Sabtu, 25 Januari 2025

SENGSARA DAN WAFAT YESUS


Tujuan Pembelajaran

Peserta didik dapat memahami pengorbanan Yesus, meneladan Keberanian Yesus dalam berkorban untuk orang lain terlebih mereka yang miskin, menderita dan berkekurangan

Kosa kata/ kata kunci/ Ayat yang perlu direnungkan

”Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini daripada- Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak- Mulah yang terjadi” (Luk 22:42)

Menggali pengalaman hidup tentang konsekuensi dari sebuah perbuatan

Dalam melaksanakan tugas yang menjadi tanggung jawab seseorang, biasanya ada saja tantangan yang dihadapi. Tantangan itu bisa berasal dari dalam diri maupun dari luar diri sendiri. Kesuksesan seseorang dalam melaksanakan tugas itu bergantung juga pada bagaimana sikap orang tersebut dalam menghadapi tantangan yang dihadapi itu. Yesus yang menerima tugas dari Bapa-Nya untuk mewartakan kabar suka cita Kerajaan Allah, juga tidak terlepas dari tantangan dan risiko.

Menggali pengalaman Yesus ketika mengalami penolakan atas karya-Nya

1)      Sebagian kelompok orang MENERIMA PEWARTAAN YESUS, antara lain:

  • Pertama,  Orang miskin dan sederhana, karena mereka inilah yang merasakan secara langsung pewartaan Yesus, baik melalui kata-kata maupun melalui mukjizat-Nya.
  • Kedua, Para pendosa yang au bertobat, karena Yesus berkenan datang dan bergaul dengan mereka, sehingga mereka merasa diperhatikan oleh Yesus.
  • Ketiga, Orang-orang sakit, karena orang-orang inilah yang secara langsung merasakan kebahagiaan dan kegembiraan atas pewartaan Yesus, terlebih dengan mukjizat penyembuhan- Nya.
  • Keempat, Kaum wanita dan anak-anak; karena Yesus berkenan hadir, peduli, dan meninggikan derajat mereka.

2)      Selain itu, ada pula kelompok orang yang MENOLAK PEWARTAAN YESUS, antara lain: 

  •       Para Imam dan Ahli Taurat, karena mereka merasa kehilangan wibawa dan mulai berkurang pengikutnya sehingga mereka merasa semakin terancam oleh kehadiran Yesus. 
  •      Orang-Orang Farisi, karena kehadiran Yesus dianggap akan merusak tatanan hidup sosial dan kemasyarakatan mereka yang sudah mapan. 
  •       Para penguasa, karena Yesus sering mengecam mereka sehingga mereka merasa kedudukan, kehormatan dan kekuasaannya terancam dengan kehadiran Yesus. 
  •       Orang-orang kaya dan mapan, karena Kerajaan Allah yang diwartakan oleh Yesus menuntut keberanian untuk meninggalkan segala-galanya termasuk meninggalkan harta benda, kekayaan, dan kemapanan hidup. Kehadiran Yesus merupakan ancaman bagi orang-orang tertentu. Mereka berusaha untuk menyingkirkan Yesus. Terjadilah peristiwa sengsara dan wafat Yesus.

 Menggali inspirasi dari Kitab Suci tentang konsekuensi dari pewartaan Yesus

Bacalah teks Kitab Suci berikut ini:

Mrk 15: 1-39

1 Pagi-pagi benar imam-imam kepala bersama tua-tua dan ahli-ahli Taurat dan seluruh Mahkamah Agama sudah bulat mupakatnya. Mereka membelenggu Yesus lalu membawa-Nya dan menyerahkan-Nya kepada Pilatus. 2 Pilatus bertanya kepada-Nya: “Engkaukah raja orang Yahudi?” Jawab Yesus: “Engkau sendiri mengatakannya.” 3 Lalu imam-imam kepala mengajukan banyak tuduhan terhadap Dia. 4 Pilatus bertanya pula kepada-Nya, katanya: “Tidakkah Engkau memberi jawab? Lihatlah betapa banyaknya tuduhan mereka terhadap Engkau!” 5 Tetapi Yesus sama sekali tidak menjawab lagi, sehingga Pilatus merasa heran. 6 Telah menjadi kebiasaan untuk membebaskan satu orang hukuman pada tiap-tiap hari raya itu menurut permintaan orang banyak. 7 Dan pada waktu itu adalah seorang yang bernama Barabas sedang dipenjarakan bersama beberapa orang pemberontak lainnya. Mereka telah melakukan pembunuhan dalam pemberontakan. 8 Maka datanglah orang banyak dan meminta supaya sekarang kebiasaan itu diikuti juga. 9 Pilatus menjawab mereka dan bertanya: “Apakah kamu menghendaki supaya kubebaskan raja orang Yahudi ini?” 10 Ia memang mengetahui, bahwa imam- imam kepala telah menyerahkan Yesus karena dengki. 11Tetapi imam-imam kepala menghasut orang banyak untuk meminta supaya Barabaslah yang dibebaskannya bagi mereka. 12 Pilatus sekali lagi menjawab dan bertanya kepada mereka: “Jika begitu, apakah yang harus kuperbuat dengan orang yang kamu sebut raja orang Yahudi ini?” 13 Maka mereka berteriak lagi, katanya: “Salibkanlah Dia!” 14 Lalu Pilatus berkata kepada mereka: “Tetapi kejahatan apakah yang telah dilakukan-Nya?” Namun mereka makin keras berteriak: “Salibkanlah Dia!” 15 Dan oleh karena Pilatus ingin memuaskan hati orang banyak itu, ia membebaskan Barabas bagi mereka. Tetapi Yesus disesahnya lalu diserahkannya untuk disalibkan. 16 Kemudian serdadu-serdadu membawa Yesus ke dalam istana, yaitu gedung pengadilan, dan memanggil seluruh pasukan berkumpul. 17 Mereka mengenakan jubah ungu kepada-Nya, menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya. 18 Kemudian mereka mulai memberi hormat kepada-Nya, katanya: “Salam, hai raja orang Yahudi!” 19 Mereka memukul kepala-Nya dengan buluh, dan meludahi-Nya dan berlutut menyembah-Nya. 20a Sesudah mengolok-olokkan Dia mereka menanggalkan jubah ungu itu dari pada-Nya dan mengenakan pula pakaian-Nya kepada-Nya. 20bKemudian Yesus dibawa ke luar untuk disalibkan. 21 Pada waktu itu lewat seorang yang bernama Simon, orang Kirene, ayah Aleksander dan Rufus, yang baru datang dari luar kota, dan orang itu mereka paksa untuk memikul salib Yesus. 22 Mereka membawa Yesus ke tempat yang bernama Golgota, yang berarti: Tempat Tengkorak. 23 Lalu mereka memberi anggur bercampur mur kepada-Nya, tetapi Ia menolaknya. 24 Kemudian mereka menyalibkan Dia, lalu mereka membagi pakaian-Nya dengan membuang undi atasnya untuk menentukan bagian masing-masing. 25 Hari jam sembilan ketika Ia disalibkan. 26 Dan alasan mengapa Ia dihukum disebut pada tulisan yang terpasang di situ: “Raja orang Yahudi”. 27 Bersama dengan Dia disalibkan dua orang penyamun, seorang di sebelah kanan-Nya dan seorang di sebelah kiri-Nya. 28 [Demikian genaplah nas Alkitab yang berbunyi: “Ia akan terhitung di antara orang-orang durhaka.”] 29 Orang-orang yang lewat di sana menghujat Dia, dan sambil menggelengkan kepala mereka berkata: “Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, 30 turunlah dari salib itu dan selamatkan diri-Mu!” 31 Demikian juga imam-imam kepala bersama-sama ahli Taurat mengolok-olokkan Dia di antara mereka sendiri dan mereka berkata: “Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! 32 Baiklah Mesias, Raja Israel itu, turun dari salib itu, supaya kita lihat dan percaya.” Bahkan kedua orang yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mencela Dia juga. 33 Pada jam dua belas, kegelapan meliputi seluruh daerah itu dan berlangsung sampai jam tiga. 34 Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?”, yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? 35 Mendengar itu, beberapa orang yang berdiri di situ berkata: “Lihat, Ia memanggil Elia.” 36 Maka datanglah seorang dengan bunga karang, mencelupkannya ke dalam anggur asam lalu mencucukkannya pada sebatang buluh dan memberi Yesus minum serta berkata: “Baiklah kita tunggu dan melihat apakah Elia datang untuk menurunkan Dia.” 37 Lalu berserulah Yesus dengan suara nyaring dan menyerahkan nyawa-Nya. 38 Ketika itu tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah. 39 Waktu kepala pasukan yang berdiri berhadapan dengan Dia melihat mati-Nya demikian, berkatalah ia: “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!”

Pokok-pokok peneguhan sebagai berikut: 

  • Penderitaan yang dialami oleh Yesus merupakan konsekuensi dari tugas perutusan-Nya untuk melaksanakan kehendak Bapa dalam mewartakan dan menegakkan Kerajaan Allah. 
  • Yesus bertanggungjawab dan rela berkorban tanpa pamrih sampai mati, menyerahkan diri-Nya kepada kehendak Bapa. 

Keteladanan Yesus dalam menghadapi penderitaan tampak dalam beberapa peristiwa berikut:

  1. Yesus tabah dalam menghadapi penderitaan dan berserah diri kepada kehendak Bapa-Nya l Yesus tidak bersikap egois dengan hanya memikirkan penderitaan yang Dia alami. Dia tetap mewartakan kabar suka cita kepada mereka yang membutuhkan, walaupun Dia sendiri sedang mengalami penderitaan, seperti peristiwa Yesus menghibur perempuan yang menangisi-Nya
  2. Ketika berada di atas kayu salib, Yesus tidak menghujat atau pun menyumpahi orang-orang yang telah menyalibkan Dia, tetapi justru sebaliknya, Yesus mengampuni dan mendoakan mereka d. Sebagai murid-Nya, kita harus belajar dari sikap Yesus dalam menghadapi penderitaan yaitu:  tetap tabah dalam menghadapi penderitaan dan disertai sikap penyerahan diri kepada Tuhan
  3. Berani menghadapi risiko demi menegakkan kebenaran dan keadilan
  4. Kita diajak untuk tetap solider terhadap mereka yang miskin, menderita, tertindas dan yang membutuhkan pembebasan dalam hidupnya, meskipun kita sendiri juga mengalami penderitaan.

Peristiwa sengsara  Yesus memberi teladan kepada kita mengenai sikap yang seharusnya kita miliki ketika menghadapi penderitaan hidup. Melalui sengsara dan salib-Nya, Yesus telah memberikan teladan bagi kita dalam menghadari kesulitan-kesulitan hidup kita. Keteladanan itu tampak dalam beberapa peristiwa, seperti ketika Yesus menghibur wanita-wanita yang menangisi-Nya “Hai puteri- puteri Yerusalem, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu (Luk.23:28). 

TUGAS PERUTUSAN SEBAGAI MURID YESUS


Tujuan Pembelajaran

Peserta didik dapat memahami tugas perutusan mereka sebagai murid Kristus, sehingga terdorong mengembangkan dan mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kosa kata / kata kunci/ Ayat yang perlu direnungkan

 “ … dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat 28:20)

 

Mendalami pengalaman menjadi utusan

Setiap orang pernah merasakan diutus untuk melakukan tugas tertentu oleh pimpinannya. Sebagai seorang murid, tentunya kalian merasa bangga ketika dipilih dan diutus untuk mewakili sekolah melakukan hal-hal yang baik, seperti lomba misalnya.  Tanggung jawab sebagai orang yang dipilih dan diutus adalah berjuang mempersiapkan diri dan memperoleh hasil terbaik. Ada kebangggaan dan kegembiraan tersendiri jika mendapatkan hasil yang terbaik dalam melaksanakan tugas khusus tersebut. Demikian pula sebagai murid Yesus. Kita pun diutus oleh Yesus. Untuk apa? Bagaimana melaksanakannya? Mari kita dalami bersama hal ini.

Memahami makna tugas perutusan sebagai murid Yesus

Bacalah dua teks Kitab Suci berikut ini secara bergantian.

Mat 28:16-20

16 Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka. 17 Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu. 18 Yesus mendekati mereka dan berkata: “Kepada- Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. 19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, 20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

Luk 10:1-12

1 Kemudian dari pada itu Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. 2 Kata-Nya kepada mereka: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. 3 Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah tengah serigala. 4 Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan. 5 Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. 6 Dan jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. 7 Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. Janganlah berpindahpindah rumah. 8 Dan jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu diterima di situ, makanlah apa yang dihidangkan kepadamu, 9 dan sembuhkanlah orang-orang sakit yang ada di situ dan katakanlah kepada mereka: Kerajaan Allah sudah dekat padamu. 10 Tetapi jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu tidak diterima di situ, pergilah ke jalan-jalan raya kota itu dan serukanlah: 11 Juga debu kotamu yang melekat pada kaki kami, kami kebaskan di depanmu; tetapi ketahuilah ini: Kerajaan Allah sudah dekat. 12 Aku berkata kepadamu: pada hari itu Sodom akan lebih ringan tanggungannya dari pada kota itu.”

Pokok-pokok penegasan sebagai berikut:

a)      Dalam Injil Matius 28:16-20 dinyatakan dengan jelas bahwa para murid Yesus diberi mandat atau tugas perutusan dengan tujuan : l Pergi ke seluruh dunia l Menjadikan semua bangsa sebagai murid Yesus l Membaptis mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, l Mengajar mereka melakukan segala sesuatu yang telah diperintahkan/ diajarkan oleh Yesus

b)      Dalam Lukas 10:1-12 dinyatakan bahwa tugas murid Yesus adalah menyatakan damai sejahtera dan melakukan kebajikan dengan melayani orang-orang yang membutuhkan pelayanan.

c)       Dalam Injil Lukas 10:3, Yesus berkata, “Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah tengah serigala.” Artinya bahwa kita diutus di tengah-tengah kondisi dan keadaan yang penuh dengan tantangan. Tugas perutusan yang kita terima dari Yesus mengandung risiko besar, penuh tantangan dan hambatan baik dari dalam diri kita sendiri maupun dari luar diri kita.

d)      Yesus memberikan jaminan kepada kita seperti tertuang dalam Matius 28:20, yaitu janji Yesus untuk setia menyertai kita sampai akhir jaman.

e)      Ada beberapa petunjuk yang harus dipatuhi oleh murid Yesus dalam melaksanakan tugas perutusan mereka, yaitu: l Para murid tidak boleh memilih-milih di mana dan kepada siapa mereka mewartakan Kerajaan Allah, l Para murid tidak boleh membawa bekal atau harta, l Mengucapkan salam damai di rumah-rumah orang yang akan dimasuki, l Menyembuhkan orang-orang sakit yang dijumpai, l Memperingatkan orang-orang yang menolak mereka.

Sebagai murid Yesus kita pun mendapatkan tugas perutusan itu, yang dapat kita wujudkan dalam berbagai aktivitas misalnya:

·         Aktif di Lingkungan/Paroki, menjadi misdinar (putra altar), anggota koor, dirigen, lektor, pemazmur,

·         Aktif mengikuti pendalaman Kitab Suci dalam bulan Kitab Suci Nasional,

·         Aktif mengikuti pendalaman iman pada masa Adven dan Prapaska,

·         Menjadi pendamping Sekolah Minggu atau Bina Iman di gereja,

·         Terlibat dalam karya pelayanan sosial seperti mengunjungi panti asuhan atau panti wreda; mengumpulkan dana/barang untuk membantu orang-orang yang kurang beruntung, mengunjungi teman yang sakit, membimbing teman yang kurang mampu dalam memahami materi pelajaran dan lain sebagainya

Berani menolak dengan tegas hal-hal yang bisa merusak kehidupan, misalnya narkoba, pornografi, tawuran, dan sebagainya.

PANGGILAN MURID YESUS



Tujuan Pembelajaran

Peserta didik dapat merefleksikan misteri panggilan dirinya menjadi pengikut Kristus, sehingga mereka menemukan kemantapan dalam menjalani hidup kekristenan mereka, dan terdorong mengembangkan dan mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kosa kata / kata kunci/ Ayat yang perlu direnungkan

“Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” (Mat 4:19)

Menggali pengalaman tentang panggilan

Yesus memanggil dua belas orang untuk dipilih menjadi murid-Nya. Mereka dipanggil oleh Yesus untuk menjadi partner-Nya dalam mewartakan kabar suka cita Kerajaan Allah. Yesus memanggil para murid-Nya melalui berbagai cara. Di lain pihak, beragam reaksi yang diterima Yesus saat memanggil murid-Nya. 

Ada sebagian yang menanggapi secara langsung, tanpa berbelit-belit, dan meninggalkan segala-galanya. Mereka bersedia untuk meninggalkan pekerjaan, keluarga, dan tanpa berpikir panjang langsung mengikuti Yesus. 

Hal ini tampak dalam panggilan murid-murid yang pertama. Ada pula yang bereaksi lain. Ada yang mau mengikuti Yesus, namun dengan mengemukakan berbagai syarat, seperti menyelesaikan dan mengurus hidupnya terlebih dahulu. Orang seperti ini tidak berkenan kepada Yesus.  Dan bahkan ada juga yang menolak, karena tidak mampu memenuhi persyaratan yang diinginkan Yesus. 

Yesus memanggil para murid untuk turut ambil bagian dalam tugas perutusan- Nya. Oleh karena itu, sikap yang dituntut adalah datang kepada Yesus, melihat dengan akal budinya, memahami siapa Yesus dan apa maksud panggilan-Nya. Murid-murid-Nya perlu tinggal bersama-sama dengan Yesus supaya mereka dapat menjalin hubungan pribadi secara lebih mendalam dengan Yesus.

Adapun syarat- syarat untuk dapat mengikuti Yesus adalah menyangkal diri (tidak mendahulukan kepentingan sendiri, tetapi mendahulukan kepentingan orang lain/bersama), memanggul salibnya, dan mengikuti Yesus. Dalam memilih murid-murid-Nya, Yesus tidak pernah membeda-bedakan latar belakang orang. Dia memanggil mereka dari beragam profesi dan status.

Bukan Orang kaya dan mapan kehidupannya, bukan para pejabat atau penguasa, melainkan para nelayan, orang yang hidupnya sederhana bahkan cenderung berkekurangan, dan juga orang-orang yang dianggap berdosa. Peristiwa Yesus memanggil murid-Nya tetap berlangsung hingga sekarang. Yesus ingin memanggil semua orang untuk menjadi murid-Nya. Kita pun dipanggil untuk menjadi murid-Nya, untuk menjalani tugas sebagai partner Yesus dalam mewartakan kabar suka cita Kerajaan Allah. Dipanggil untuk hidup seperti para murid Yesus yang terdahulu, yang selalu dekat dan hidup bersama Yesus.

Bacalah  4 (empat) teks Kitab Suci berikut ini.

Mat 4: 18-22

18Dan ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. 19Yesus berkata kepada mereka, “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” 20Lalu mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. 21Dan setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya pula dua orang bersaudara, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka 22dan mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikuti Dia.

Mat  16: 24-26

24Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikuti Aku. 25Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. 26Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikatNya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya.”

Luk 5:27-32

27 Kemudian, ketika Yesus pergi ke luar, Ia melihat seorang pemungut cukai, yang bernama Lewi, sedang duduk di rumah cukai. Yesus berkata kepadanya: “Ikutlah Aku!” 28 Maka berdirilah Lewi dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia. 29 Dan Lewi mengadakan suatu perjamuan besar untuk Dia di rumahnya dan sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dengan Dia. 30Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya: “Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” 31 Lalu jawab Yesus kepada mereka, kata-Nya: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; 32 Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.”

Luk 9: 57-62

57Ketika Yesus dan murid-muridNya melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seorang di tengah jalan kepada Yesus, “Aku akan mengikuti Engkau, kemana saja Engkau pergi.” 58Yesus berkata kepadanya, “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” 59Lalu Ia berkata kepada seorang lain, “Ikutlah Aku!” Tetapi orang itu berkata, “Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku.” 60Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah dimana-mana.” 61Dan seorang lain lagi berkata, “Aku akan mengikuti Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku.” 62Tetapi Yesus berkata, “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.”

Pokok-pokok penegasan berikut ini:

  1. Yesus memanggil orang untuk turut ambil bagian dalam tugas perutusan- Nya yaitu mewartakan kabar keselamatan Kerajaan Allah.
  2. Sikap yang dituntut dari para murid adalah datang kepada Yesus, melihat dan memahami siapakah Yesus, apa maksud panggilan-Nya, dan tinggal bersama-sama dengan Yesus supaya dapat menjalin hubungan pribadi secara lebih mendalam dengan Yesus.
  3. Syarat-syarat mengikuti Yesus adalah menyangkal diri, memanggul salib-Nya, dan mengikuti Yesus.
  4. Kisah panggilan pada murid-murid-Nya selalu diawali dari Yesus. Dia yang mengambil inisiatif yang pertama.
  5. Reaksi murid yang dipanggil Yesus beragam. Ada yang menanggapi Yesus secara spontan, tidak ada sedikit pun keraguan dalam menanggapi panggilan Yesus. Ada pula murid yang masih ragu dan ingin menyelesaikan terlebih dahulu urusan duniawinya. Orang seperti ini tidak berkenan kepada Yesus.
  6. Sampai saat ini pun, Yesus masih memanggil banyak orang untuk menjadi murid-Nya, menjadi partner-Nya dalam mewartakan suka cita Kerajaan Allah.

YESUS MEWARTAKAN KERAJAAN ALLAH MELALUI TINDAKAN ATAU MUKJIZAT



Tujuan Pembelajaran

Peserta didik dapat memahami Karya Yesus dalam mewartakan Kerajaan Allah melalui mukjizat

Kosa kata / kata kunci/ Ayat yang perlu direnungkan

 “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau.” (Mat 9:22)

 Memahami kabar suka cita yang dirindukan oleh orang-orang yang menderita

Yesus hadir untuk mewartakan kabar suka cita Kerajaan Allah kepada semua umat manusia. Dalam mewartakan Kerajaan Allah tersebut, Yesus tidak hanya berkata- kata melalui perumpamaan. Yesus menampakkan Kerajaan Allah tersebut secara nyata melalui mukjizat-mukjizat-Nya.

Melalui mukjizat-mukjizat penyembuhan, pengusiran setan, menakhlukkan alam, bahkan menghidupkan orang yang mati, Yesus menginginkan agar kehadiran Kerajaan Allah benar-benar dirasakan oleh umat manusia. Dia juga ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa Dialah sang Mesias yang dinantikan.

Yesus tidak hanya menyampaikan kabar yang menggembirakan itu, tetapi haruslah dimengerti bahwa Dialah Kabar Gembira, ”Injil,” yang membawa keselamatan, rahmat, dan penyembuhan bagi manusia yang sengsara, menderita, dan terpinggirkan.Dengan mengerjakan mukjizat-mukjizat-Nya, Yesus tidak hanya mewartakan Kerajaan Allah, melainkan juga memperlihatkan kehadiran Kerajaan Allah. Dia ingin menghadirkan Kerajaan Allah itu secara nyata.

Memahami karya Yesus dalam mewartakan Kerajaan Allah melalui mukjizat

Bacalah teks Kitab Suci berikut ini.

Mat 9:18-35

18 Sementara Yesus berbicara demikian kepada mereka, datanglah seorang kepala rumah ibadat, lalu menyembah Dia dan berkata: “Anakku perempuan baru saja meninggal, tetapi datanglah dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, maka ia akan hidup.” 19 Lalu Yesus pun bangunlah dan mengikuti orang itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya. 20 Pada waktu itu seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan maju mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya. 21 Karena katanya dalam hatinya: “Asal kujamah saja jubah- Nya, aku akan sembuh.” 22 Tetapi Yesus berpaling dan memandang dia serta berkata: “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau.” Maka sejak saat itu sembuhlah perempuan itu. 23 Ketika Yesus tiba di rumah kepala rumah ibadat itu dan melihat peniup- peniup seruling dan orang banyak ribut, 24 berkatalah Ia: “Pergilah, karena anak ini tidak mati, tetapi tidur.” Tetapi mereka menertawakan Dia. 25 Setelah orang banyak itu diusir, Yesus masuk dan memegang tangan anak itu, lalu bangkitlah anak itu. 26 Maka tersiarlah kabar tentang hal itu ke seluruh daerah itu. 27 Ketika Yesus meneruskan perjalanan-Nya dari sana, dua orang buta mengikuti-Nya sambil berseru-seru dan berkata: “Kasihanilah kami, hai Anak Daud.” 28 Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepada-Nya dan Yesus berkata kepada mereka: “Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?” Mereka menjawab: “Ya Tuhan, kami percaya.” 29 Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: “Jadilah kepadamu menurut imanmu.” 30 Maka meleklah mata mereka. Dan Yesus pun dengan tegas berpesan kepada mereka, kata-Nya: “Jagalah supaya jangan seorang pun mengetahui hal ini.” 31 Tetapi mereka keluar dan memasyhurkan Dia ke seluruh daerah itu. 32 Sedang kedua orang buta itu keluar, dibawalah kepada Yesus seorang bisu yang kerasukan setan. 33 Dan setelah setan itu diusir, dapatlah orang bisu itu berkata-kata. Maka heranlah orang banyak, katanya: “Yang demikian belum pernah dilihat orang di Israel.” 34 Tetapi orang Farisi berkata: “Dengan kuasa penghulu setan Ia mengusir setan.” 35 Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan.

Pokok-pokok penegasan sebagai berikut:

Yesus tidak hanya mewartakan Kerajaan Allah melalui kata-kata (perumpamaan), melainkan Ia ingin mewujudkan Kerajaan Allah melalui tindakan mukjizat-Nya.

Yesus mewartakan Kerajaan Allah dengan mukjizat karena: 

  • Yesus ingin mewujudkan Kerajaan Allah itu melalui tindakan-Nya terlebih melalui mukjizat yang dilakukan-Nya. Kerajaan Allah adalah situasi ketika semua orang dikasihi Allah, tidak tersekat-sekat oleh jurang antara kaya dan miskin. Yesus menunjukkan hal itu dengan bergaul dengan siapa saja, terutama dengan mereka yang miskin dan berdosa, yang selama ini disingkirkan oleh masyarakat. 
  • Yesus ingin memperlihatkan secara nyata kehadiran Kerajaan Allah dan sekaligus ingin menyampaikan bahwa Dia sendirilah Mesias yang dinantikan itu. Ia sendirilah Kabar Gembira, ”Injil,” keselamatan, rahmat, dan penyembuhan bagi manusia yang sedang susah.

Contoh mukjizat Yesus:

  • Mukjizat penyembuhan: a. Yesus menyembuhkan orang kusta (Luk. 17:12-21) b. Yesus menyembuhkan orang buta (Mat. 9:27-38) c. Yesus menyembuhkan orang lumpuh (Mat. 9:2-8) l Mukjizat pengusiran setan: d. Yesus mengusir setan yang merasuki seseorang (Mat. 8:28-32) l Mukjizat menaklukkan alam e. Yesus meredakan angin ribut (Mat 8:23-27) f. Yesus berjalan di atas air (Mat 14:23-33) 
  • Mukjizat membangkitkan a. Yesus membangkitkan pemuda di Nain (Luk. 7:11-17) b. Yesus membangkitkan Lazarus (Yoh 11:1-48)

Sebagai murid Yesus, kita harus mampu meneladani yang telah dilakukan- Nya, yaitu turut mewartakan kabar suka cita pada orang lain dengan tindakan kasih kita pada sesama, terlebih sesama yang menderita.

YESUS MEWARTAKAN KERAJAAN ALLAH MELALUI PERUMPAMAAN



Tujuan Pembelajaran

Peserta didik dapat memahami Karya Yesus dalam mewartakan Kerajaan Allah melalui perumpamaan 

Kosa kata / kata kunci/ Ayat yang perlu direnungkan

 “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu…” Mat 6:23

Memahami Kerajaan Allah yang diwartakan oleh Yesus

Bagi Yesus, pewartaan Kerajaan Allah adalah pewartaan tentang kerahiman Allah. Oleh karena itu, Kerajaan Allah merupakan warta pengharapan. Kerajaan Allah berarti Allah turun tangan untuk menyelamatkan, untuk membebaskan dunia secara total dari kuasa kejahatan (lih. Luk 10:18)

Yesus datang untuk menyatakan Kerajaan Allah kepada semua orang. Yesus berharap agar pewartaan Kerajaan Allah dapat terjangkau kepada seluruh lapisan masyarakat atau umat pada zaman dahulu hingga sekarang.

Oleh karena itu, dalam mewartakan Kerajaan Allah, Yesus menggunakan cara-cara yang mudah untuk dipahami atau dimengerti oleh banyak umat. Agar pewartaan-Nya tentang Kerajaan Allah menjadi lebih mudah dipahami dan menyentuh pada sendi-sendi kehidupan umat di zaman itu, Yesus menggunakan perumpamaan-perumpamaan yang dekat dengan kehidupan umat.

Yesus juga menyesuaikan pewartaan-Nya dengan umat yang mendengarkan Dia. Jika umat yang datang, berasal dari kelompok petani, maka perumpamaan- perumpamaan yang digunakan Yesus berkaitan dengan keseharian yang dilakukan dan dialami para petani. Misalnya, perumpamaan tentang penabur, perumpamaan tentang biji sesawi, perumpamaan tentang membajak sawah, perumpamaan tentang ilalang di antara gandum dan sebagainya.

Apa yang diharapkan oleh Yesus dengan perumpamaan? Tentunya agar semakin banyak orang mendengar dan mengerti pewartaan-Nya. Seperti yang pernah Yesus serukan setelah menyampaikan perumpamaan, “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar.” (Mat 13:45)

Memahami Kerajaan Allah yang diwartakan Yesus dan cara Yesus mewartakan Kerajaan Allah

Bacalah membaca 6 (enam) teks Kitab Suci berikut:

Carilah dahulu Kerajaan Allah (Mat 6:25-34)

25 Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang   hendak  kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa   yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh itu lebih penting daripada pakaian? 26 Pandanglah burung-burung di langit yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? 27 Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? 28 dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Pandanglah bunga-bunga di ladang yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal. 29 Namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. 30 Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih mendandani kamu, hai kamu orang yang kurang percaya? 31 Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kamu makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? 32 Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu bahwa kamu memerlukan semuanya itu. 33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. 34 Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari esok, karena hari besok mempnyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.

Perumpamaan Tentang Lalang Di antara Gandum (Mat 13:24-30)

24 Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata- Nya: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya.  25 Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi. 26 Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu. 27Maka datanglah hamba-hamba tuan ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Dari manakah lalang itu?  28 Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hambahamba itu kepadanya: Jadi maukah tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu? 29 Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. 30 Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkasberkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.”

Perumpamaan tentang Harta Terpendam dan Mutiara Berharga (Mat 13:44-46)

44 “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu. 45 Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. 46 Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.”

Perumpamaan Tentang Pukat (Mat 13:47-50)

47 “Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama pukat yang dilabuhkan di laut, lalu mengumpulkan berbagai-bagai jenis ikan. 48Setelah penuh, pukat itu pun diseret orang ke pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam pasu dan ikan yang tidak baik mereka buang. 49 Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar, 50 lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi”.

Perumpamaan Seorang Penabur (Mrk 4:3-8,13-20)

3 “Dengarlah! Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. 4 Pada waktu ia menabur sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. 5 Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. 6 Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. 7 Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati, sehingga ia tidak berbuah. 8 Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, ia tumbuh dengan suburnya dan berbuah, hasilnya ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang seratus kali lipat.” 13 Lalu Ia berkata kepada mereka: “Tidakkah kamu mengerti perumpamaan ini? Kalau demikian bagaimana kamu dapat memahami semua perumpamaan yang lain? 14 Penabur itu menaburkan firman. 15Orang-orang yang di pinggir jalan, tempat firman itu ditaburkan, ialah mereka yang mendengar firman, lalu datanglah Iblis dan mengambil firman yang baru ditaburkan di dalam mereka. 16 Demikian juga yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, ialah orang-orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira, 17tetapi mereka tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila kemudian dating penindasan atau penganiayaan karena firman itu, mereka segera murtad. 18 Dan yang lain ialah yang ditaburkan di tengah semak duri, itulah yang mendengar firman itu, 19 lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. 20 Dan akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat.”

Perumpamaan Tentang Benih yang Tumbuh (Mrk 4:26-29)

26 Lalu kata Yesus: “Beginilah hal Kerajaan Allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, 27 lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. 28Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir- butir yang penuh isinya dalam bulir itu. 29Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba.”

Penjelasan beberapa perumpamaan yang digunakan oleh Yesus dalam mewartakan Kerajaan Allah, antara lain:

  1. Perumpamaan tentang seorang penabur.  Dengan perumpamaan ini, Yesus ingin menyampaikan bahwa dalam melaksanakan karya pewartaan tentang Kerajaan Allah, betapa pun dibayangi oleh kegagalan, pada akhirnya akan menghasilkan buah yang berlimpah, melebihi apa yang diperkirakan manusia. Oleh karena itu, sepantasnya kita tidak perlu khawatir.
  2. Perumpamaan tentang ilalang di antara gandum. Yesus bermaksud mengatakan bahwa tegaknya Kerajaan Allah justru terjadi bila yang baik dan yang jahat bisa hidup bersama dan dengan penuh kesabaran serta kasih mendorong yang jahat menjadi baik.
  3. Perumpamaan tentang mutiara dan harta yang terpendam. Kerajaan Allah dipandang sebagai harta yang sangat berharga. Orang yang menyambut Kerajaan Allah akan berani meninggalkan segala miliknya demi Kerajaan Allah.
  4. Perumpamaan tentang benih yang tumbuh. Kerajaan Allah itu seperti benih yang ditaburkan, ia akan tumbuh sendiri. Petani yang menabur pun tidak tahu kapan benih itu mulai bertunas, atau kapan akan ke luar bunga, dan kapan persisnya buah terbentuk. Demikian jugalah dengan tumbuhnya Kerajaan Allah. Kita tidak bisa mengamati secara pasti, tergantung sepenuhnya pada Allah, bukan usaha manusia.

YESUS PEMENUHAN JANJI ALLAH



Tujuan Pembelajaran

Peserta didik dapat memahami  bahwa sejak awal Allah menjanjikan Juru Selamat yang terpenuhi pada diri Yesus Kristus yang sungguh manusia dan sungguh Allah

Kosa kata / kata kunci/ Ayat yang perlu direnungkan

“Aku dan Bapa adalah satu” Yoh 10:30

Menggali pengalaman hidup tentang janji

Ada berbagai macam alasan seseorang mau mengungkapkan suatu janji, misalnya karena rasa cinta, ingin membahagiakan orang lain, ingin mewujudkan suatu cita-cita, atau karena rasa tanggung jawab, dan lain sebagainya

Konsekuensi dari sebuah janji adalah harus menepati janji tersebut, meskipun memerlukan suatu pengorbanan.

Janji yang terwujud akan membahagiakan diri orang yang berjanji, orang yang diberi janji, juga membahagiakan orang lain. Sebaliknya, janji yang tidak ditepati akan merugikan diri sendiri, orang yang diberi janji, dan juga orang lain.

Menggali inspirasi dari Kitab Suci tentang makna janji

Bacalah perikop Kitab Suci berikut ini:

Kej 3:8-15

8 Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan- jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman. 9Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: “Di manakah engkau?” 10Ia menjawab: “Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.” 11Firman-Nya: “Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?” 12Manusia itu menjawab: “Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.” 13Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: “Apakah yang telah kauperbuat ini?” Jawab perempuan itu: “Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan.” 14Lalu berfirmanlah TUHAN Allah kepada ular itu: “Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu. 15Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.

Yes 7:10-14

10 TUHAN melanjutkan firman-Nya kepada Ahas, kata-Nya: 11 “Mintalah suatu pertanda dari TUHAN, Allahmu, biarlah itu sesuatu dari dunia orang mati yang paling bawah atau sesuatu dari tempat tertinggi yang di atas.” 12 Tetapi Ahas menjawab: “Aku tidak mau meminta, aku tidak mau mencobai TUHAN.” 13 Lalu berkatalah nabi Yesaya: “Baiklah dengarkan, hai keluarga Daud! Belum cukupkah kamu melelahkan orang, sehingga kamu melelahkan Allahku juga? 14 Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel

Luk 2:1-20

1Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia. 2 Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria. 3Maka pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri. 4 Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem, -- karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud -- 5supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya, yang sedang mengandung. 6 Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, 7dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan. 8 Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. 9 Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. 10 Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: 11 Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. 12 Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” 13 Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: 14 “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” 15 Setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan kembali ke sorga, gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain: “Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita.” 16 Lalu mereka cepat- cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. 17 Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. 18 Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. 19 Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.20 Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.

Yoh 10:24-30

24 Maka orang-orang Yahudi mengelilingi Dia dan berkata kepada-Nya: “Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan? Jikalau Engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada kami.” 25 Yesus menjawab mereka: “Aku telah mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya; pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama Bapa-Ku, itulah yang memberikan kesaksian tentang Aku, 26 tetapi kamu tidak percaya, karena kamu tidak termasuk domba-domba-Ku. 27Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, 28 dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. 29 Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapa pun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa. 30Aku dan Bapa adalah satu.

Penegasan dengan pokok-pokok sebagai berikut:

  • Akibat dosa yang dilakukannya, Adam dan Hawa diusir dari taman Firdaus. Dalam perjalanan selanjutnya, Allah prihatin atas kedosaan Adam dan Hawa serta keturunannya, sehingga Allah menjanjikan juru selamat.
  • Pernyataan dalam kitab Suci yang menunjukkan janji Allah akan hadirnya juru selamat, antara lain: l Yes 7:14, “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel”
  • Janji Allah telah terpenuhi dalam diri Yesus Kristus yang turun ke dunia dalam wujud manusia, untuk menebus dosa-dosa manusia.

Yesus yang merupakan pemenuhan janji Allah tersebut, hadir dalam wujud manusia dengan ciri-ciri selayaknya manusia, seperti:

  • Yesus memiliki silsilah dalam keluarganya, yang berarti Yesus hidup dalam sejarah manusia, nenek moyang Yesus adalah Abraham (Mat  1:1-17),
  • Yesus dilahirkan dari rahim Ibu Maria (Luk 2: 1-7),
  • Yesus berjenis kelamin laki-laki (Luk 2:1-7), 
  • Yesus mencari nafkah dengan ikut membantu orang tuanya yang bekerja sebagai tukang kayu (Mrk 6:3),
  • Yesus juga mengalami pengalaman yang dirasakan oleh manusia, seperti lapar dan haus ketika berpuasa (Mat 4:2), mengalami rasa sedih (Mrk 14:34), juga pernah marah (Luk 19:45) tetapi juga pernah merasa takut (Luk 22:42-44), dan bahkan mengalami sengsara dan wafat seperti manusia yang lain (Mat 27:27-50).

Beberapa hal yang menunjukkan Yesus benar-benar Allah yang turun ke dunia, yaitu:

  • Injil Yohanes menyebut Yesus itu adalah Firman yang menjadi manusia (Yoh 1:1.14),
  • Pada waktu kelahiran Yesus, para malaikat menyatakan, “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (Luk 2: 10-11), para bala tentara surga juga memuji Allah, “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepadaNya” (Luk 2:13-14). l Bukti bahwa Yesus adalah Allah juga tampak pada sabda Yesus sendiri yang menyatakan, “Aku dan Bapa adalah satu.” (Yoh 10:30); “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa.” (Yoh 14:9); “Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku.” (Yoh 14:11).
  • Keilahian Yesus juga tampak pada peristiwa mukjizat-mukjizat-Nya, seperti mengubah air menjadi anggur (Yoh 2:8-9), menggandakan lima roti dan dua ikan (Mat 14:15-21), menyembuhkan orang buta (Mat 20: 29-34), membangkitkan orang mati (Luk 7:11-16).
  • Keilahian Yesus juga dapat dilihat dari peristiwa kebangkitan-Nya dari kematian (Mat 28: 1-10) dan kenaikan-Nya ke surga (Luk 24: 50-53).
  • Keilahian Yesus juga dapat kita ketahui dari pernyataan para Murid Yesus sendiri. Ketika Yesus bertanya, “Apa katamu, siapakah Aku ini?” Simon Petrus menjawab, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat 16:15-16). Ketika Yesus meminta Thomas mencucukkan jarinya ke luka Yesus, Tomas berkata, “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yoh 20:28).
  • Keilahian Yesus juga dapat kita temukan dari pernyataan roh-roh jahat yang berteriak, “Engkaulah Anak Allah.” (Mrk 3:11).

Berdasar kenyataan tentang ciri kemanusiaan dan keilahian Yesus, maka dapatlah dengan berani kita menyatakan bahwa Yesus sungguh Allah dan sungguh manusia. Kemanusiaan Yesus tidak menghapus ke-Allahan-Nya.

KEBEBASAN ANAK-ANAK ALLAH


Tujuan Pembelajaran

Peserta didik mampu memahami  arti kebebasan yang sejati sebagai anak Allah sehingga mereka dapat mengekspresikan kebebasan itu untuk melakukan hal-hal yang baik dalam kehidupan sehari-hari.

Kosa kata / kata kunci/ Ayat yang perlu diingat

Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu menggunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. (Gal 5:13)

Menggali Pengalaman tentang Kebebasan

Sejak dari dalam kandungan, manusia memiliki hak asasi dan berhak menentukan sikap dan tindakannya dengan penuh kebebasan. Setiap orang harus menghargai hak asasi orang lain agar tidak terjadi gesekan atau kesalahpahaman yang dapat menimbulkan perpecahan antarsesama.

Sering kali banyak orang mengartikan kebebasan secara salah. Kebebasan diartikan secara sempit, misalnya ”tidak  terikat” Pengertian kebebasan yang sempit ini sering diartikan ”boleh bertindak atau berbuat apa pun.”

Masih ada orang yang menganggap bahwa aturan yang dibuat oleh masyarakat itu sebagai pengekang kebebasan mereka, padahal aturan itu dibuat untuk menjamin agar setiap orang mampu melakukan kebebasannya itu secara bertanggung jawab dengan tidak melanggar kebebasan orang lain.

Bebas itu mengandung dua makna, yaitu bebas dari dan bebas untuk. Kita bisa bebas dari berbagai hal yang tidak menyenangkan atau yang merugikan, tetapi juga kita memiliki kebebasan untuk melakukan segala sesuai sesuai dengan aturan yang berlaku.

Menggali Inspirasi dalam Dokumen Gereja dan Kitab Suci tentang Kebebasan Anak-anak Allah

Bacalah Dokumen Gereja dan teks Kitab Suci berikut ini:

Keluhuran Kebebasan (Gaudium et Spes art 17)

Adapun manusia hanya dapat berpaling kepada kebaikan bila ia bebas. Kebebasan itu oleh orang-orang zaman sekarang sangat dihargai serta dicari penuh semangat, dan memang tepatlah begitu. Tetapi sering pula orang-orang mendukung kebebasan dengan cara yang salah, dan mengartikannya sebagai kesewenang-wenangan untuk berbuat apa pun sesuka hatinya, juga kejahatan. Sedangkan kebebasan yang sejati merupakan tanda yang mulia gambar Allah dalam diri manusia. Sebab Allah bermaksud menyerahkan manusia kepada keputusannya sendiri, supaya ia dengan sukarela mencari Penciptanya, dan dengan mengabdi kepada-Nya secara bebas mencapai kesempurnaan sepenuhnya yang membahagiakan. Maka martabat manusia menuntut, supaya ia bertindak menurut pilihannya yang sadar dan bebas, artinya: digerakkan dan di dorong secara pribadi dari dalam, dan bukan karena rangsangan hati yang buta, atau semata-mata paksaan dari luar. Adapun manusia mencapai martabat itu, bila ia membebaskan diri dari segala penawanan nafsu-nafsu, mengejar tujuannya dengan secara bebas memilih apa yang baik, serta dengan tepat-guna dan jerih-payah yang tekun mengusahakan sarana-sarananya yang memadai. Kebebasan manusia terluka oleh dosa; maka hanya berkat bantuan rahmat Allah mampu mewujudkan secara konkrit nyata arah-gerak hatinya kepada Allah. Adapun setiap orang harus mempertanggungjawabkan perihidupnya sendiri di hadapan takhta pengadilan Allah, sesuai dengan perbuatannya yang baik maupun yang jahat.

Galatia 5:1,13-15

1 Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu, berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan. 13Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu menggunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. 14Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu irman ini, yaitu: “Kasihilah sesama manusia seperti dirimu sendiri!” 15Tetapi jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya jangan kamu saling membinasakan.

Pokok-pokok penegasan sebagai berikut:

  1. Kebebasan yang sejati merupakan tanda mulia gambar Allah dalam diri manusia. Sebab Allah bermaksud menyerahkan manusia kepada keputusannya sendiri, supaya ia dengan sukarela mencari Penciptanya, dan dengan mengabdi kepada-Nya secara bebas, manusia mencapai kesempurnaan sepenuhnya yang membahagiakan.
  2. Manusia hendaknya membebaskan diri dari segala tawaran hawa nafsu dan mengejar tujuannya secara bebas dengan memilih yang terbaik untuk dirinya.
  3. Berkat sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus, kita adalah orang-orang yang telah dibebaskan, maka sudah sepatutnyalah kita pun diajak untuk membebaskan sesama, bukan bertindak sebaliknya, menggunakan kebebasan yang sudah diberikan untuk hal-hal yang tidak berguna (Gal 5: 13).
  4. Tetapi janganlah kamu menggunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk hidup dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain dengan penuh kasih.
  5. Pandangan gereja tentang kebebasan mengandung dua segi yang tidak dapat dipisahkan yaitu: manusia memang harus bebas dari hal-hal yang mengekang dan menghambat seseorang untuk berkembang dan mengaktualisasikan dirinya (bebas dari), manusia juga harus bebas untuk melakukan segala sesuatu yang baik dan benar dalam upaya membawa dirinya menuju kesempurnaan (bebas untuk).

Sorotan

KUMPULAN SOAL

 KELAS 7 (bab III) Soal Pilihan Ganda HOTS: Peran Keluarga bagi Perkembanganku 1. Mengapa peran keluarga sangat penting dalam perkembangan ...