Kamis, 03 September 2026

Kebersamaan itu Indah

 

Tujuan Pembelajaran

Peserta didik mampu memahami ajaran Gereja tentang pentingnya membangun persaudaraan dengan penganut agama dan kepercayaan lain dan mampu bersyukur dengan membangun persaudaraan sejati dengan penganut agama dan kepercayaan lain dalam hidup sehari-hari.

 

Ayat yang harus direnungkan

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel.” (Mat. 8:10).

 

Indonesia adalah negara yang terdiri dari beraneka ragam suku, budaya, bahasa, agama, dan kepercayaan. Dalam hal kehidupan beragama dan kepercayaan, kita mengenal enam agama yang ada di Indonesia, yaitu Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu dan aliran kepercayaan. Pada kenyataannya, penduduk Indonesia secara mayoritas menganut agama Islam. Dengan kondisi semacam ini, ketika tinggal di daerah tertentu, sangat mungkin, kita akan memiliki tetangga yang berbeda agama dan kepercayaan dengan kita. Kebanyakan umat Katolik tinggal di lingkungan seperti hal itu, kecuali mereka tinggal di daerah-daerah tertentu yang mayoritasnya beragama Katolik. Demikian pun di lingkungan sekolah. Kebanyakan dari siswa Katolik mengalami keberagaman ini. Pluralitas di negara yang kita cintai merupakan kenyataan yang harus disyukuri sebagai karya Tuhan, bukan untuk disesali. Pluralitas merupakan sesuatu yang dikehendaki oleh Tuhan sendiri. Dialah yang menciptakan bumi dan isinya termasuk manusia. Dialah asal mula kehidupan dan tujuan hidup setiap orang yang beragama. Tuhan menghendaki semua manusia memperoleh keselamatan. Kita harus percaya bahwa Tuhan yang kita sembah juga hadir dalam karya kebaikan tetangga kita, dalam kesalehan hidupnya, kebijaksanaannya, kepedulian dan perjuangan hidupnya. Kita tidak pantas menghalangi dan memberi sekat-sekat terhadap karya kebaikan Tuhan dengan segala keterbatasan akal budi kita. Seakanakan Tuhan yang mahakuasa itu adalah milik kita sendiri. Seakan-akan karya kebaikan Tuhan itu hanya untuk kelompok tertentu saja. Sikap seperti inilah yang harus kita hindari dalam menjalin hidup bersama dengan tetangga, teman sekolah, dan siapa pun yang kita jumpai.

 

Memahami indahnya kebersamaan dalam perbedaan melalui pengalaman hidup sehari-hari

 Matius 8:5-13

5 Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya: 6 ”Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita.” 7 Yesus berkata kepadanya: “Aku akan datang menyembuhkannya.” 8 Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. 9 Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.” 10 Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikutiNya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel. 11 Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga,12sedangkan anakanak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.” 13Lalu Yesus berkata kepada perwira itu: “Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya.” Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya.

 

Yohanes 4:1-10 1

Ketika Tuhan Yesus mengetahui, bahwa orang-orang Farisi telah mendengar, bahwa Ia memperoleh dan membaptis murid lebih banyak dari pada Yohanes 2 meskipun Yesus sendiri tidak membaptis, melainkan murid-murid-Nya, 3 Ia pun meninggalkan Yudea dan kembali lagi ke Galilea. 4 Ia harus melintasi daerah Samaria.5 Maka sampailah Ia ke sebuah kota di Samaria, yang bernama Sikhar dekat tanah yang diberikan Yakub dahulu kepada anaknya, Yusuf. 6 Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas. 7 Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya: “Berilah Aku minum.” 8 Sebab murid-murid-Nya telah pergi ke kota membeli makanan. 9 Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: “Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?” (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.) 10Jawab Yesus kepadanya: “Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.”

 

Untuk Dipahami

  • Keberagaman agama dan kepercayaan yang ada dalam masyarakat di sekitar kita harus dihayati secara benar. Hal ini memungkinkan tumbuhnya rasa solidaritas yang tinggi antarsesama umat beragama dan kepercayaan. Mereka akan saling bahu membahu dalam mengatasi setiap masalah atau kesulitan, tidak lagi mempersoalkan agama atau kepercayaan seseorang. Mereka akan merasa terpanggil berbela rasa meskipun yang mengalami kesulitan, masalah, bencana atau musibah adalah pemeluk agama dan kepercayaan yang berbeda. Mereka akan menganggap sebagai saudara meskipun beragama dan kepercayaan lain.
  • Perbedaan agama dan kepercayaan jangan sampai dijadikan penghalang bagi seseorang untuk melakukan perbuatan kasih. Kebiasaan untuk saling menghargai dan menerima perbedaan telah hidup di tengah-tengah masyarakat sejak zaman dahulu. Beberapa contoh kebiasaan yang ada dalam masyarakat tersebut misalnya:

a. Saat hari raya agama tertentu, anggota masyarakat saling berkunjung satu sama lain dan memberikan ucapan selamat.

b. Di beberapa tempat bisa disaksikan tempat ibadah seperti Masjid, Gereja dan Vihara dibangun saling berdekatan. Pada hari-hari raya tertentu ketika jumlah umat yang beribadah melebihi kapasitas, mereka saling meminjamkan lahan parkir bagi penganut agama lain.

c. Setiap Perayaan Natal, bisa disaksikan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Nahdlatul Ulama dikerahkan untuk menjaga gereja untuk membantu umat kristiani merayakan Perayaan Natal. Demikian juga di wilayah Indonesia Timur yang mayoritas beragama Katolik atau Kristen, mereka ikut berpartisipasi dalam memberikan rasa aman dan nyaman bagi saudara yang muslim untuk merayakan Idul Fitri.

  • Yesus sendiri telah memberikan teladan kepada kita tentang keberagaman. Ia tidak membatasi diri dalam karya pelayanan-Nya hanya kepada orang-orang Israel saja. Yesus bersedia menyembuhkan hamba Perwira Romawi yang memiliki latar belakang budaya, suku bangsa dan agama yang berbeda dengan Yesus (Mat. 8:5-11). Yesus berbicara dengan perempuan Samaria, yang oleh orang Yahudi dianggap bangsa kafir (Yoh. 4:7-42), Yesus mau menyembuhkan anak perempuan asing dari Siro-Fenesia Yunani, yang berlatar belakang suku bangsa budaya dan keyakinan yang sangat berbeda dengan bangsa Yahudi (Mrk. 7:24-30).
  • Kita bersama tinggal dalam satu atap rumah besar yang bernama Indonesia. Kebersamaan sebagai sebuah keluarga tersebut tercermin dalam suasana hidup berdampingan, saling menghormati, berani berdialog, penuh keterbukaan yang jujur, silaturahmi terus menerus, bekerja sama dalam menegakkan kebenaran dan aksi nyata dalam membela yang lemah.
  • Sebagai remaja, hal yang dapat dilakukan untuk menciptakan hidup harmonis dengan orang lain yang berbeda agama maupun kepercayaan, misalnya bersedia bergaul dengan semua orang tanpa memandang latar belakang mereka dan bersedia membantu yang memerlukan bantuan apa pun agamanya.
  • Kita adalah saudara dan saudari bagi yang lain. Jika kita merasa ada yang berbeda, mari kita mencari segala yang dapat menyatukan. Kita adalah Indonesia. Indonesia adalah rumah kita bersama. Kita Pancasila, kita Bhineka, Kita Indonesia.

kerjakan 5 soal uraian ini:

  1. Jelaskan mengapa keberagaman suku, budaya, dan agama di Indonesia harus disyukuri sebagai karya Tuhan, bukan untuk disesali!

  2. Sebutkan dan jelaskan 2 contoh konkret bentuk toleransi serta tradisi saling menghargai antarpemeluk agama yang ada di tengah masyarakat Indonesia!

  3. Bagaimana Yesus memberikan teladan dalam menyikapi perbedaan latar belakang suku, budaya, dan agama? Berikan contoh peristiwa dari Kitab Suci!

  4. Berdasarkan perikop Matius 8:5-13, hal apa yang membuat Yesus heran dan memuji perwira Romawi tersebut? Apa pelajaran yang dapat kita petik terkait sikap terhadap orang yang berbeda keyakinan?

  5. Sebagai seorang remaja, aksi nyata apa saja yang dapat kamu lakukan dalam kehidupan sehari-hari untuk menjaga keharmonisan dan persaudaraan sejati dengan teman yang berbeda agama?



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sorotan

Pengantar

   Selamat Datang di Ruang Belajar Kita Salam damai dan sukacita dalam Kristus. 🙏 Halo teman-teman! Selamat datang di blog pembelajaran Pe...