa pentingnya alam bagi hidup manusia, seharusnya manusia menjaga hubungan yang harmonis dengan alam. Tetapi kenyataannya, masih banyak perilaku manusia yang menyebabkan alam menjadi rusak, misalnya:
  1. Penebangan hutan yang tidak terkendali untuk kepentingan industri perkayuan, perluasan perkebunan industri, dan permukiman penduduk. Hal ini menyebabkan hutan menjadi gundul, akibatnya oksigen menjadi berkurang, timbulnya bencana alam seperti banjir dan tanah longsor.
  2. Penebangan hutan mangrove yang terus menerus dapat merusak ekosistem pantai dan dapat menyebabkan punahnya flora fauna serta kehidupan masyarakat sekitar. Hutan mangrove dapat menjadi sumber penghidupan sekaligus melindungi masyarakat sekitar dari ancaman bencana tsunami. Kelebatan hutan mangrove dapat berfungsi sebagai pemecah gelombang.
  3. Pencemaran sungai akibat pembuangan sampah rumah tangga dan limbah pabrik. Sungai yang terkontaminasi limbah kimia dari pabrik dapat mengancam punahnya ekosistem sungai dan sekitarnya. Air sungai yang tercemar bahan kimia tidak lagi bisa dimanfaatkan oleh warga sekitar karena dapat mengancam kesehatan mereka.
  4. Pemakaian obat-obatan kimia dalam bidang pertanian untuk menggenjot produktivitas justru dapat merusak kesuburan tanah dalam jangka panjang. 3. Hal itu terjadi karena kita telah melupakan bahwa kita sendiri berasal dari debu tanah (Kejadian 2: 7). Tubuh kita sendiri tersusun dari unsur-unsur yang sama dari bumi, dan udara memberi kita nafas, serta airnya menghidupkan dan menyegarkan kita.
  • Seharusnya manusia dan alam dapat hidup berdampingan, harmonis dan saling membutuhkan. Manusia harus membangun persahabatan dengan alam. Kita bisa belajar banyak dari Santo Fransiskus dari Asisi, yang setia kepada Alkitab. Ia mengajak kita untuk memandang alam sebagai sebuah kitab yang sangat indah. Di dalamnya Allah berbicara kepada kita dan memberi kita sekilas pandangan tentang keindahan dan kebaikan-Nya yang tanpa batas. “Dari kebesaran dan keindahan benda-benda ciptaan, tampaklah gambaran tentang Khalik mereka” (Kebijaksanaan 13: 5). Manusia harus bersatu dengan alam dan memandang alam dengan penuh rasa syukur akan kebaikan Sang Pencipta dan menjadikan alam sebagai sarana untuk memuji Allah.
  • Manusia adalah gambar Allah. Kita tidak boleh lupa bahwa setiap makhluk memiliki fungsi sendiri dan tidak ada satu pun yang lebih unggul dari yang lain. Seluruh materiil alam semesta adalah bahasa cinta Allah dan merupakan wujud kasih sayang-Nya yang tak terbatas bagi kita. Tanah, air, gunung, semuanya ibarat belaian Allah. Sejarah persahabatan kita masing-masing dengan Allah selalu terkait dengan tempat-tempat tertentu yang mendapat makna sangat pribadi.
  • Beberapa contoh hal berikut ini dapat kita lakukan sebagai remaja untuk ikut terlibat aktif dalam usaha menjaga dan memelihara alam lingkungan:

a. Berusaha untuk meletakkan sampah pada tempat yang telah disediakan.

b. Mengurangi penggunaan plastik.

c. Mengusahakan penghijauan di sekitar rumah dan lingkungan sekolah tempat kita menuntut ilmu. 

d. Menghemat penggunaan air.

e. Ikut dalam gerakan cinta lingkungan hidup.

f. Menghemat penggunaan listrik dan bahan bakar kendaraan bermotor.


Soal Uraian:

  1. Jelaskan mengapa materi tentang "Membangun Persahabatan dengan Alam" perlu dipelajari, terutama dalam kaitannya dengan pandangan Gereja?

  2. Uraikan mengapa alam dianggap sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia menurut teks pengantar di atas!

  3. Dalam Ensiklik Laudato Si Artikel 84, disebutkan bahwa "tanah, air, gunung, semuanya ibarat belaian Allah." Jelaskan makna pernyataan tersebut dalam konteks hubungan manusia dengan alam!

  4. Berdasarkan teks "Untuk Dipahami," sebutkan dan jelaskan empat perilaku manusia yang dapat menyebabkan kerusakan alam serta dampak negatifnya!

  5. Sebagai seorang remaja, langkah konkret apa saja yang dapat Anda lakukan untuk ikut terlibat aktif dalam usaha menjaga dan memelihara alam lingkungan? Berikan minimal lima contoh.

Mengembangkan Keadilan dan Kejujuran

 


Mengapa materi ini perlu dipelajari?

Agar kita mampu memahami ajaran Gereja tentang kejujuran dan keadilan sehingga mampu bersyukur dengan bertindak jujur dan adil serta membuat kampanye untuk menjunjung tinggi kejujuran dan keadilan.

 

Ayat yang perlu untuk direnungkan

“Jika ya, hendaklah kamu katakan ya, jika tidak kamu katakan tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat.” (Mat. 5:37)

 

Pengantar

Menghormati hidup menjadi tugas kita bersama. Hanya dengan melakukan bersamasama, kita dapat menjamin martabat setiap manusia dihargai. Kita harus membangun hidup bersama dengan saling menghormati supaya setiap orang diakui sebagai warga masyarakat yang merdeka dan dapat berpartisipasi membangun masyarakat. Masyarakat juga harus ditata secara bertanggung jawab untuk menghormati pribadi manusia. Masyarakat yang menghadirkan keadilan bagi semua pihak, yang menjunjung tinggi kebenaran. Kebenaran akan tercapai jika setiap orang mampu bersikap dan bertindak jujur. Perintah Allah ke-7, ke-8 dan ke-10, “Jangan mencuri! Jangan bersaksi dusta terhadap sesamamu! Jangan ingin akan milik sesamamu secara tidak adil!” seharusnya dapat dijadikan pedoman bagi semua orang beriman untuk bertindak adil dan jujur. Dengan demikian, hidup sosial di tengah-tengah masyarakat dapat tertata dengan baik. Apakah keadilan dan kejujuran sudah sungguh-sungguh mewarnai kehidupan masyarakat kita? Jika belum, sumbangan apa yang dapat kita lakukan untuk turut memperjuangkan keadilan dan kejujuran? Jika kita rajin mencermati berita di berbagai media massa, entah media cetak atau pun media elektronik, hampir setiap hari kita disuguhi berita tentang peristiwaperistiwa ketidakadilan dan ketidakjujuran. Contoh, kasus penggelapan uang negara atau korupsi masih marak di negeri ini. Penggelapan uang nasabah, pencurian dengan kekerasan, perampasan hak milik. Perbuatan tidak adil dan tidak jujur bahkan sudah diawali sejak di bangku sekolah. Kebiasaan untuk memperoleh hasil yang maksimal dengan cara-cara tidak terpuji, seperti menyontek dianggap sebagai hal yang biasa. Berbagai peristiwa terjadinya perbuatan tidak adil dan tidak jujur tersebut sungguh sangat memprihatinkan. Kondisi yang sangat memprihatinkan ini seharusnya menggugah setiap orang untuk bersamasama memperjuangkan keadilan dan kejujuran.

 

Memahami praktik keadilan dan kejujuran dalam hidup sehari-hari

Untuk dipahami:

  1. Tindakan Burt Lancaster dapat kalian jadikan contoh atau teladan dalam memperjuangkan kejujuran dan keadilan. Jujur karena mengembalikan barang yang ditemukan kepada yang berhak memiliki. Adil karena dia tidak menggunakan uang yang bukan menjadi hak miliknya. Dia mengembalikan kepada yang berhak, yaitu perempuan itu.
  2. Perbuatan Burt mendatangkan kebahagiaan bagi dirinya maupun orang lain, khususnya perempuan tua itu. Betapa sedihnya perempuan tua itu jika Burt tidak mengembalikan uang tersebut. Memahami keadilan dan kejujuran berdasarkan Kitab Suci

Baca dan renungkan bacaan Kitab Suci berikut ini!

1 Raja-Raja 3:16-28

16 Pada waktu itu masuklah dua orang perempuan sundal menghadap raja, lalu mereka berdiri di depannya. 17 Kata perempuan yang satu: “Ya tuanku! aku dan perempuan ini diam dalam satu rumah, dan aku melahirkan anak, pada waktu dia ada di rumah itu. 18 Kemudian pada hari ketiga sesudah aku, perempuan ini pun melahirkan anak; kami sendirian, tidak ada orang luar bersama-sama kami dalam rumah, hanya kami berdua saja dalam rumah. 19 Pada waktu malam anak perempuan ini mati, karena ia menidurinya. 20 Pada waktu tengah malam ia bangun, lalu mengambil anakku dari sampingku; sementara hambamu ini tidur, dibaringkannya anakku itu di pangkuannya, sedang anaknya yang mati itu dibaringkannya di pangkuanku. 21 Ketika aku bangun pada waktu pagi untuk menyusui anakku, tampaklah anak itu sudah mati, tetapi ketika aku mengamatamati dia pada waktu pagi itu, tampaklah bukan dia anak yang kulahirkan.” 22 Kata perempuan yang lain itu: “Bukan! anakkulah yang hidup dan anakmulah yang mati.” Tetapi perempuan yang pertama berkata pula: “Bukan! anakmulah yang mati dan anakkulah yang hidup.” Begitulah mereka bertengkar di depan raja. 23 Lalu berkatalah raja: “Yang seorang berkata: Anakkulah yang hidup ini dan anakmulah yang mati. Yang lain berkata: Bukan! Anakmulah yang mati dan anakkulah yang hidup.” 24 Sesudah itu raja berkata: “Ambilkan aku pedang,” lalu dibawalah pedang ke depan raja. 25 Kata raja: “Penggallah anak yang hidup itu menjadi dua dan berikanlah setengah kepada yang satu dan yang setengah lagi kepada yang lain.” 26 Maka kata perempuan yang empunya anak yang hidup itu kepada raja, sebab timbullah belas kasihannya terhadap anaknya itu, katanya: “Ya tuanku! Berikanlah kepadanya bayi yang hidup itu, jangan sekali-kali membunuh dia.” Tetapi yang lain itu berkata: “Supaya jangan untukku ataupun untukmu, penggallah!” 27 Tetapi raja menjawab, katanya: “Berikanlah kepadanya bayi yang hidup itu, jangan sekali-kali membunuh dia; dia itulah ibunya.” 28 Ketika seluruh orang Israel mendengar keputusan hukum yang diberikan raja, maka takutlah mereka kepada raja, sebab mereka melihat, bahwa hikmat dari pada Allah ada dalam hatinya untuk melakukan keadilan.

Kisah Para Rasul 5:1-11

1 Ada seorang lain yang bernama Ananias. Ia beserta isterinya Safira menjual sebidang tanah. 2 Dengan setahu isterinya ia menahan sebagian dari hasil penjualan itu dan sebagian lain dibawa dan diletakkannya di depan kaki rasulrasul. 3 Tetapi Petrus berkata: “Ananias, mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu? 4 Selama tanah itu tidak dijual, bukankah itu tetap kepunyaanmu, dan setelah dijual, bukankah hasilnya itu tetap dalam kuasamu? Mengapa engkau merencanakan perbuatan itu dalam hatimu? Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah.” 5 Ketika mendengar perkataan itu rebahlah Ananias dan putuslah nyawanya. Maka sangatlah ketakutan semua orang yang mendengar hal itu. 6 Lalu datanglah beberapa orang muda; mereka mengapani mayat itu, mengusungnya ke luar dan pergi menguburnya. 7 Kira-kira tiga jam kemudian masuklah isteri Ananias, tetapi ia tidak tahu apa yang telah terjadi. 8 Kata Petrus kepadanya: “Katakanlah kepadaku, dengan harga sekiankah tanah itu kamu jual?” Jawab perempuan itu: “Betul sekian.” 9 Kata Petrus: “Mengapa kamu berdua bersepakat untuk mencobai Roh Tuhan? Lihatlah, orang-orang yang baru mengubur suamimu berdiri di depan pintu dan mereka akan mengusung engkau juga ke luar.” 10Lalu rebahlah perempuan itu seketika itu juga di depan kaki Petrus dan putuslah nyawanya. Ketika orang-orang muda itu masuk, mereka mendapati dia sudah mati, lalu mereka mengusungnya ke luar dan menguburnya di samping suaminya. 11Maka sangat ketakutanlah seluruh jemaat dan semua orang yang mendengar hal itu.

 

Untuk Dipahami

  1. Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, adil berarti tidak berat sebelah (tidak memihak); sepatutnya, tidak sewenang-wenang. Secara umum pengertian keadilan dalam masyarakat adalah berpihak pada yang benar dan tidak memihak yang salah, tidak berat sebelah, memberikan hak sesuai dengan kewajiban yang telah dijalankan. Keadilan tidak boleh dipahami dengan pembagian yang sama rata sama rasa.
  2. Sebagai orang beriman kristiani, kita bisa menimba inspirasi dari Kitab Suci dalam berjuang menegakkan keadilan seperti yang dilakukan oleh Raja Salomo. Dalam mengawali tugasnya, Salomo tidak meminta harta kekayaan yang berlimpah, popularitas, maupun umur panjang. Salomo meminta hati yang paham dalam memutus perkara secara adil dan bijaksana (lih. 1 Raj. 3:1-15). Maka ketika Salomo harus memutuskan perkara yang dihadapi oleh rakyatnya, Salomo mampu memutuskan secara adil dan dengan pertimbangan yang bijaksana (lih. 1Raj. 3:16-28). Raja Salomo memberikan bayi yang diperebutkan oleh kedua wanita, kepada wanita yang memang berhak memilikinya.
  3. Bagi orang-orang Farisi dan Yahudi pada saat itu, keadilan dipahami sebagai sesuatu yang seimbang atau sebanding. “Mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki” (Kel. 21:24).
  4. Yesus mengajarkan kepada kita gagasan baru tentang keadilan. Keadilan harus ditempatkan dalam upaya manusia mendapatkan keselamatan dari Allah. Maka Yesus memberikan kesempatan kepada mereka yang bersalah untuk bertobat dan memperbaiki diri agar memperoleh keselamatan dari Allah (bdk Yoh. 8:2- 11; Luk. 19:1-10).
  5. Kaum remaja pun dapat terlibat dalam memperjuangkan keadilan. Misalnya, dengan cara berteman tanpa membedakan suku, agama dan status sosial, menghargai milik orang lain, mengembalikan barang yang dipinjam, memberikan bantuan pada mereka yang diperlakukan tidak adil, dan sebagainya.
  6. Dewasa ini kejujuran sepertinya menjadi sesuatu yang sangat mahal. Perilaku tidak jujur tidak hanya dilakukan oleh mereka yang memiliki kekuasaan, seperti para oknum penguasa yang melakukan tindak korupsi untuk memperkaya diri.
  7. Para pelajar yang sedang duduk di bangku sekolah pun seringkali melakukan perbuatan tidak jujur. Misalnya, menghalalkan segala cara untuk memperoleh hasil maksimal dengan cara menyontek. Tragisnya perbuatan tidak terpuji tersebut dianggap hal biasa, bukan hal yang memalukan lagi. Jika saat sekolah berbuat curang sudah dianggap biasa, apa jadinya nanti kalau mereka menjadi pemimpin?
  8. Tindakan tidak jujur akan membawa akibat bagi diri sendiri, orang lain, dan hidup bersama. Ketidakjujuran menipu diri sendiri dan orang lain. Ketidakjujuran membawa akibat orang akan kehilangan kepercayaan, hidupnya merasa tidak tenang. dan hidupnya tidak lagi dihargai oleh masyarakat umum.
  9. Dalam Kisah Para Rasul 5:1-11, perbuatan tidak jujur yang dilakukan oleh Ananias dan Safira berakibat sangat fatal, yaitu kematian. Karena perbuatan tidak jujur tidak hanya mendustai diri sendiri dan orang lain, tetapi mendustai
  10. Yesus mengingatkan kita untuk selalu bertindak jujur, “Jika ya hendaklah kamu katakan ya, jika tidak apa kamu katakan tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” (Mat. 5:37). Yesus menuntut setiap orang untuk setia dalam bertindak jujur. Perbuatan jujur adalah perbuatan yang berani menyatakan kebenaran. Dengan hidup dalam kebenaran, maka hidup bersama memungkinkan setiap orang dapat berkembang seutuhnya.
  11. Sebagai pelajar, banyak cara yang dapat dilakukan untuk belajar memperjuangkan kejujuran. Misalnya, dengan cara mengatakan sesuatu sesuai dengan yang sebenarnya, tidak menyontek saat ulangan, mengembalikan barang yang dipinjam atau menghargai hak milik orang lain, memberitahukan hasil belajar kepada orang tua dan sebagainya.


  1. Jelaskan bagaimana ajaran Yesus mengubah pemahaman tradisional (Prinsip "Mata ganti mata") tentang keadilan, dan bagaimana konsep keselamatan menjadi bagian dari ajaran tersebut!
  2. Berdasarkan kisah Raja Salomo dalam 1 Raja-Raja 3:16-28, analisis pertimbangan dan hikmat yang digunakan Salomo untuk menegakkan keadilan dalam menangani perselisihan kedua wanita tersebut!
  3. Pembelajaran moral dan spiritual apa yang dapat dipetik dari kisah Ananias dan Safira (Kisah Para Rasul 5:1-11) mengenai dampak ketidakjujuran terhadap diri sendiri, sesama, dan Allah?
  4. Mengapa kebiasaan tidak jujur seperti menyontek di lingkungan sekolah dapat berdampak serius bagi kehidupan bermasyarakat dan kepemimpinan di masa depan?
  5. Berikan 4 contoh tindakan nyata yang dapat dilakukan oleh seorang pelajar dalam kehidupan sehari-hari untuk memperjuangkan nilai kejujuran dan keadilan!

Mengembangkan Budaya Kehidupan



Mengapa materi ini perlu dipelajari?

Agar kita dapat memahami ajaran Gereja bahwa hidup adalah anugerah Tuhan yang harus diperjuangkan, sehingga mampu bersyukur dan menyusun rencana untuk mengembangkan budaya kehidupan dalam diri kita.

 

Ayat yang perlu direnungkan

“Jangan membunuh” (Kel. 20:13)

 Pengantar

Hidup manusia adalah milik Allah. Tidak seorang pun boleh mengambil atau merampasnya. Hanya Tuhan yang memiliki kewenangan mutlak atas hidup seseorang. Demikian berharganya hidup seseorang, setiap orang memiliki kewajiban untuk membela kehidupannya sendiri maupun kehidupan orang lain. Perintah Allah yang berbunyi “Jangan membunuh” mengajak setiap orang untuk menghargai kehidupan, baik hidup sendiri maupun hidup orang lain. Perintah jangan membunuh dilandasi kepercayaan bahwa kehidupan manusia diberikan oleh Allah dan harus dihormati. Hidup setiap orang bernilai sehingga tidak dapat dikorbankan untuk kepentingan apa pun dan oleh siapa pun. Kesadaran bahwa hidup itu berharga dan harus dihormati, rupanya belum merasuki seluruh anggota masyarakat.

 

Memahami budaya kehidupan dan budaya kematian dalam hidup sehari-hari

Untuk dipahami:

  • a. Merokok dan mengonsumsi narkoba jenis apa pun merupakan budaya kematian jangka panjang karena tidak baik bagi kesehatan dan mengancam kelangsungan hidup. Rokok dapat menyebabkan sakit jantung akibat penggumpalan darah. Dampak narkoba bagi kesehatan menyebabkan daya ingat menurun, kehilangan ingatan, dan koordinasi tubuh terganggu. Selain hal tersebut, narkoba dapat mengancam kelangsungan hidup berbangsa dan dapat mengancam ketentraman umum. Karena biasanya para pengguna narkoba tidak lagi peduli dengan norma dan aturan yang berlaku, memicu semakin maraknya pelaku kriminalitas.
  • b. Sementara berolah raga secara teratur dapat meningkatkan imunitas tubuh. Demikian juga dengan memeriksa kesehatan sangat penting untuk menjaga agar tubuh tetap sehat.

 

Memahami Ajaran Gereja dan Kitab Suci dalam membela kehidupan

Gudium et Spes art. 51

“Sebab Allah, Tuhan kehidupan, telah mempercayakan pelayanan mulia melestarikan hidup kepada manusia, untuk dijalankan dengan cara yang layak baginya. Maka kehidupan sejak saat pembuahan harus dilindungi dengan sangat cermat. Pengguguran dan pembunuhan anak merupakan tindak kejahatan yang durhaka.”

Kongregasi untuk Ajaran Iman, Deklarasi mengenai Eutanasia, 5 Mei 1980

“ Tak sesuatu pun atau tak seorang pun dapat membiarkan seorang manusia yang tak bersalah dibunuh, entah dia itu janin atau embrio, anak atau dewasa, orang jompo atau pasien yang tidak dapat sembuh ataupun orang yang sedang sekarat selanjutnya tak seorang pun diperkenankan meminta pembunuhan ini, entah untuk dirinya sendiri, entah untuk orang lain yang dipercayakan kepadanya, juga tidak ada penguasa yang dengan sah dapat memerintahkannya atau mengizinkan tindakan semacam itu”

Lukas 8: 40-56

40 Ketika Yesus kembali, orang banyak menyambut Dia sebab mereka semua menanti-nantikan Dia. 41 Maka datanglah seorang yang bernama Yairus. Ia adalah kepala rumah ibadat. Sambil tersungkur di depan kaki Yesus ia memohon kepadaNya, supaya Yesus datang ke rumahnya, 42 karena anaknya perempuan yang satusatunya, yang berumur kira-kira dua belas tahun, hampir mati. Dalam perjalanan ke situ Yesus didesak-desak orang banyak. 43 Adalah seorang perempuan yang sudah dua belas tahun menderita pendarahan dan yang tidak berhasil disembuhkan oleh siapa pun. 44 Ia maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubahNya, dan seketika itu juga berhentilah pendarahannya. 45 Lalu kata Yesus: “Siapa yang menjamah Aku?” Dan karena tidak ada yang mengakuinya, berkatalah Petrus: “Guru, orang banyak mengerumuni dan mendesak Engkau.” 46 Tetapi Yesus berkata: “Ada seorang yang menjamah Aku, sebab Aku merasa ada kuasa keluar dari diri-Ku.” 47 Ketika perempuan itu melihat, bahwa perbuatannya itu ketahuan, ia datang dengan gemetar, tersungkur di depan-Nya dan menceriterakan kepada orang banyak apa sebabnya ia menjamah Dia dan bahwa ia seketika itu juga menjadi sembuh. 48 Maka kata-Nya kepada perempuan itu: “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!” 49 Ketika Yesus masih berbicara, datanglah seorang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata: “Anakmu sudah mati, jangan lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru!” 5 0 Tetapi Yesus mendengarnya dan berkata kepada Yairus: “Jangan takut, percaya saja, dan anakmu akan selamat.” 51 Setibanya di rumah Yairus, Yesus tidak memperbolehkan seorang pun ikut masuk dengan Dia, kecuali Petrus, Yohanes dan Yakobus dan ayah anak itu serta ibunya. 52 Semua orang menangis dan meratapi anak itu. Akan tetapi Yesus berkata: “Jangan menangis; ia tidak mati, tetapi tidur.” 53 Mereka menertawakan Dia, karena mereka tahu bahwa anak itu telah mati. 54 Lalu Yesus memegang tangan anak itu dan berseru, kata-Nya: “Hai anak bangunlah!” 55 Maka kembalilah roh anak itu dan seketika itu juga ia bangkit berdiri. Lalu Yesus menyuruh mereka memberi anak itu makan. 56 Dan takjublah orang tua anak itu, tetapi Yesus melarang mereka memberitahukan kepada siapa pun juga apa yang terjadi itu.

 

Untuk Dipahami

  • Masih banyak peristiwa yang menunjukkan adanya budaya kematian atau kebiasaan yang tidak menghargai kehidupan, misalnya:

a. Perang yang dapat mengancam kehidupan manusia bahkan mungkin dapat mengarah pada pemusnahan hidup manusia.

b. Eutanasia yang mempercepat kematian guna membebaskan sesama dari penderitaan yang dilakukan dengan pertimbangan medis.

c. Aborsi adalah pengguguran kandungan, sama artinya dengan pembunuhan.

d. Bunuh diri. Keputusasaan dalam menjalani kehidupan dapat mengantarkan seseorang pada pengambilan keputusan yang salah, yaitu menghilangkan hidupnya sendiri.

e. Penganiayaan. Perbuatan keji yang mengarah pada perampasan dan penghilangan hak hidup.

f. Perbuatan lain, seperti perkelahian dan tawuran di kalangan pelajar atau warga.

  • Budaya kematian merupakan segala bentuk tindakan yang merusak, mengancam, dan menghancurkan hidup manusia baik jangka pendek maupun jangka panjang. Menggunakan narkoba, merokok, mabuk-mabukan dan kebut-kebutan di jalan raya merupakan ancaman bagi kehidupannya sendiri maupun kehidupan orang lain.
  • Gereja mengajarkan bahwa hidup setiap orang harus dijaga. Jangan sampai seseorang kehilangan nyawanya. Hidup manusia tidak boleh dimusnahkan.
  • Demikian juga halnya dengan aborsi dan euthanasia. Konsili Vatikan II menyebut pengguguran suatu tindakan kejahatan yang durhaka, sama dengan pembunuhan dan tindakan yang melawan kehendak Allah.
  • Yesus sendiri sangat peduli dengan budaya kehidupan. Peristiwa Yesus menyembuhkan orang sakit (lih. Mat. 15:29-31), Yesus memberi makan empat ribu orang (Mrk. 8:1-10), Yesus membangkitkan anak Yairus dan menyembuhkan seorang perempuan yang sakit pendarahan (Luk. 8: 40-56), dan masih banyak tindakan Yesus yang lainnya, mengajarkan kepada kita untuk membela kehidupan.
  • Setiap manusia seharusnya memperjuangkan martabatnya yang luhur dengan membela hak yang paling dasar, yaitu hak atas hidup. Hidup yang sempurna harus mengarah kepada kehidupan yang kekal di surga. Hidup itulah yang utama, sedangkan yang lain adalah pelengkap agar kita makin dapat menyempurnakan hidup itu sendiri. Hidup yang sempurna bukan hanya hidup masa kini saja, melainkan hidup yang terarah pada kehidupan yang kekal di surga, sehingga tidak perlu khawatir dengan yang terjadi pada hidup masa kini.
  • Berbagai usaha yang dapat dilakukan dalam membela dan menghargai hidup:

a. Gerakan hidup sehat.

Berolahraga, menghindari obat-obatan terlarang, tidak merokok, tidak minum minuman keras, perbanyak minum air putih dan istirahat cukup.

b. Terlibat gerakan yang memperjuangkan kehidupan.

Mengajak para remaja menghargai kehidupan dengan menjaga dan menghargai kehidupannya sendiri maupun hidup orang lain dengan tidak melakukan aborsi, bunuh diri, dan sebagainya. Untuk terlibat secara langsung dalam gerakan semacam ini, kita bisa melakukan secara pribadi maupun mengikuti berbagai kelompok yang kiprahnya dapat kalian cari informasinya di internet.

c. Pertolongan bagi yang terancam hidupnya. Membela kehidupan dapat dilakukan dengan menolong atau membantu yang terancam kehidupannya. Misalnya, menolong mereka yang kelaparan, berbela rasa pada yang miskin, maupun mereka yang terabaikan.


Kerjakan 5 soal uraian berikut ini:

  1. Jelaskan mengapa kehidupan manusia bernilai sangat berharga dan sebutkan alasan mengapa tidak seorang pun berhak merampasnya menurut ajaran Gereja Katolik!
  2. Jelaskan perbedaan antara budaya kehidupan dan budaya kematian dalam kehidupan sehari-hari, serta berikan masing-masing dua contoh tindakan yang mencerminkannya!

  3. Berdasarkan kutipan Gaudium et Spes art. 51 dan Deklarasi mengenai Eutanasia, bagaimana pandangan Gereja Katolik terhadap tindakan aborsi dan eutanasia?

  4. Dalam Kitab Suci Injil Lukas 8:40-56 (kisah penyembuhan wanita pendarahan dan pembangkitan anak Yairus), nilai-nilai budaya kehidupan apa saja yang ditunjukkan oleh Yesus?

  5. Sebutkan dan jelaskan tiga bentuk usaha konkrit yang dapat dilakukan oleh seorang remaja untuk membela dan menghargai kehidupan di lingkungannya!

Keluhuran Martabat Manusia


Mengapa materi ini perlu dipelajari?

Agar kita mampu menjabarkan sikap dan pandangan Gereja tentang keluhuran martabat manusia dan pada akhirnya mampu bersyukur dengan membangun sikap menghargai keluhuran martabat hidup manusia.

 Ajaran Gereja yang perlu direnungkan

“Segala sesuatu di dunia ini harus diarahkan kepada manusia sebagai pusat dan puncaknya” (Gaudium et Spes art. 12).

 

Pengantar

Setiap orang adalah pribadi terhormat dan memiliki martabat yang luhur. Hal ini yang membedakan manusia dengan ciptaan lain, karena diciptakan menurut gambar dan rupa Sang Pencipta. Berfirmanlah Allah, “Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” (Kejadian 1:26). Manusia harus dihormati atas dasar keluhurannya sebagai citra Allah. Kesadaran ini memunculkan pertanyaan dalam diri kita, kalau manusia mempunyai martabat luhur sebagai citra Allah, mengapa masih banyak pelanggaran terhadap keluhuran martabat manusia? Apa yang bisa kita lakukan untuk memperjuangkan keluhuran martabat manusia?

 

Memahami keluhuran martabat manusia berdasarkan Kitab Suci

Gaudium et Spes art. 12 (Manusia diciptakan menurut gambar Allah)

Kaum beriman maupun tak beriman hampir sependapat, bahwa segala sesuatu di dunia ini harus diarahkan kepada manusia sebagai pusat dan puncaknya. Apakah manusia itu? Di masa silam dan sekarang pun ia mengemukakan banyak pandangan tentang dirinya, pendapat-pendapat yang beraneka pun juga bertentangan: seringkali ia menyanjung-nyanjung dirinya sebagai tolok ukur yang mutlak, atau merendahkan diri hingga putus asa; maka ia seraba bimbang dan gelisah. Gereja ikut merasakan kesulitan-kesulitan itu secara mendalam. Diterangi oleh Allah yang mewahyukan Diri, Gereja mampu menjawab kesukaran-kesukaran itu, untuk melukiskan keadaan manusia yang sesungguhnya, menjelaskan kelemahan-kelemahannya, sehingga serta merta martabat dan panggilannya dapat dikenali dengan cermat. Adapun kitab suci mengajarkan bahwa manusia diciptakan “menurut gambar Allah”; ia mampu mengenal dan mengasihi Penciptanya; oleh Allah manusia ditetapkan sebagai tuan atas semua makhluk di dunia ini[8], untuk menguasainya dan menggunakannya sambil meluhurkan Allah[9]. “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. Engkau menjadikannya berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya” (Mzm 8:5-7). Tetapi Allah tidak menciptakan manusia seoarng diri: sebab sejak awal mula “Ia menciptakan mereka pria dan wanita” (Kej 1;27). Rukun hidup mereka merupakan bentuk pertama persekutuan antar pribadi. Sebab dari kodratnya yang terdalam manusia bersifat sosial; dan tanpa berhubungan dengan sesama ia tidak dapat hidup atau mengembangkan bakat-pembawaannnya. Maka, seperti kita baca pula dalam Kitab suci, Allah melihat “segala sesuatu yang telah dibuat-Nya, dan itu semua amat baiklah adanya” (Kej 1:31).

 

Markus 10:46-52

46 Lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerikho. Dan ketika Yesus keluar dari Yerikho, bersama-sama dengan murid-murid-Nya dan orang banyak yang berbondong-bondong, ada seorang pengemis yang buta, bernama Bartimeus, anak Timeus, duduk di pinggir jalan. 47 Ketika didengarnya, bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru: “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” 48 Banyak orang menegornya supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: “Anak Daud, kasihanilah aku!” 49 Lalu Yesus berhenti dan berkata: “Panggillah dia!” Mereka memanggil orang buta itu dan berkata kepadanya: “Kuatkan hatimu, berdirilah, Ia memanggil engkau.” 50 Lalu ia menanggalkan jubahnya, ia segera berdiri dan pergi mendapatkan Yesus. 51 Tanya Yesus kepadanya: “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Jawab orang buta itu: “Rabuni, supaya aku dapat melihat!” 52 Lalu kata Yesus kepadanya: “Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!” Pada saat itu juga melihatlah ia, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.

Untuk Dipahami

  • Dalam kehidupan masyarakat, masih dapat kita temukan berbagai pandangan tentang keluhuran martabat manusia, antara lain: Seseorang dihargai karena penampilannya, seseorang dihargai karena harta kekayaan yang dimilikinya.

  • Seseorang dihargai karena jabatan atau kekuasaan yang dimilikinya. 2. Contoh perendahan martabat manusia:
  • Perdangangan wanita dan anak-anak. Mereka diperlakukan seperti barang atau dijadikan obyek yang dapat diperjualbelikan sesuka hatinya.
  • Perbudakan. Kaum buruh diperalat semata-mata untuk menarik keuntungan dan tidak diperlakukan sebagai pribadi yang bebas dan bertanggung jawab. Anakanak diperas tenaganya dengan imbalan yang sangat rendah, bahkan kesempatan untuk mengenyam pendidikan dilenyapkan.
  • Sebagai remaja, terkadang kita juga melakukan berbagai bentuk perendahan martabat manusia, seperti merasa diri paling hebat, orang lain dianggap lebih rendah, merasa paling benar, paling pandai, orang lain dianggap bodoh atau tidak berkualitas, mengucilkan teman karena perbedaan keyakinan, status sosial, suku, dan sebagainya.
  • Bagaimana seharusnya sikap kita sebagai seorang kriatiani? Iman kristiani mengakui, menghargai, dan menjunjung tinggi keluhuran martabat manusia. Manusia adalah citra Allah yang mempunyai kedudukan paling luhur di antara segala ciptaan Tuhan yang lainnya. Keluhuran manusia tidak hanya karena dibekali akal budi, hati nurani, dan kehendak bebas. Tetapi, “segala sesuatu di dunia diarahkan kepada manusia sebagai pusat dan puncaknya.” (Gaudium et Spes art 12).
  • Setiap orang yang meluhurkan martabat dirinya sendiri dan sesamanya, sama artinya dengan meluhurkan Allah sendiri sebagai Penciptanya. (lih. Mzm. 8: 3-9).
  • Semasa hidupnya di dunia, Yesus sendiri senantiasa menjunjung tinggi dan memperjuangkan keluhuran martabat manusia. Beberapa contoh sikap dan tindakan-Nya dalam menjunjung tinggi dan memperjuagkan keluhuran martabat manusia:

a. Yesus memanggil murid-murid-Nya dari kalangan anggota masyarakat yang sederhana, bahkan cenderung penghasilannya tidak menentu atau berkekurangan. Seperti Petrus dan Andreas, Yakobus dan Yohanes, mereka adalah para nelayan, yang hidupnya bergantung pada hasil tangkapan ikan yang diperolehnya. Mereka bukan dari golongan orang-orang kaya yang berkelimpahan dengan kemewahan harta duniawi.

b. Yesus memanggil murid-murid-Nya dari golongan orang yang dianggap para pendosa, yaitu Matius dan Zakheus. Mereka adalah para pemungut cukai. Oleh masyarakat Yahudi, mereka dianggap sebagai penipu rakyat dengan menaikkan obyek pajak. Sebagian diserahkan ke penjajah Romawi, sebagian dinikmati dirinya sendiri. Maka mereka dianggap sebagai orang-orang berdosa yang harus dijauhi.

c. Yesus dalam pengajarannya sangat memuji persembahan seorang janda miskin yang memberikan persembahan, membela Maria Magdalena. Tindakan Yesus ini menjadi teladan bagi setiap orang bahwa perempuan juga memiliki martabat luhur yang setara dengan kaum laki-laki.

d. Yesus membiarkan anak-anak kecil datang kepada-Nya. Bagi para murid, kehadiran anak-anak kecil dianggap sebagai pengganggu, tetapi Yesus justru membiarkan mereka datang kepada-Nya.

e. Yesus membela mereka yang lemah dan tak berdaya. Peristiwa penyembuhan Bartimeus mengajarkan kepada kita tentang sikap terhadap mereka yang berbeda status sosialnya. Mereka yang lemah, miskin, tersingkir, dan terabaikan adalah mereka yang membutuhkan perhatian dan pertolongan kita.

  • Sebagai remaja kita dapat turut serta membela keluhuran martabat manusia dengan cara:

a. Bergaul dengan semua orang tanpa membedakan status sosial, suku, agama, dan golongan,

b. Membantu mereka yang lemah, disingkirkan dalam pergaulan dan miskin.

c. Menghargai orang lain dengan segala keberadaannya.

d. Dan sebagainya.


Berikut adalah 5 soal uraian , silahkan kerjakan:

  1. Jelaskan makna manusia sebagai "citra Allah" berdasarkan Kitab Suci (Kejadian 1:26) dan kaitannya dengan keluhuran martabat setiap pribadi!

  2. Analisis pandangan dokumen Gaudium et Spes artikel 12 mengenai kedudukan manusia di antara ciptaan Allah lainnya di dunia ini!

  3. Berikan 3 contoh tindakan perendahan martabat manusia yang sering terjadi dalam kehidupan masyarakat modern, serta jelaskan alasan tindakan tersebut bertentangan dengan iman Kristiani!

  4. Bagaimana kisah penyembuhan Bartimeus (Markus 10:46-52) menggambarkan sikap dan keteladanan Yesus dalam menjunjung tinggi serta membela martabat orang yang tersingkir?

  5. Sebutkan dan jelaskan langkah-langkah konkret yang dapat dilakukan oleh seorang remaja dalam kehidupan sehari-hari untuk menghargai dan memperjuangkan keluhuran martabat sesamanya tanpa membeda-bedakan latar belakang!

Sorotan

Pengantar

   Selamat Datang di Ruang Belajar Kita Salam damai dan sukacita dalam Kristus. 🙏 Halo teman-teman! Selamat datang di blog pembelajaran Pe...